Liput – 19 April 2026 | Sabtu, 19 April 2024, warga Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, menjadi saksi nyata komitmen sosial Pemerintah Kabupaten Badung melalui pelaksanaan Gerakan Badung Peduli. Kegiatan yang dilaksanakan pada pagi hari itu menitikberatkan pada penyediaan paket sembako bagi warga penyandang disabilitas, sekaligus menegaskan pentingnya solidaritas antar‑warga dalam menciptakan lingkungan yang inklusif.
Kepala Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, memimpin acara tersebut secara langsung. Bersama beliau hadir Camat Kuta Selatan, Kepala Dinas Perikanan Badung, Perbekel Desa Kutuh, Bendesa Adat Kutuh, Ketua Tim PKK Kecamatan dan Desa Kutuh, serta perwakilan Yayasan Bunga Bali. Seluruh pihak menegaskan sinergi lintas sektor sebagai kunci keberhasilan inisiatif ini.
Setelah sambutan singkat, tim Gerakan Badung Peduli menyerahkan paket sembako yang berisi beras, minyak goreng, gula, kopi, dan kebutuhan pokok lainnya kepada salah satu warga penyandang disabilitas di desa tersebut. Penerima bantuan, yang memilih untuk tetap anonim, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam karena bantuan tersebut dapat meringankan beban ekonomi keluarga yang selama ini berjuang dengan keterbatasan mobilitas.
Rasniathi Adi Arnawa menekankan bahwa acara ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan wujud hati yang tulus dari masyarakat Badung. “Semoga bantuan yang diberikan ini bermanfaat dan menjadi berkah. Mari kita terus jaga semangat berbagi dan saling menyayangi sesama, karena kepedulian kecil kita berarti sangat besar bagi mereka,” ujarnya dalam pidatonya. Ia menambahkan bahwa Gerakan Badung Peduli akan terus mengoptimalkan jangkauan bantuan, terutama bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, dan keluarga kurang mampu.
Selain penyerahan paket sembako, kegiatan juga mencakup sesi dialog singkat antara pemerintah daerah dan warga. Diskusi berfokus pada identifikasi kebutuhan khusus warga disabilitas di Kutuh, termasuk aksesibilitas fasilitas publik, peluang kerja, dan layanan kesehatan. Hasil diskusi menghasilkan komitmen untuk mengadakan program pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas serta meningkatkan sarana transportasi ramah difabel.
Sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan tokoh adat diharapkan menjadi model replicable bagi wilayah lain di Kabupaten Badung. Dengan menempatkan warga sebagai prioritas utama, Gerakan Badung Peduli berupaya menciptakan lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan. Keberhasilan acara di Desa Kutuh menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan dampak sosial yang signifikan, memperkuat rasa kebersamaan, serta menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan.