Masyarakat Ledok Gelar Tahlilan Haru untuk Prajurit Satgas UNIFIL Kopda Farizal Rhomadhon

Liput – 05 April 2026 | Sabtu malam, 4 April 2026, warga Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, berkumpul di halaman rumah duka Kopral Dua (Kopda) Anumerta Farizal Rhomadhon. Upacara tahlilan berlangsung hingga larut malam, menandai penghormatan terakhir bagi prajurit yang gugur saat menjalankan tugas perdamaian di Lebanon bersama Pasukan Pemelihara Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL).

Farizal Rhomadhon, anggota TNI Angkatan Darat, tewas dalam insiden tembak-menembak di wilayah selatan Lebanon pada bulan Maret 2026. Jenazahnya bersama dua rekan seperjuangan, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan dan Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, pertama kali ditempatkan di VIP Lounge Terminal 3 Bandara Soekarno‑Hatta sebelum diserahkan kepada TNI AD. Upacara penyerahan dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Maruli Simanjuntak, yang sekaligus menjadi inspektur upacara.

Setelah proses militer selesai, tiga jenazah diangkut menggunakan pesawat angkut C‑130 Hercules dan CN‑295. Jenazah Farizal dan Ichwan diarahkan ke Yogyakarta, sementara Zulmi menuju Bandung. Dari Yogyakarta, jenazah Farizal dibawa ke rumah duka di Kulon Progo, tepatnya di Ledok, Sidorejo, Lendah, pada pukul 22.43 WIB. Kedatangan jenazah disambut dengan tangisan haru istri, orang tua, serta kakak kandung almarhum yang tidak kuasa menahan emosi.

Sebelum kedatangan jenazah, puluhan warga setempat telah menyiapkan tempat duduk di halaman rumah, menata teras sebagai area lesehan, serta menyalakan lampu-lampu hias sebagai simbol harapan. Suasana hening dipenuhi doa bersama, doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Talian kuat antara masyarakat sipil dan institusi militer terlihat jelas; sejumlah anggota TNI hadir menjaga keamanan dan memberi penghormatan kepada keluarga almarhum.

Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah, Kolonel Inf. Dimar Bahtera, memberikan pernyataan singkat di lokasi. Ia menegaskan bahwa semua prosedur, mulai dari evakuasi di Lebanon hingga penerbangan kembali ke Indonesia, telah dilaksanakan sesuai rencana. “Sesuai rencana, ada maju mundur satu jam biasa. Dari proses awal Lebanon, Jakarta, semua sesuai rencana,” ujar Dimar, menegaskan komitmen militer dalam menunaikan tugas akhir bagi para pahlawan yang gugur.

Kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Bandara Soekarno‑Hatta pada sore hari sebelum penerbangan jenazah, menambah kedalaman rasa duka nasional. Presiden disambut oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Luar Negeri Sugiono, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, serta Kapolri Listyo Sigit. Di dalam aula, para pejabat tinggi TNI—Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali, dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Mohamad Tonny Harjono—menghadiri upacara penghormatan.

Presiden Prabowo menyampaikan belasungkawa secara pribadi kepada keluarga tiga prajurit yang tengah berada di samping peti jenazah berbalut bendera merah putih. Ia menegaskan dukungan pemerintah terhadap keluarga korban, serta mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menghormati jasa para pahlawan yang berkorban demi perdamaian dunia.

Upacara tahlilan yang digelar di rumah duka Farizal menjadi simbol solidaritas antara warga sipil, keluarga, dan institusi militer. Masyarakat Ledok, yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan pedagang kecil, menyatakan rasa bangga dapat memberikan penghormatan terakhir kepada seorang anak daerah yang mengabdi di panggung internasional. “Kami hanya bisa berdoa, semoga almarhum diterima di sisi Allah dan keluarga diberikan ketabahan,” ujar seorang warga yang tidak disebutkan namanya.

Acara tahlilan berlanjut hingga dini hari, diikuti dengan pembacaan ayat-ayat suci dan dzikir bersama. Setelah selesai, keluarga almarhum memutuskan untuk menata peti jenazah di ruang tengah rumah, sementara para tetangga membantu menyiapkan makan sahur bagi para pengunjung yang masih berada di lokasi. Suasana haru tetap terasa, namun diiringi rasa harapan bahwa pengorbanan Farizal dan rekan-rekannya tidak akan sia-sia.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh bangsa tentang risiko yang dihadapi prajurit Indonesia dalam menjalankan misi perdamaian di luar negeri. Keberanian mereka menegakkan nilai-nilai perdamaian di wilayah konflik, sekaligus menebarkan rasa kebanggaan bagi generasi muda. Dengan tahlilan yang berlangsung hangat, masyarakat Kulon Progo menegaskan kembali rasa hormat dan dukungan mereka kepada TNI dan keluarga para pahlawan yang telah gugur.

Ke depan, keluarga Farizal akan melanjutkan proses pemakaman di wilayah asal almarhum, sementara pemerintah berjanji untuk terus memperkuat dukungan kepada keluarga prajurit yang berkorban. Upacara tahlilan ini, meski sederhana, mencerminkan nilai kekeluargaan dan solidaritas yang menjadi landasan kuat dalam budaya Indonesia.