Macan Tutul Liar Terjebak di Puncak, TSI dan BKSDA Selamatkan dan Lepasliarkan Kembali ke Habitat Asli

Liput – 05 April 2026 | Pada Jumat, 3 April 2026, warga Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, melaporkan penemuan seekor macan tutul liar yang terjerat kawat di perkebunan teh Gunung Mas, Puncak. Satwa yang diperkirakan berusia beberapa tahun tersebut diduga turun dari hutan sekitar dini hari dan kemudian terperangkap di jalur yang dipasang sebagai jebakan babi.

Manajer Marketing Communication Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Danang Wibowo, menegaskan bahwa macan tutul tersebut bukan bagian dari koleksi TSI. “Satwa ini merupakan individu liar yang berasal dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, bukan koleksi kami yang lepas,” ujarnya dalam pernyataan resmi pada Sabtu, 4 April 2026.

Kepala Desa Tugu Selatan, Eko Widiana, menjelaskan bahwa warga pertama kali melihat macan tersebut pada pagi hari, ketika hewan itu sudah berada di sekitar area permukiman. “Macan turun dari hutan, lalu terjerat kawat. Kami langsung melaporkan ke pihak berwenang,” kata Eko.

Ketua Regional Gedepahala FK3I Jawa Barat, Linggar Sonagar Risjoni, menambahkan bahwa pergerakan macan ke zona permukiman dipicu oleh gangguan pada habitat alaminya. “Ketika rumah mereka terganggu, satwa ini keluar mencari tempat yang lebih aman, namun sayangnya menemukan kawat sampah atau jebakan pemburu,” ujar Linggar.

Tim gabungan TSI dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat segera dikerahkan. Petugas BKSDA, Dani Hamdani, menjelaskan bahwa macan tersebut terjerat dalam jebakan babi yang dipasang di dekat GOR Bulutangkis Gunung Mas. “Kami belum tahu siapa yang memasang jebakan itu, namun jebakan semacam ini memang sering dipakai pemburu,” kata Dani.

Setelah evakuasi, macan tutul dibawa ke fasilitas karantina TSI untuk perawatan medis. Dokter hewan tim Life Science TSI melakukan pemeriksaan, memberikan obat bius dengan dosis yang disesuaikan berat badan satwa, dan memantau kondisi luka akibat kawat. “Dosis yang tepat sangat penting, overdosis dapat berakibat fatal,” tambah Dani.

Warga setempat, Hadi (32), menyampaikan bahwa selama dua minggu terakhir mereka telah melihat jejak-jejak macan tutul di sekitar desa. “Satwa ini bahkan pernah masuk ke dapur rumah saya pada malam hari, merusak plafon, dan memangsa ternak seperti kambing dan kucing,” ujar Hadi. Ia menambah bahwa pada tahun 2000 pernah terjadi insiden serupa di wilayah yang sama.

Setelah proses penyembuhan selama satu hingga dua hari, tim medis menyatakan macan tersebut sudah kembali sehat. Aswin Sumampau, Direktur Utama Taman Safari Indonesia, menyatakan bahwa pelepasliaran dilakukan secara terkoordinasi dengan BKSDA, mengacu pada prosedur perlindungan satwa liar. “Kami mengembalikan macan ke habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, agar ekosistem tetap seimbang,” katanya.

Berikut rangkuman fakta penting:

  • Lokasi penemuan: Perkebunan teh Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Puncak.
  • Waktu: 3 April 2026, pagi hari.
  • Penyebab terperangkap: Jebakan babi (kawat) yang dipasang oleh pihak tak dikenal.
  • Pihak yang menanggapi: Tim gabungan TSI dan BKSDA Jawa Barat.
  • Proses penanganan: Evakuasi, perawatan medis, observasi, lalu pelepasliaran kembali ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Kejadian ini menegaskan pentingnya menjaga kelestarian habitat hutan dan mengurangi penggunaan jebakan ilegal. Konflik antara manusia dan satwa liar dapat diminimalisir dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat patroli hutan, dan menyediakan alternatif pengelolaan sampah serta pembuangan limbah yang tidak mengancam satwa. Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, lembaga konservasi, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Dengan respons cepat dan prosedur penanganan yang tepat, macan tutul tersebut kini kembali menjalani kehidupan alami di gunung, sekaligus menjadi contoh konkret keberhasilan sinergi antara lembaga konservasi dan masyarakat dalam melindungi satwa dilindungi.