Wapres Gibran Keluarkan Tanggapan Tegas Pasca 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Prabowo Tekankan Penyelidikan dan Kedaulatan

Liput – 04 April 2026 | Jakarta, 5 April 2026 – Menyambut kedatangan jenazah tiga prajurit TNI yang gugur dalam operasi perdamaian di Lebanon, Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menyampaikan respons yang penuh empati sekaligus menegaskan langkah konkret pemerintah. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Sabtu (4/4/2026) di Istana Merdeka, Gibran menegaskan bahwa Indonesia tidak akan tinggal diam atas serangan Israel yang menewaskan Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur, dan Praka Farizal Rhomadhon.

“Kami berduka mendalam atas kehilangan tiga pahlawan bangsa yang sedang menjalankan mandat UNIFIL. Mereka gugur dalam kondisi yang sangat menyedihkan, dan kami berkomitmen penuh untuk memastikan proses repatriasi berjalan cepat, aman, dan hormat,” ujar Gibran. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah berkoordinasi intensif dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta otoritas Lebanon untuk mempercepat proses pengembalian jenazah ke tanah air. Jenazah-jenazah tersebut dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno‑Hatta pada sore hari Sabtu dan akan disemayamkan sementara di Lanud Halim Perdanakusuma sebelum pemakaman militer di masing‑masing daerah asal.

Respons Gibran tidak lepas dari arahan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang beberapa hari sebelumnya menekankan pentingnya penyelidikan menyeluruh terhadap insiden tersebut. Prabowo menegaskan bahwa serangan berulang Israel ke wilayah Lebanon melanggar Resolusi DK PBB 1701, serta mengancam keamanan regional dan integritas kedaulatan Lebanon. “Kami menuntut penyelidikan independen yang transparan, serta langkah tegas bagi pihak yang bertanggung jawab,” tegas Prabowo dalam rapat koordinasi bersama TNI, Kementerian Luar Negeri, dan tim diplomatik Indonesia.

Gibran menanggapi arahan tersebut dengan menegaskan bahwa Indonesia akan menuntut akuntabilitas penuh di forum internasional. Ia menambahkan, “Kami akan mengajukan permohonan resmi kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan penyelidikan yang independen, serta meminta pengawasan berkelanjutan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.” Pernyataan itu selaras dengan sikap tegas yang sebelumnya disampaikan oleh Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, pada rapat darurat DK PBB di New York pada 31 Januari 2026.

Selama upacara penghormatan jenazah di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, pada 2 April 2026, Force Commander UNIFIL memimpin prosesi sebagai bentuk penghormatan terakhir. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa dukungan internasional bagi Indonesia terus mengalir, mencerminkan penghargaan dunia terhadap komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian.

Gibran juga menyoroti dampak emosional yang dirasakan oleh keluarga prajurit, serta menegaskan pentingnya dukungan moral dan material bagi mereka. “Kami akan memastikan bahwa keluarga almarhum mendapatkan bantuan yang layak, baik berupa kompensasi, konseling, maupun fasilitas lainnya,” kata Gibran. Ia menambahkan, “Kita semua berhak menyalurkan rasa duka ini menjadi semangat untuk memperkuat pertahanan dan diplomasi negara.”

Di sisi lain, Prabowo menegaskan perlunya peningkatan kesiapan militer dalam konteks operasi perdamaian internasional. Ia menyarankan agar TNI memperkuat prosedur keamanan, termasuk penilaian risiko yang lebih ketat pada misi luar negeri, serta meningkatkan kerja sama intelijen dengan sekutu strategis. “Kita harus belajar dari tragedi ini, memperbaiki standar operasional, dan memastikan prajurit kita kembali selamat,” ujar Prabowo.

Pemerintah juga mengumumkan rencana pengiriman tim khusus ke Lebanon untuk meninjau kembali kondisi keamanan di zona UNIFIL, serta menyiapkan laporan komprehensif bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Pertahanan. Tim tersebut akan berkoordinasi dengan otoritas Lebanon dan Israel demi mengurangi ketegangan yang dapat memperparah situasi.

Secara keseluruhan, respons Gibran dan arahan Prabowo mencerminkan sinergi antara eksekutif dan pertahanan dalam menghadapi krisis internasional. Kedua pemimpin menegaskan komitmen Indonesia untuk menegakkan keadilan, melindungi kedaulatan, serta menghormati jasa para pahlawan yang gugur. Dengan langkah-langkah diplomatik yang tegas dan upaya internal untuk memperkuat kesiapsiagaan militer, Indonesia berharap dapat mencegah terulangnya insiden serupa serta memastikan keamanan para personel UNIFIL di masa depan.

Ke depan, pemerintah berjanji akan terus memantau situasi di Lebanon, berkoordinasi dengan komunitas internasional, dan menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak yang terlibat. Harapan besar masyarakat Indonesia tetap terletak pada keadilan bagi para pahlawan yang telah berkorban, serta keberhasilan diplomasi Indonesia dalam menjaga perdamaian regional.