Liput – 20 April 2026 | Leicester City kembali menjadi sorotan utama dalam perbincangan sepak bola Inggris usai serangkaian hasil menurun yang menempatkan klub pada posisi terancam turun ke Liga Satu. Meski begitu, klub sekaligus menampilkan sisi positif lewat prestasi individual Jordan James, yang dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Championship pada ajang penghargaan EFL 2026.
Jordan James, gelandang berusia 21 tahun yang sedang menjalani masa pinjaman dari Rennes, mencatatkan 10 gol dalam 31 penampilan musim ini, termasuk 26 kali menjadi starter. Penghargaan tersebut ia terima di depan rekan‑rekannya, termasuk Bobby Clark (Derby), Ashley Phillips (Stoke), dan Sydie Peck (Sheffield United). James mengakui momen tersebut terasa pahit manis mengingat performa tim yang berjuang keras di papan klasemen.
“Ini musim yang sangat sulit bagi kami, tapi secara pribadi saya berhasil mencetak angka yang tidak saya duga pada awal musim,” ujar James dalam konferensi pers sesudah menerima trofi. Ia menambahkan rasa terima kasih kepada Leicester City yang memberinya kesempatan kembali bersinar setelah masa sulit di Prancis.
Sementara James menikmati sorotan, rekan setimnya Louis Page berhasil menjuarai EFL Championship Apprentice of the Season. Page, yang bergabung sejak usia 9 tahun, telah menorehkan 16 penampilan di liga ini. Di samping itu, alumnus akademi klub, Sammy Braybrooke, masuk dalam tim Liga Dua Terbaik setelah masa peminjaman yang mengesankan bersama Newport County dan Chesterfield.
Namun, di sisi lain, tekanan atas hasil buruk tetap menggelayuti klub. Pada pekan sebelumnya, Leicester City mengalami kekalahan menyesakkan melawan Portsmouth, memicu pernyataan keras manajer Gary Rowett yang mengakui “kekurangan semangat” dan menuding kegagalan dalam proses pembangunan skuad. Rowett pun menegaskan perlunya perubahan struktural agar tim tidak terperosok lebih jauh.
Prediksi pertandingan melawan Hull City pada Selasa mendatang mencerminkan ketidakpastian. Analisis The72 memperkirakan Leicester City akan kesulitan mengendalikan tempo permainan dan berisiko kehilangan tiga poin penting yang dapat memperparah situasi degradasi.
Di luar lapangan, sebuah artikel OneFootball menelusuri nasib para pemain yang menjadi bagian dari keajaiban Leicester City pada musim 2015/2016, sepuluh tahun setelah kemenangan Liga Primer. Beberapa nama besar seperti Kasper Schmeichel kini berusia 39 dan berada di luar kompetisi utama, sementara Riyad Mahrez telah berlabuh ke Al Ahli dan menyiapkan diri untuk Piala Dunia bersama Aljazair. Demikian pula, Jamie Vardy kini bermain untuk Cremonese di Italia, dan Andrej Kramarić menjadi pencetak gol terbanyak Hoffenheim.
Situasi keuangan klub juga menjadi sorotan. Penurunan nilai komersial akibat potensi degradasi dapat mempengaruhi pendapatan hak siar, terutama setelah Sky menambah paket premium yang mencakup berbagai layanan streaming. Keputusan manajemen dalam menjual atau meminjam pemain kunci akan menjadi faktor penentu dalam upaya bertahan di Championship.
Berikut rangkuman statistik penting Leicester City musim ini:
| Statistik | Nilai |
|---|---|
| Pertandingan | 38 |
| Menang | 9 |
| Seri | 10 |
| Kalah | 19 |
| Gol untuk | 38 |
| Gol lawan | 58 |
Dengan tiga pertandingan tersisa, Leicester City harus mengoptimalkan setiap peluang. Manajer Rowett dikabarkan sedang menyiapkan formasi lebih defensif, namun tetap mengandalkan kreativitas James untuk menciptakan peluang. Jika tim berhasil mengamankan poin melawan Hull City, harapan bertahan di Championship masih terbuka, meski jalan menuju itu tetap menanjak.
Kesimpulannya, meskipun Leicester City berada di ambang degradasi, prestasi Jordan James memberikan secercah harapan bagi pendukung dan menegaskan bahwa talenta muda masih dapat bersinar di tengah krisis. Keberhasilan klub dalam mengatasi masalah struktural, taktik, dan keuangan akan menentukan apakah mereka dapat kembali ke jalur yang lebih stabil atau harus menelan nasib turun ke Liga Satu.