Liput – 22 April 2026 | Di tengah hamparan sawah di Tabanan, Bali, muncul sosok perempuan muda yang menolak stereotip kerja kantoran dan memilih menggeluti pertanian sebagai ladang inovasi. Ni Putu Meilanie Ary Sandi, 23 tahun, melanjutkan jejak ayahnya dengan mengembangkan lahan pertanian secara modern dan memanfaatkan layanan keuangan digital melalui aplikasi BRImo.
Meilanie mengaku awalnya hanya sekadar membantu keluarga setelah pandemi memaksa mereka kembali ke kampung halaman. “Dulu saya lebih fokus pada sekolah dan sempat hidup nomaden di Badung, tapi setelah kembali ke rumah, saya mulai turun ke lahan dan menemukan betapa serunya bertani,” ujarnya. Dari situ, ia memutuskan untuk menjadikan pertanian bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan usaha utama yang dapat memberikan nilai ekonomi yang signifikan.
Inovasi Praktis di Lapangan
Berbeda dengan pertanian konvensional yang sering dianggap berat dan kotor, Meilanie menerapkan beberapa inovasi sederhana namun efektif. Ia menggunakan mulsa berbahan jerami dan sekam padi untuk menekan evaporasi air, serta menciptakan pupuk organik buatan sendiri yang disemprotkan seperti embun halus. “Formula pupuk ayah saya memungkinkan kami lebih efisien tanpa harus bergantung pada pupuk kimia,” kata Meilanie.
Selain teknik produksi, petani muda ini juga mengoptimalkan pemasaran lewat media sosial. Dengan memanfaatkan platform Instagram dan WhatsApp Business, ia berhasil menjalin jaringan dengan hotel, restoran, dan wisatawan yang mencari produk pertanian lokal berkualitas. “Komunikasi kini lebih cepat dan pasar terbuka lebar,” tambahnya.
Peran Teknologi Finansial
Salah satu pendorong utama keberhasilan usaha Meilanie adalah akses ke layanan keuangan digital. Ia menggunakan aplikasi BRImo milik BRI untuk melakukan transaksi, mengelola arus kas, dan mengajukan pembiayaan mikro. “BRImo sangat simpel, fiturnya lengkap, dan memudahkan operasional harian kami,” ujar Meilanie. Ia berharap perbankan akan terus memperluas dukungan, terutama dalam hal permodalan untuk petani muda.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan komitmen BRI dalam mendukung inklusi keuangan dan pemberdayaan perempuan di sektor pertanian. “Melalui BRImo, kami ingin mempermudah akses layanan keuangan bagi petani masa kini agar dapat mengembangkan usaha secara modern dan berkelanjutan,” katanya.
Menumbuhkan Semangat Kartini Masa Kini
Meilanie menekankan pentingnya peran perempuan dalam ketahanan pangan nasional. Ia berpendapat bahwa perempuan tidak hanya bertanggung jawab di bidang rumah tangga, tetapi juga dapat menjadi penggerak utama dalam inovasi pertanian. “Kita harus memiliki pengetahuan dasar tentang pertanian, karena itu adalah bagian penting dari kemandirian,” tegasnya.
Ia juga mengajak generasi muda, terutama perempuan, untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian. Menurutnya, pertanian dapat dimulai dari skala kecil, bahkan di perkotaan, melalui urban farming seperti hidroponik atau penanaman dalam polybag. “Setelah merasakan prosesnya langsung, orang akan mengerti betapa menyenangkannya bertani,” kata Meilanie.
Dengan kombinasi semangat Kartini, inovasi pertanian, dan dukungan teknologi finansial, Meilanie berharap sektor pertanian dapat menjadi pilar ekonomi yang kuat serta ruang aktualisasi bagi perempuan Indonesia.
Ke depan, ia menargetkan peningkatan produksi, diversifikasi produk, dan ekspansi pasar melalui platform digital. Dukungan berkelanjutan dari lembaga keuangan, pemerintah, dan komunitas petani diyakini akan memperkuat posisi pertanian modern dalam menjawab tantangan krisis pangan dan pembangunan ekonomi kerakyatan.