Liput – 12 April 2026 | Jembatan Merah yang terletak di persimpangan utama Kecamatan Muara Batu kini berubah menjadi zona kumuh dengan tumpukan sampah yang menutupi rel dan trotoar. Pada sore hari, para pengendara angkot berkumpul menunggu penumpang di antara kantong plastik, botol bekas, dan kertas bekas yang berserakan, sementara pedagang kaki lima (PKL) memanfaatkan ruang tersebut sebagai lokasi jualan improvisasi.
Jembatan tersebut selama bertahun‑tahun menjadi jalur vital bagi ribuan kendaraan harian, menghubungkan pusat kota dengan kawasan perumahan pinggiran. Namun sejak banjir akhir tahun 2025, struktur baja dan beton mengalami korosi, dan belum ada upaya perbaikan yang signifikan dari pihak berwenang. Kondisi ini memaksa warga beralih ke jalan nasional yang lebih panjang, meningkatkan beban waktu dan biaya transportasi.
Pengamatan tim lapangan mengungkap bahwa area sekitar Jembatan Merah dipenuhi dengan sampah rumah tangga, limbah plastik, serta sisa bahan bangunan. Sampah tersebut tidak hanya menodai pemandangan, tetapi juga menghalangi aliran air, meningkatkan risiko banjir kembali. Di sisi lain, para pengemudi angkot mengeluhkan kerusakan pada oprit yang mengakibatkan kendaraan terpaksa melaju perlahan, menambah waktu tunggu penumpang.
“Kami sudah tidak tahan lagi,” ujar Riski Amal, seorang warga yang menempati rumah di dekat jembatan. “Setiap pagi kami harus melewati tumpukan sampah untuk sampai ke pasar, dan angkot pun harus menunggu lama karena opritnya rusak. Pemerintah hanya menjanjikan perbaikan, namun hingga kini belum ada tindakan nyata.”
Pejabat daerah setempat, Bupati Ismail A. Jalil, menanggapi keluhan tersebut dengan menegaskan bahwa pemerintah telah menerima bantuan berupa jembatan perintis dari TNI AD, namun belum ada rencana konkret untuk mengganti jembatan permanen di lokasi ini. “Kami terus mengajukan permohonan ke Kementerian PUPR, namun proses birokrasi memerlukan waktu. Sementara itu, kami berupaya mengevakuasi sampah secara periodik,” ujar beliau.
Situasi Jembatan Merah mencerminkan pola yang sama dengan dua jembatan di Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, yang sejak lima bulan lalu masih belum diperbaiki meskipun sudah amblas total akibat banjir. Keterlambatan perbaikan pada kedua kasus menimbulkan rasa frustasi di kalangan warga, sekaligus memperlambat pemulihan ekonomi lokal.
- Penghapusan sampah secara rutin setiap minggu.
- Pembangunan kembali oprit dengan material anti‑korosi.
- Pengadaan jembatan permanen yang memenuhi standar keamanan.
- Fasilitas tempat parkir tertib bagi angkot dan PKL.
Komunitas warga Jembatan Merah telah membentuk kelompok aksi yang menuntut transparansi dan percepatan pengerjaan. Mereka menyiapkan petisi daring yang telah menampung lebih dari 3.500 tanda tangan, serta mengadakan pertemuan rutin dengan aparat untuk meninjau progres kerja.
Jika tidak ada intervensi segera, kondisi Jembatan Merah dapat berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas, memperparah kemacetan, serta menurunkan kualitas hidup warga sekitar. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran khusus, mempercepat proses tender, dan mengawasi pelaksanaan proyek secara ketat demi mengembalikan fungsi vital jembatan tersebut.