Liput – 10 April 2026 | Liverpool kembali terpuruk setelah leg pertama perempat final Liga Champions 2025/2026 berakhir dengan skor 0-2 di Parc des Princes melawan Paris Saint-Germain. Kekalahan yang menambah deretan hasil negatif The Reds ini menimbulkan gelombang kritik tajam, terutama terhadap keputusan taktis manajer asal Belanda, Arne Slot, yang menurunkan formasi lima bek pada laga krusial tersebut.
Sejak peluit pertama, PSG menguasai permainan dengan intensitas tinggi. Dua gol yang memecah kebuntuan datang dari Desire Doué dan Khvicha Kvaratskhelia, masing-masing pada menit ke-23 dan menit ke-68. Penyerangan cepat PSG memanfaatkan ruang yang diciptakan oleh lini belakang Liverpool yang terpaksa tersebar lebar untuk menutup tiga bek tengah—Joe Gomez, Ibrahima Konaté, dan Virgil van Dijk—serta dua bek sayap, Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong. Kekosongan ini membuat para penyerang PSG menemukan celah, sementara kiper Giorgi Mamardashvili berhasil melakukan beberapa penyelamatan penting, sehingga Liverpool tidak menerima gol tambahan.
Formasi lima bek yang diadopsi Slot sebenarnya dirancang untuk menambah keamanan defensif, namun dalam praktiknya justru menimbulkan kerentanan. Mantan penjaga gawang timnas Inggris, Paul Robinson, menilai strategi tersebut sebagai “sinyal menyerah sejak awal”. Ia menambahkan, “Dengan lima bek, tim kehilangan struktur tradisional yang membuat mereka mudah terpecah-pecah ketika harus menekan ke depan”.
Kritik paling keras datang dari legenda Liverpool, Jamie Carragher, yang menyebut formasi tersebut “sangat salah”. Dalam sebuah wawancara di CBS Sports, Carragher menegaskan bahwa tiga bek tengah harus menutup lebar lapangan, dan hal ini memaksa Virgil van Dijk—yang kini berusia 34 tahun—untuk menutupi celah yang diciptakan oleh rekan satu baris, Ibrahima Konaté, yang menurut Carragher tampil buruk sepanjang musim. “Saya belum pernah melihat Van Dijk merasa tidak nyaman seperti malam ini,” ujarnya. Carragher menambahkan, “Pengeluaran £450 juta di bursa transfer musim panas tak sebanding dengan kualitas yang ditunjukkan di lapangan melawan PSG.”
Steven Gerrard juga menyoroti kesalahan defensif Liverpool. Ia menilai bahwa tim gagal menjaga struktur sejak fase awal pertahanan. “Mereka seharusnya lebih solid di sekitar garis tengah,” kata Gerrard kepada TNT Sport. “Konaté seharusnya memenangkan duel, tetapi ia terus membuat kesalahan yang mengganggu ritme pertahanan.” Gerrard menekankan bahwa Liverpool memiliki pemain yang cukup untuk menekan PSG, namun kurangnya koordinasi membuat ruang terbuka bagi lawan.
Di sisi lain, Arne Slot tetap optimis menjelang leg kedua di Anfield. Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, ia menegaskan pentingnya dukungan suporter Anfield untuk mengembalikan momentum tim. “Atmosfer di Anfield selalu menjadi faktor penentu, dan kami akan memanfaatkan energi itu untuk menutup defisit dua gol,” ujarnya. Slot juga menjelaskan mengapa Mohamed Salah tidak dimainkan pada leg pertama. Menurutnya, menjaga energi pemain kunci untuk pertandingan-pertandingan mendatang menjadi prioritas, mengingat Liverpool harus bertahan selama 20‑25 menit di dalam kotak penalti pada laga pertama.
Keputusan menahan Salah ternyata menjadi bahan perbincangan. Mohamed Salah sendiri tampak frustrasi ketika muncul sebentar di siaran televisi pasca-pertandingan, namun tidak diberikan kesempatan bermain. Legenda Liverpool, Steven Gerrard, menyatakan simpati kepada Salah, mengingatkan bahwa pemain tersebut tetap menunjukkan profesionalisme dengan tetap berlatih keras. Slot menjelaskan, “Kami berada dalam mode bertahan hidup, bukan menyerang, sehingga menahan Salah menjadi pilihan taktis untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.”
Dengan hasil 0-2, Liverpool kini harus mengejar selisih dua gol di Anfield. Statistik menunjukkan penguasaan bola hanya 26 persen dan tidak ada tembakan tepat sasaran pada leg pertama, catatan terburuk sejak November 2020. Tekanan kini tidak hanya datang dari lawan, tetapi juga dari para pendukung yang menuntut perubahan drastis pada taktik. Beberapa analis berpendapat bahwa kembali ke formasi tradisional 4‑3‑3 atau setidaknya memperkuat lini tengah dapat memperbaiki keseimbangan antara pertahanan dan serangan.
Leg kedua dijadwalkan pada Selasa depan. Jika Liverpool berhasil mengubah strategi dan menurunkan pemain kunci seperti Salah, mereka berpotensi memperkecil defisit. Namun, jika formasi defensif yang sama dipertahankan, risiko kebobolan kembali tetap tinggi. Semua mata kini tertuju pada keputusan Arne Slot dan kemampuan tim untuk bangkit di stadion ikonik Anfield.