Liput – 09 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Pemerintah Indonesia secara resmi mengalihkan sumber impor minyak dan LPG yang sebelumnya sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah ke sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, Afrika, serta beberapa negara di Asia dan ASEAN. Langkah ini diambil sebagai respons atas ketegangan di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu pasokan energi nasional.
Dalam rapat dengan Komisi XII DPR, Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, menjelaskan bahwa negara‑negara alternatif mencakup Amerika, negara‑negara Afrika seperti Angola dan Nigeria, serta sejumlah negara Asia dan anggota ASEAN. Ia menekankan bahwa alih sumber ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi dan mengurangi risiko terganggunya impor akibat gejolak geopolitik.
Selain mengalihkan sumber impor, pemerintah juga mengeluarkan Surat Pengaturan dari Ditjen Migas dan BPH Migas yang menegaskan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG secara wajar serta mengutamakan pasokan dalam negeri. Seluruh K3S (Konsumen Kebutuhan Strategis) diminta memprioritaskan kebutuhan domestik sebelum mengekspor. Kilang‑kilang LPG swasta diberi instruksi untuk menawarkan produksi pertama kepada Pertamina Patra Niaga, sehingga LPG yang sebelumnya dialokasikan untuk industri dapat dialihkan ke kebutuhan rumah tangga 3 kg.
Menanggapi langkah‑langkah tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa stok LPG nasional telah kembali stabil di atas ambang batas aman, yaitu lebih dari sepuluh hari. “Masa sulit untuk LPG sudah kita lewati sejak 4 April. Alhamdulillah, cadangan LPG kini berada di atas 10 hari,” ujarnya dalam taklimat presiden di Istana Kepresidenan.
Bahlil menambahkan bahwa pemerintah tidak lagi melakukan impor solar; impor energi kini difokuskan pada bensin dengan volume sekitar 20‑22 juta kiloliter. “Sebentar lagi kapal kita masuk dan solar tidak kita lakukan impor, yang kita lakukan itu tinggal bensin saja,” tegasnya. Dari sisi minyak mentah, impor dari Timur Tengah kini hanya menyumbang sekitar 20‑25 % dan telah digantikan oleh pasokan dari Angola, Nigeria, Amerika Serikat, serta negara‑negara lain di luar kawasan tersebut.
Diversifikasi ini tidak hanya meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga memberikan ruang bagi penyesuaian kebijakan harga BBM dan LPG. Pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina serta pelaku swasta untuk memastikan harga tetap terjaga, sementara cadangan strategis dipertahankan agar dapat menutupi permintaan selama setidaknya sepuluh hari ke depan. Upaya optimalisasi operasional kilang dalam negeri juga terus dipercepat, termasuk peningkatan kapasitas produksi LPG domestik.
Secara keseluruhan, strategi alih sumber impor dan penguatan cadangan LPG diharapkan dapat menstabilkan pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pemerintah menegaskan komitmen untuk terus memantau situasi di Selat Hormuz dan memastikan bahwa langkah-langkah mitigasi dapat diimplementasikan secara cepat jika diperlukan, sehingga masyarakat tidak merasakan gangguan pasokan energi dalam jangka pendek maupun menengah.