Maut di Jurang: Mobil Terjun 60 Meter di Kawasan Gunung Padang, Dua Penumpang Tewas

Liput – 13 April 2026 | Sabtu sore, sebuah mobil penumpang tiba-tiba meluncur ke dalam jurang berbatu setinggi kira-kira enam puluh meter di daerah yang dikenal sebagai kawasan Gunung Padang, tepatnya di Desa Pinamorongan, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 15.30 WITA dan langsung menimbulkan kepanikan serta panggilan darurat ke Basarnas Sulut.

Menurut keterangan tim SAR Pos Amurang, mobil tersebut menabrak tepi curam jurang yang mengarah ke sungai deras, kemudian terlempar ke dasar jurang yang dipenuhi bebatuan dan aliran air kuat. Dua penumpang yang berada di dalam kendaraan, yakni Jhony Ulaan (57 tahun) dan Nover Solang (54 tahun), warga Desa Tawaang Timur Lingkungan 2, tidak sempat keluar sebelum kendaraan terjatuh.

Tim SAR gabungan dari Pos SAR Amurang, Kantor SAR Manado, serta unsur kepolisian dan pemadam kebakaran tiba di lokasi pada pukul 15.36 WITA. Setelah melakukan penilaian awal, tim memutuskan menggunakan teknik “lowering” untuk menurunkan peralatan penyelamat hingga ke dasar jurang. Proses tersebut dimulai pada pukul 15.45 WITA.

Selama proses penurunan, petugas menemukan mobil dalam kondisi terbalik dan terperangkap di antara bebatuan. Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kedua korban tidak menunjukkan tanda-tanda respons, menandakan korban telah meninggal di tempat. Mengingat medan yang sangat terjal dan berbahaya, tim melanjutkan evakuasi melalui jalur tepi jurang dengan bantuan tali dan harness khusus.

Pada pukul 18.05 WITA, kedua jenazah berhasil diangkat ke permukaan dan dibawa ke jalan utama. Selanjutnya, jenazah Jhony Ulaan dan Nover Solang dilarikan ke Rumah Sakit Kalooran Amurang, di mana pada pukul 18.55 WITA resmi diserahkan kepada pihak rumah sakit untuk diproses lebih lanjut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen yang terlibat dalam operasi SAR ini, termasuk tim SAR, Polsek Tareran, Koramil Tareran, Dinas Damkar & Penyelamatan Kabupaten Minahasa Selatan, Satpol PP, serta warga setempat yang membantu menyiapkan jalur evakuasi,” ujar Kepala Basarnas Sulut, George Mercy Randang dalam konferensi pers singkat.

Berikut adalah rangkaian kronologis singkat yang disusun oleh tim SAR:

  • 15.30 WITA – Laporan kecelakaan diterima oleh Pos SAR Amurang.
  • 15.36 WITA – Tim SAR tiba di lokasi.
  • 15.45 WITA – Mulai teknik lowering untuk mencapai kendaraan.
  • 18.05 WITA – Evakuasi jenazah selesai.
  • 18.55 WITA – Penyerahan jenazah ke RS Kalooran Amurang.

Kejadian ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat setempat, terutama karena wilayah Gunung Padang dikenal sebagai area wisata alam yang sering dikunjungi pendaki dan pengunjung. Pihak berwenang menyarankan agar pengendara memperhatikan kondisi jalan, terutama pada musim hujan ketika tanah menjadi licin dan tepi jurang lebih rawan longsor.

Para ahli geologi menambahkan bahwa formasi batuan di kawasan Gunung Padang memiliki kemiringan yang tajam dan aliran air yang kuat, sehingga risiko kecelakaan serupa dapat terjadi jika tidak ada tindakan pencegahan. “Pemeliharaan jalan dan penempatan rambu peringatan yang memadai sangat penting untuk mengurangi potensi tragedi,” kata Dr. Rina Hartati, pakar geologi Universitas Sam Ratulangi.

Sejauh ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan kelelahan pengemudi, kondisi kendaraan, atau faktor alam yang tidak terduga. Basarnas Sulut menegaskan bahwa semua prosedur keselamatan telah dijalankan dengan maksimal selama operasi penyelamatan.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi semua pengguna jalan di wilayah berbukit dan jurang. Pemerintah daerah Minahasa Selatan berjanji akan meningkatkan inspeksi rutin pada jalan setapak serta menambah signage peringatan di titik-titik rawan. Diharapkan, langkah-langkah tersebut dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Dengan dua nyawa melayang dalam hitungan menit, peristiwa ini menutup babak tragis yang sekaligus menegaskan pentingnya koordinasi cepat antar lembaga penanggulangan bencana, serta kesadaran kolektif akan bahaya yang mengintai di jalanan berbukit.