Danone Klarifikasi Visual Balita pada Kemasan AQUA, Tekankan Perbedaan Label Sekunder dan Utama

Liput – 20 April 2026 | Publik Indonesia kembali memperhatikan sebuah isu yang menimbulkan perdebatan di media sosial: penggunaan visual balita pada kemasan produk air minum dalam kemasan (AMDK) AQUA. Gambar anak kecil yang muncul pada gambar bundling enam botol AQUA 1500 ml menjadi sorotan, memicu pertanyaan tentang kebijakan pemasaran dan keamanan produk, terutama mengingat Danone sebagai pemilik merek tersebut.

Setelah penelusuran lebih lanjut, ditemukan bahwa gambar tersebut bukanlah label utama pada botol, melainkan bagian dari label sekunder yang ditempatkan pada kemasan luar (outer pack). Label sekunder berfungsi sebagai media informasi tambahan untuk keperluan distribusi, identifikasi produk dalam penjualan bundling, dan tidak menggantikan label utama yang memuat informasi wajib seperti tanggal produksi, nomor batch, dan kandungan nutrisi.

Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia, menegaskan bahwa visual balita tidak dapat dipisahkan dari konteks desain keseluruhan. Ia menjelaskan bahwa gambar tersebut memang berada pada label sekunder bundling 6 botol AQUA 1500 ml, dan tidak muncul pada label utama yang menempel pada masing-masing botol. “Visual yang dimaksud merupakan bagian dari secondary label pada kemasan bundling, bukan label utama produk sebagaimana label di botol,” ujar Arif dalam klarifikasi resmi.

Perbedaan antara label utama dan sekunder menjadi penting dalam regulasi AMDK di Indonesia. Label utama wajib menyertakan informasi standar yang diawasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sedangkan label sekunder dapat memuat elemen promosi atau identifikasi logistik asalkan tidak menyesatkan konsumen. Kegagalan membedakan keduanya dapat menimbulkan persepsi keliru di publik, seperti yang terjadi pada kasus ini.

Di tengah sorotan tersebut, muncul pula perbincangan global mengenai keamanan produk pangan anak. Beberapa minggu terakhir, otoritas di Austria melaporkan penemuan racun tikus (bromadiolon) dalam kaleng makanan bayi HiPP yang kemudian ditarik kembali dari pasar. Insiden ini menambah kekhawatiran konsumen terhadap standar keamanan makanan infantile, meski tidak terkait langsung dengan Danone atau produk AQUA.

Kasus Austria menegaskan pentingnya pengawasan ketat pada rantai pasok makanan bayi. Penemuan racun tikus pada produk bayi memicu investigasi menyeluruh, termasuk pengecekan bahan baku, prosedur produksi, dan sistem pengujian laboratorium. Meskipun kasus tersebut melibatkan merek lain, publik Indonesia menilai semua produsen makanan dan minuman, termasuk Danone, harus lebih transparan dalam menjamin keamanan produk.

Menanggapi kekhawatiran yang meluas, Danone Indonesia menegaskan komitmen berkelanjutan terhadap standar keamanan pangan yang tinggi. Perusahaan menyatakan bahwa semua produk AQUA, termasuk yang dipasarkan dalam bentuk bundling, telah melewati serangkaian uji laboratorium internal dan eksternal sebelum sampai ke tangan konsumen. Selain itu, Danone berjanji untuk meningkatkan edukasi kepada retailer dan distributor mengenai perbedaan label sekunder dan utama guna menghindari miskomunikasi di masa mendatang.

Reaksi konsumen beragam, mulai dari keprihatinan hingga dukungan terhadap klarifikasi perusahaan. Beberapa pihak menilai langkah transparansi Danone sebagai upaya tepat untuk meredam rumor, sementara yang lain mengingatkan pentingnya pengawasan regulator yang lebih ketat. Secara umum, isu ini membuka dialog mengenai bagaimana label produk harus dirancang agar jelas bagi semua lapisan masyarakat.

Kesimpulannya, klarifikasi Danone menegaskan bahwa visual balita pada kemasan bundling AQUA adalah elemen desain sekunder yang tidak menyalahi peraturan label utama. Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap keamanan makanan bayi, seperti kasus racun tikus di Austria, perusahaan multinasional seperti Danone dituntut untuk menjaga integritas dan transparansi dalam setiap tahap produksi dan pemasaran. Langkah proaktif perusahaan diharapkan dapat memulihkan kepercayaan konsumen dan memperkuat standar industri dalam melindungi konsumen, terutama anak-anak.