Liput – 21 April 2026 | Hari Kartini diperingati setiap 21 April sebagai momentum menyoroti perjuangan emansipasi perempuan. Di dunia perfilman, kisah R.A. Kartini telah diangkat ke layar lebar beberapa kali, melibatkan tiga aktris terpilih. Namun, di balik layar, ada cerita menarik tentang bagaimana Dian Sastro, aktris papan atas, sempat ditolak sebelum akhirnya menjadi pemeran utama film Kartini (2017).
Sejarah peran Kartini di sinema dimulai dengan Jenny Rachman pada film R.A. Kartini (1982) yang disutradarai oleh Sjumandjaja. Kemudian, pada 2016, Rania Putrisari memerankan tokoh yang sama dalam Surat Cinta untuk Kartini karya Azhar Kinoi Lubis. Kedua penampilan tersebut membuka jalan bagi produksi besar-besaran yang dipimpin sutradara Hanung Bramantyo.
Proyek film Kartini 2017 memiliki anggaran mencapai Rp 12 miliar, menjadikannya salah satu produksi paling ambisius dalam sejarah perfilman Indonesia. Pada tahap awal proses casting, tim produksi menargetkan aktris-aktor ternama untuk mengisi peran utama dan pendukung. Nama-nama seperti Acha Septriasa, Ayushita, dan Christine Hakim sudah dipastikan, namun peran Kartini masih menjadi teka‑teki.
Saat audisi pertama, Dian Sastro dipanggil untuk membaca naskah bersama tim kreatif. Namun, menurut saksi produksi, sutradara Hanung Bramantyo merasa karakter Kartini yang digambarkan dalam skrip belum sepenuhnya selaras dengan gaya akting Dian. Keputusan awal adalah menolak penawaran tersebut dan melanjutkan pencarian aktris lain.
Penolakan tersebut menimbulkan kegemparan di kalangan media hiburan, mengingat popularitas Dian Sastro sebagai bintang film Laskar Pelangi dan Habibie & Ainun. Namun, tim produksi tetap melanjutkan proses seleksi, menguji kandidat lain melalui serangkaian workshop intensif. Di sinilah aktris muda Rania Putrisari kembali dipertimbangkan, mengingat prestasinya pada film sebelumnya.
Selama masa pra‑produksi, sutradara bersama penulis skenario melakukan revisi naskah untuk menambah dimensi emosional pada karakter Kartini. Revisi tersebut menekankan konflik batin antara tradisi aristokrat Jawa dan aspirasi pendidikan perempuan. Dian Sastro, yang tetap mengikuti perkembangan proyek, diminta kembali untuk melakukan sesi pembacaan ulang.
Pada pertemuan kedua, Dian berhasil menampilkan interpretasi yang lebih mendalam, menonjolkan kerentanan sekaligus keberanian Kartini. Sutradara pun mengubah keputusannya, memutuskan Dian Sastro sebagai pemeran utama. Keputusan ini diumumkan pada akhir 2016, menandai berakhirnya proses casting yang sempat berliku.
Film Kartini 2017 kemudian dirilis pada bulan April 2017, tepat bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Dian Sastro berperan sebagai Kartini, didampingi Christine Hakim sebagai Ngasirah, Acha Septriasa sebagai Roekmini, dan Ayushita sebagai Kardinah. Film ini mendapatkan apresiasi kritis, termasuk penghargaan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Christine Hakim di Festival Film Indonesia 2017.
Pengalaman penolakan dan kemudian diterima kembali menjadi pelajaran berharga bagi Dian Sastro. Ia mengungkapkan dalam wawancara bahwa proses tersebut mengajarkan pentingnya kesabaran, keterbukaan pada arahan sutradara, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan visi cerita. Bagi industri film Indonesia, kisah ini menegaskan bahwa proses casting yang ketat dan fleksibel dapat menghasilkan karya yang kuat.
Berikut rangkuman singkat aktris yang pernah memerankan R.A. Kartini:
- Jenny Rachman – R.A. Kartini (1982)
- Rania Putrisari – Surat Cinta untuk Kartini (2016)
- Dian Sastro – Kartini (2017)
Kisah penolakan awal Dian Sastro kini menjadi bagian penting dalam narasi sejarah perfilman Indonesia, menunjukkan betapa proses kreatif dapat berubah secara dramatis sebelum mencapai hasil akhir yang memukau. Sebuah pelajaran bagi para aktor, sutradara, dan penikmat film bahwa di balik layar terdapat dinamika yang tak terduga.
Dengan keberhasilan film Kartini 2017, Dian Sastro tidak hanya menghidupkan kembali sosok pahlawan nasional, tetapi juga mempertegas posisinya sebagai salah satu aktris paling berpengaruh di Indonesia. Penolakannya yang kemudian berbalik menjadi kemenangan menegaskan bahwa ketekunan dan kolaborasi kreatif tetap menjadi kunci utama dalam menciptakan karya seni yang menginspirasi generasi selanjutnya.