Liput – 06 April 2026 | Ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasokan energi global akhir-akhir ini meningkatkan kepedulian konsumen Indonesia terhadap biaya operasional kendaraan. Di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), perbandingan antara mobil listrik murah seperti BYD Atto 1 dan mobil berbahan bakar bensin berkelas Low Cost Green Car (LCGC) seperti Toyota Agya menjadi sorotan utama. Analisis mendalam ini mengungkap bahwa selisih biaya operasional antara kedua tipe kendaraan dapat melampaui puluhan juta rupiah dalam kurun waktu lima tahun.
Berbicara tentang konsumsi energi, BYD Atto 1 mencatat rata-rata 11,4 kWh per 100 km. Dengan harga listrik rata-rata nasional sekitar Rp1.500 per kWh, biaya listrik untuk menempuh 100 km hanya sekitar Rp17.100. Sementara itu, Toyota Agya dengan mesin bensin 1.0 liter memiliki konsumsi bahan bakar sekitar 6,0 liter per 100 km. Dengan harga BBM rata-rata Rp15.000 per liter, biaya bahan bakar untuk 100 km mencapai Rp90.000. Selisih biaya per kilometer antara keduanya mencapai hampir Rp7.300, yang bila dikalikan pada jarak tempuh tahunan rata-rata 15.000 km, menghasilkan selisih tahunan sekitar Rp109,5 juta.
| Parameter | BYD Atto 1 (Listrik) | Toyota Agya (Bensin) |
|---|---|---|
| Harga Kendaraan (Rp) | 299.900.000 | 115.000.000 (perkiraan) |
| Konsumsi Energi | 11,4 kWh/100 km | 6,0 L/100 km |
| Biaya Energi per 100 km | Rp17.100 | Rp90.000 |
| Biaya Operasional Tahunan (15.000 km) | Rp2.565.000 | Rp13.500.000 |
| Selisih Tahunan | Rp10.935.000 | |
Selain biaya energi, faktor pemeliharaan juga berperan penting. Mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen mekanik yang dapat aus, sehingga biaya perawatan rutin (ganti oli, filter, dan suku cadang utama) dapat ditekan hingga 60-70% dibandingkan mobil berbahan bakar bensin. Menurut data industri, rata-rata biaya servis tahunan Agya berkisar Rp2,5 juta, sedangkan Atto 1 hanya sekitar Rp0,8 juta.
Jika menghitung total biaya kepemilikan selama lima tahun, termasuk depresiasi, asuransi, pajak, serta biaya energi dan pemeliharaan, selisihnya menjadi sangat signifikan. Berikut perkiraan total biaya selama lima tahun:
- BYD Atto 1: Harga kendaraan Rp299,9 juta + depresiasi 30% (Rp89,97 juta) + asuransi tahunan Rp3,5 juta (total Rp17,5 juta) + pajak tahunan Rp1,2 juta (total Rp6 juta) + energi Rp12,8 juta + pemeliharaan Rp4 juta = sekitar Rp430,2 juta.
- Toyota Agya: Harga kendaraan Rp115 juta + depresiasi 35% (Rp40,25 juta) + asuransi tahunan Rp2,5 juta (total Rp12,5 juta) + pajak tahunan Rp0,9 juta (total Rp4,5 juta) + bahan bakar Rp67,5 juta + pemeliharaan Rp12,5 juta = sekitar Rp252,3 juta.
Meskipun total biaya kepemilikan Agya lebih rendah, perhitungan di atas tidak memperhitungkan faktor eksternal seperti kenaikan harga BBM yang dapat melampaui 20% dalam satu dekade, serta potensi insentif pemerintah untuk kendaraan listrik (subsidi, pembebasan pajak). Jika harga listrik tetap stabil atau bahkan turun karena peningkatan kapasitas energi terbarukan, selisih biaya operasional dapat semakin melebar, mencapai puluhan juta rupiah per tahun.
Di sisi lain, adopsi mobil listrik masih dihadapkan pada tantangan infrastruktur pengisian daya. Namun, pemerintah Indonesia terus mempercepat pembangunan jaringan charging station, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Program konversi motor bensin ke listrik yang didukung oleh perusahaan seperti Polytron juga menambah optimismenya.
Kesimpulannya, bagi konsumen yang menekankan efisiensi biaya operasional jangka panjang, mobil listrik seperti BYD Atto 1 menawarkan keuntungan finansial yang signifikan, meskipun investasi awalnya lebih tinggi. Sementara itu, Toyota Agya tetap menjadi pilihan pragmatis bagi mereka yang mengutamakan harga beli rendah dan keandalan jaringan bahan bakar yang sudah ada. Pilihan akhir tetap bergantung pada profil penggunaan, ekspektasi harga energi, serta kesiapan infrastruktur listrik di wilayah masing‑masing.