Myanmar Sikat Thailand, Raja ASEAN Terancam Angkat Koper di AFF U‑17 2026

Liput – 20 April 2026 | Piala AFF U‑17 2026 yang digelar di dua stadion utama di Jawa Timur—Gelora Joko Samudro, Gresik, dan Gelora Delta, Sidoarjo—menjadi saksi dramatis bagi tim-tim muda Asia Tenggara. Grup B yang awalnya dianggap mudah bagi Thailand, justru menyuguhkan kejutan besar ketika Myanmar sikat Thailand, memaksa sang raja ASEAN menyiapkan koper untuk pulang lebih awal.

Timnas U‑17 Thailand, yang dilatih oleh Sirisak Yodyadthai, masuk dalam Grup B bersama Laos, Myanmar, dan Filipina. Setelah mengamankan kemenangan 5‑1 melawan Filipina, harapan sempat mengembun. Namun, dua hasil negatif berikutnya mengubah nasib mereka. Pada laga pertama, Thailand kalah 0‑1 dari Myanmar di Stadion Gelora Joko Samudro. Gol tunggal Myanmar tercipta lewat serangan cepat di babak pertama yang tak dapat dibendung oleh lini pertahanan Thailand. Selanjutnya, Thailand menelan kekalahan 2‑3 melawan Laos, sehingga mengakhiri kampanye grup dengan tiga poin, menempati posisi ketiga di atas Filipina namun di bawah Myanmar dan Laos.

Kegagalan tersebut memicu langkah drastis Sirisak Yodyadthai mengundurkan diri sebagai pelatih setelah pertandingan melawan Laos. Dalam pernyataannya, ia meminta maaf kepada para penggemar dan menegaskan bahwa performa tim tidak memenuhi ekspektasi. Keputusan itu menambah tekanan pada federasi sepak bola Thailand, yang kini harus mencari pengganti sambil menilai kembali strategi pengembangan bakat muda.

Sementara itu, Laos tampil gemilang dengan mengumpulkan tujuh poin, menjadi juara grup. Myanmar, dengan empat poin, menempati posisi kedua berkat kemenangan tipis atas Thailand dan hasil imbang melawan Filipina. Kedua tim tersebut melaju ke babak gugur, memperpanjang harapan mereka untuk menembus final.

Di Grup A, tuan rumah Indonesia juga merasakan getirnya kompetisi. Setelah dua laga awal, Indonesia mengumpulkan empat poin dan harus berhadapan dengan Vietnam U‑17 pada laga penentu. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Delta berakhir dengan skor 0‑0, meski Indonesia menampilkan beberapa peluang lewat serangan balik. Kiper Abdillah Ishak menjadi pahlawan dengan menyelamatkan dua tembakan berbahaya dari Nguyen Van Duong dan Le Sy Bach. Hasil imbang tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dengan empat poin, sementara Vietnam mengukir tujuh poin dan melaju ke semifinal.

Berikut ini rangkuman singkat hasil grup:

  • Grup A: Vietnam 7 poin (juara), Malaysia 6 poin, Indonesia 4 poin, Timor Leste 0 poin.
  • Grup B: Laos 7 poin (juara), Myanmar 4 poin, Thailand 3 poin, Filipina 0 poin.

Kegagalan Thailand dan Indonesia menjadi pelajaran berharga bagi federasi masing-masing. Pelatih Thailand harus segera menemukan pengganti yang mampu menata kembali taktik dan mental skuad muda. Sementara Indonesia, di bawah asuhan Kurniawan Dwi Yulianto, diharapkan melakukan evaluasi mendalam agar tim dapat tampil lebih kompetitif pada Piala Asia U‑17 2026 yang akan datang.

Turnamen ini tidak hanya menampilkan bakat-bakat muda, tetapi juga menyoroti dinamika kompetitif di wilayah ASEAN. Myanmar sikat Thailand menjadi momen penting yang menunjukkan bahwa tidak ada tim yang dapat dianggap remeh. Persaingan semakin ketat, dan setiap negara harus berinvestasi pada program pembinaan pemain agar dapat bersaing di level regional maupun internasional.

Dengan berakhirnya fase grup, mata kini beralih ke babak knockout. Vietnam, Malaysia, Laos, dan Myanmar akan bertarung untuk merebut gelar juara. Sementara itu, para pengamat sepak bola menantikan bagaimana perubahan kepelatihan di Thailand akan memengaruhi performa mereka di turnamen berikutnya.

Kesimpulannya, turnamen AFF U‑17 2026 menyajikan cerita penuh liku, di mana Myanmar sikat Thailand menandai perubahan lanskap kompetitif. Kegagalan kedua tim besar ini membuka peluang bagi negara-negara lain untuk menonjol, sekaligus menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam pengembangan sepak bola muda di Asia Tenggara.