Liput – 11 April 2026 | Perusahaan konsultan properti global Colliers International mengemukakan bahwa harga apartemen di Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan signifikan dalam satu hingga tiga tahun ke depan. Analisis tersebut didasarkan pada rangkaian faktor eksternal, mulai dari kebijakan moneter internasional, dinamika pasar perkantoran pasca pandemi, hingga perubahan pola kerja yang semakin mengarah pada work‑from‑home (WFH).
Menurut para analis Colliers, penurunan suku bunga di negara maju yang berupaya menstimulus pertumbuhan ekonomi telah menurunkan biaya pinjaman bagi investor institusional. Namun, kebijakan pelonggaran moneter tersebut memicu inflasi yang pada gilirannya meningkatkan biaya material konstruksi, khususnya baja dan semen. Kombinasi antara meningkatnya biaya produksi dan terbatasnya lahan strategis di kawasan metropolitan mengakibatkan penurunan pasokan unit apartemen baru.
Faktor lain yang turut memperkuat prediksi kenaikan harga adalah pergeseran permintaan akibat kebijakan WFH. Sejumlah perusahaan multinasional yang sebelumnya berpusat di gedung‑gedung perkantoran kelas A kini mengadopsi model kerja hybrid. Hal ini menurunkan tingkat hunian ruang kantor, sementara permintaan akan hunian yang dekat dengan fasilitas digital dan transportasi publik meningkat. Menurut data internal Colliers, permintaan apartemen dengan fasilitas coworking dan jaringan internet berkecepatan tinggi tumbuh rata‑rata 12% per kuartal sejak 2022.
Berikut adalah lima faktor kunci yang memengaruhi proyeksi harga apartemen:
- Kenaikan biaya material: Harga baja global naik 15% dan semen naik 9% pada tahun 2023, menambah beban pengembang.
- Keterbatasan lahan: Kota‑kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung menghadapi saturasi lahan, memaksa pengembang mengoptimalkan pembangunan vertikal yang lebih mahal.
- Permintaan pasca‑WFH: Profesional muda lebih memilih hunian yang dekat dengan pusat transportasi dan dilengkapi fasilitas kerja fleksibel.
- Arus modal asing: Investor institusional dari Timur Tengah dan Asia Timur menambah portofolio properti residensial di Indonesia, mendorong persaingan beli.
- Kebijakan pajak dan regulasi: Pemerintah memperkenalkan insentif pajak bagi properti ramah lingkungan, yang meningkatkan nilai jual properti bersertifikat hijau.
Colliers menyoroti bahwa wilayah Jabodetabek tetap menjadi magnet utama bagi kenaikan harga, terutama di kawasan yang terhubung dengan jaringan TransJakarta dan MRT. Sementara itu, kota‑kota sekunder seperti Bandung, Semarang, dan Makassar menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih stabil namun tetap positif, didorong oleh proyek‑proyek infrastruktur yang sedang berjalan.
Dalam pernyataannya, kepala divisi riset pasar Colliers Indonesia, Budi Hartono, menegaskan bahwa “meskipun terdapat tekanan inflasi global, fundamental permintaan hunian di Indonesia tetap kuat. Pengembang harus menyesuaikan strategi penawaran dengan mengedepankan kualitas, teknologi, dan keberlanjutan untuk tetap kompetitif.”
Secara makroekonomi, proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai 5,2%, lebih tinggi dari rata‑rata ASEAN. Peningkatan pendapatan per kapita ini, bersama dengan tingkat urbanisasi yang terus naik, menjadi pendorong utama permintaan hunian yang berkualitas.
Para pengamat menilai bahwa kenaikan harga apartemen dapat menimbulkan tantangan bagi pembeli pertama, terutama generasi milenial yang belum memiliki tabungan cukup. Untuk mengatasi hal ini, beberapa bank lokal mulai menawarkan skema pembiayaan dengan tenor lebih panjang dan suku bunga tetap yang lebih kompetitif.
Kesimpulannya, kombinasi faktor global dan domestik – mulai dari kebijakan moneter internasional, dinamika pasar perkantoran pasca‑pandemi, hingga perubahan gaya hidup akibat WFH – memperkuat prospek kenaikan harga apartemen di Indonesia. Pengembang, investor, dan pembeli perlu menyesuaikan strategi masing‑masing untuk menghadapi tren ini dengan bijak.