Liput – 09 April 2026 | Seorang wisatawan berusia 25 tahun, Lisa Pratiwi, warga Ampenan Otak Desa, meninggal dunia setelah terseret arus di Air Terjun Tibu Ijo, Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu, 5 April 2026. Jasad korban ditemukan sekitar 200 meter di hilir aliran sungai pada Rabu, 8 April 2026, setelah pencarian yang berlangsung selama tiga hari.
Tim Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan yang dipimpin oleh Koordinator Lapangan Kantor SAR Mataram, Ida Bagus Netra Adnyana, menyatakan bahwa kondisi medan yang berbatu dan curam menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi. Jasad korban terjepit di antara batu‑batu besar, sehingga tim harus mengerahkan ekskavator untuk melonggarkan material alam tersebut sebelum jenazah dapat diangkat.
Berikut rangkaian kronologis peristiwa yang terjadi:
- 05/04/2026 – Lisa Pratiwi bersama beberapa temannya melakukan wisata ke Air Terjun Tibu Ijo. Pada saat perjalanan menuju lokasi, ia tiba-tiba hanyut terbawa arus deras sungai.
- 05/04/2026 malam – Tim Rescue Kantor SAR Mataram menerima laporan kehilangan dan berangkat pukul 18.50 WITA menggunakan mobil rescue lengkap dengan peralatan SAR air.
- 06/04/2026 – Pencarian intensif dilakukan dengan menyusuri aliran sungai, memeriksa titik‑titik potensial, namun tidak menemukan jejak korban.
- 07/04/2026 – Pencarian dilanjutkan pada hari kedua, namun medan tetap sulit karena batuan besar dan aliran deras.
- 08/04/2026 pagi – Pada hari ketiga, tim menemukan jasad Lisa Pratiwi sekitar 200 meter dari lokasi kejadian. Korban terjepit di antara batu besar.
- 08/04/2026 dini hari – Dengan bantuan ekskavator, tim berhasil melonggarkan batu dan mengangkat jenazah pada pukul 00.15 WITA. Jasad kemudian diangkut dengan ambulans ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram untuk penanganan lebih lanjut.
Operasi SAR ini melibatkan koordinasi lintas instansi, antara lain Polres Kota Mataram, Koramil Gunung Sari, BPBD Lombok Barat, tim medis Rumah Sakit Bhayangkara, perangkat desa, serta relawan masyarakat setempat. Koordinator lapangan menekankan pentingnya sinergi tersebut, menyatakan bahwa tanpa dukungan ekskavator dan kerjasama antara aparat keamanan, pemadam kebakaran, dan relawan, proses evakuasi bisa memakan waktu lebih lama dan menambah risiko bagi tim penyelamat.
Setelah evakuasi selesai, Koordinator Ida Bagus Netra Adnyana menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat, sekaligus mengimbau masyarakat untuk selalu berhati‑hati saat beraktivitas di area aliran sungai, terutama pada kondisi cuaca mendung atau ekstrem. Ia menambahkan bahwa meskipun keindahan alam Air Terjun Tibu Ijo menarik banyak wisatawan, keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Kasus ini menyoroti tantangan geografis di wilayah Lombok Barat, dimana medan berbukit dan aliran sungai yang deras dapat berubah menjadi bahaya fatal dalam hitungan menit. Pihak berwenang mengingatkan bahwa tidak semua titik wisata dilengkapi dengan fasilitas keselamatan seperti pagar pembatas atau penanda bahaya. Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk selalu mengikuti arahan petugas, menggunakan perlengkapan keselamatan pribadi, dan menghindari area berbahaya saat arus meningkat.
Hingga saat ini, proses identifikasi jenazah telah selesai, dan keluarga korban telah diberi tahu mengenai kejadian tragis ini. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menjanjikan akan melakukan evaluasi terhadap prosedur keselamatan di kawasan wisata alam, serta meningkatkan sosialisasi mengenai bahaya aliran air bagi penduduk dan wisatawan.
Kasus Lisa Pratiwi menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa keindahan alam sekaligus memerlukan kewaspadaan ekstra. Diharapkan, melalui kerja sama antar lembaga dan kesadaran publik, kejadian serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.