RLCO Masuk Daftar Saham Berkonsentrasi Tinggi, IHSG Turun; Analyst Advise Hold Amid Volatilitas

Liput – 07 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan 0,79% pada sesi perdagangan Senin (6 April 2026), dengan tiga saham bernilai tinggi, yaitu BREN, RLCO, dan MGLV, masuk dalam kelompok “Top Losers”. Penurunan RLCO paling tajam, melambat 13,82% dan menutup pada Rp5.300 per lembar, menandai penurunan hampir 850 poin dalam satu sesi.

Langkah terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkenalkan daftar sembilan emiten yang memiliki konsentrasi kepemilikan saham tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) per 2 April 2026. Daftar tersebut mencakup PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Lima Dua Lima Tiga (LUCY). Persentase kepemilikan oleh pemegang saham tertentu melampaui 95% untuk semua emiten, dengan RLCO berada pada level 95,35%.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa RLCO berada di posisi rentan. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai bahwa kapitalisasi pasar RLCO yang masih kecil berpengaruh pada likuiditas dan membuat pergerakan harga lebih mudah tertekan. Ia memperkirakan potensi penurunan lebih lanjut hingga level Rp5.050, terutama setelah terbentuk pola bearish candlestick pada perdagangan terakhir.

Berbeda dengan BREN yang secara fundamental masih kuat, atau DSSA yang sedang menyiapkan aksi stock split untuk meningkatkan likuiditas, RLCO belum memiliki katalis serupa. Sebaliknya, ekspektasi pasar sempat memuncak setelah spekulasi bahwa harga saham dapat melambung dari harga IPO Rp200 menjadi Rp80.000, namun realita pasar menunjukkan volatilitas tinggi dan penurunan tajam.

Berikut ringkasan singkat mengenai sembilan emiten HSC yang dirilis BEI:

  • BREN – 97,31% kepemilikan terpusat
  • DSSA – 95,76% kepemilikan terpusat
  • RLCO – 95,35% kepemilikan terpusat
  • ROCK – 99,85% kepemilikan terpusat
  • MGLV – 95,94% kepemilikan terpusat
  • IFSH – 99,77% kepemilikan terpusat
  • SOTS – 98,35% kepemilikan terpusat
  • AGII – 97,75% kepemilikan terpusat
  • LUCY – 95,47% kepemilikan terpusat

BEI menegaskan alasan tidak mengungkap identitas pemegang saham pada daftar HSC. Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa metode penghitungan konsentrasi kepemilikan bersifat sensitif dan mirip dengan praktik di Bursa Hong Kong. Menurutnya, keterbukaan penuh dapat membuka peluang manipulasi data, sehingga BEI memilih untuk mempublikasikan persentase kepemilikan saja, sambil tetap melakukan pengawasan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Strategi yang disarankan oleh Nafan bagi investor RLCO adalah menahan posisi (hold) dan mengadopsi pendekatan “wait and see”. Ia menekankan pentingnya memantau free float, karena tingkat kepemilikan yang tinggi dapat menurunkan likuiditas dan memperbesar volatilitas. Upaya peningkatan free float, misalnya melalui rights issue, dapat memperbaiki kondisi pasar, namun tetap memerlukan pertimbangan matang.

Secara keseluruhan, tekanan pada saham-saham HSC, termasuk RLCO, dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental, teknikal, dan regulasi. Investor disarankan untuk memperhatikan data free float, potensi aksi korporasi, serta perkembangan kebijakan BEI terkait transparansi kepemilikan. Dengan IHSG yang sedang melemah, pergerakan saham-saham dengan likuiditas terbatas seperti RLCO harus dipantau secara cermat sebelum mengambil keputusan investasi.