Liput – 04 April 2026 | Jumat, 3 April 2026 menandai momen sakral Jumat Agung yang dirayakan secara megah di Gereja Katedral Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Salah satu sorotan utama perayaan tahun ini adalah penampilan Jason, seorang pemuda setempat yang dipercaya menghidupkan peran Yesus Kristus dalam drama Jalan Salib Kreatif. Penampilan Jason tidak hanya menarik perhatian jemaat, tetapi juga mengundang rasa kagum atas kedalaman spiritual dan tantangan pribadi yang ia lalui.
Jason, berusia 28 tahun, berasal dari Tanjung Selor dan merupakan anggota aktif komunitas pemuda Katolik di wilayah tersebut. Sebelum dipanggil menjadi pemeran Yesus, ia aktif dalam kegiatan pelayanan sosial, termasuk mengajar anak-anak kurang mampu dan membantu program bantuan pangan selama masa pandemi. Pengalaman ini, menurutnya, menjadi landasan kuat ketika ia diminta memerankan sosok yang penuh makna dan penderitaan.
“Saya merasakan panggilan hati yang kuat ketika panitia menghubungi saya,” ujar Jason dalam sebuah wawancara singkat setelah ibadah. “Menjadi Yesus bukan sekadar peran akting, melainkan sebuah panggilan rohani yang menuntut saya menelusuri kembali iman pribadi, melakukan puasa, dan mempersiapkan diri secara mental serta emosional.”
Persiapan Jason dimulai enam minggu sebelum perayaan. Ia menjalani serangkaian pelatihan intensif bersama tim liturgi dan pembimbing rohani, meliputi pembacaan Injil, meditasi, serta diskusi mendalam mengenai makna pengorbanan Yesus. Selama proses tersebut, Jason harus menahan rasa emosional yang muncul ketika membayangkan penderitaan Kristus.
- Puasa: Jason melakukan puasa ringan selama tiga hari berturut-turut, menyesuaikan pola makan untuk menajamkan fokus spiritual.
- Latihan Emosional: Ia berlatih menahan air mata di depan cermin, menyiapkan diri untuk adegan penyaliban yang penuh kepedihan.
- Studi Alkitab: Setiap hari, ia membaca dan merenungkan pasal-pasal penting, terutama Yohanes 19 dan Matius 27.
Hasilnya, pada hari Jumat Agung, Jason tampil dengan ketenangan yang menggetarkan. Ketika melangkah menelusuri Jalan Salib di dalam gereja, ia menampilkan rasa duka yang tulus, memegang salib dengan tangan gemetar namun mantap. Reaksi jemaat pun tak dapat disembunyikan; banyak yang meneteskan air mata, beberapa bahkan terdiam dalam doa panjang.
Rohaniwan Katolik setempat, Pastor Fransiskus Bima, mengapresiasi kinerja Jason. “Dia bukan hanya menghidupkan cerita, tetapi mengundang setiap orang untuk merasakan kedalaman pengorbanan Yesus. Ini adalah pengalaman iman yang hidup,” kata Pastor Fransiskus.
Jason mengakui bahwa peran ini menimbulkan pergulatan batin. “Ada kalanya saya meragukan kemampuan diri, bertanya apakah saya layak memerankan Sang Penebus. Namun, dukungan komunitas, doa bersama, dan keyakinan pribadi menguatkan saya,” ujarnya. Ia menambahkan, setelah pertunjukan, ia merasakan perubahan signifikan dalam kehidupan rohani, menjadi lebih sabar dan empatik terhadap sesama.
Selain menonjolkan aspek spiritual, penampilan Jason juga memberi dampak sosial. Kegiatan ini menarik lebih dari 800 jemaat, termasuk warga dari desa sekitar yang biasanya tidak hadir dalam acara gereja besar. Keberadaan Jason sebagai figur lokal yang mengisi peran Yesus memperkuat rasa kebersamaan dan identitas komunitas.
Dalam rangka melanjutkan jejaknya, Jason berencana mengadakan lokakarya kecil bagi pemuda Katolik di Tanjung Selor, mengajarkan cara mengintegrasikan iman dengan aksi sosial. Ia berharap, melalui contoh pribadi, generasi muda dapat menemukan panggilan serupa dalam melayani sesama.
Keseluruhan, penampilan Jason di Gereja Katedral Tanjung Selor tidak sekadar sebuah pertunjukan teater; ia menjadi saksi hidup tentang bagaimana sebuah peran dapat memicu transformasi pribadi dan memperdalam keimanan kolektif. Jumat Agung 2026 di Tanjung Selor akan dikenang sebagai momen di mana satu pemuda menapaki jejak Kristus, menginspirasi ribuan hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Penebus.