Liput – 18 April 2026 | Denpasar, 17 April 2026 – Panggung Terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Denpasar menjadi saksi megahnya perayaan puncak Dharma Santi Nasional 2026, rangkaian acara yang menandai hari suci Nyepi tahun Saka 1948. Acara yang digelar pada Jumat, 17 April 2026, mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju” dan menampilkan pementasan kolosal berjudul “Nusantara Manunggal“.
Fragmentari “Nusantara Manunggal” merupakan karya kreatif siswa-siswi SMK Negeri 3 Sukawati, Gianyar (KOKAR). Melalui kombinasi tari, drama, musik tradisional, dan multimedia, pertunjukan ini menelusuri jejak spiritual Mahapatih Gajah Mada setelah keberhasilan menyatukan Nusantara lewat Sumpah Palapa. Alih-alih menampilkan Gajah Mada sebagai penakluk semata, pementasan ini menonjolkan sosoknya sebagai penjaga persatuan yang mengembara ke pelosok kepulauan, mulai dari Bali, Jawa, hingga wilayah timur Indonesia.
Setiap adegan menggambarkan keragaman adat, bahasa, dan kepercayaan yang ditemui Gajah Mada dalam perjalanannya. Penonton dibawa menyaksikan tarian tradisional Bali yang diiringi gamelan, diikuti oleh gerak tari Jawa klasik, serta pertunjukan musik dari suku Toraja, sehingga menegaskan bahwa persatuan tidak berarti homogenitas, melainkan harmoni dalam perbedaan.
- Tujuan utama: Menyampaikan pesan persatuan dan keadilan.
- Pesan tersirat: Kesejahteraan bangsa tercapai bila keberagaman dijaga.
- Nilai budaya: Gotong royong, toleransi, dan rasa hormat.
Dalam narasi visual, Gajah Mada digambarkan memegang sebuah kitab kuno yang berisi Sumpah Palapa, simbol tekadnya untuk tidak menundukkan diri pada kepentingan pribadi. Ia melintasi pegunungan, hutan, dan lautan, menyaksikan upacara adat, ritual keagamaan, serta kearifan lokal yang menjadi benang merah kebudayaan Indonesia. Setiap interaksi menambah dimensi spiritual, menekankan bahwa persatuan yang sejati lahir dari penghargaan terhadap keunikan masing-masing daerah.
Penggunaan fragmentasi visual – pemotongan gambar menjadi mosaik – menambah kesan modern pada pertunjukan tradisional. Teknik ini dipilih untuk mencerminkan realitas Indonesia yang terdiri dari pecahan-pecahan budaya yang bersatu menjadi satu gambar besar. Penataan pencahayaan, proyeksi latar belakang berwarna emas, serta kostum yang memadukan motif batik, songket, dan anyaman tradisional menambah daya tarik estetika.
Penampilan “Nusantara Manunggal” tidak hanya menjadi hiburan, melainkan juga edukasi bagi penonton. Melalui dialog singkat antara Gajah Mada dan tokoh-tokoh lokal, muncul nilai-nilai keadilan sosial, kepedulian lingkungan, serta pentingnya menjaga warisan budaya. Salah satu adegan menampilkan Gajah Mada berdiskusi dengan seorang tokoh adat dari Papua tentang pentingnya melestarikan hutan, menegaskan bahwa persatuan harus dilandasi kepedulian terhadap alam.
Keterlibatan siswa-siswi SMK Negeri 3 Sukawati dalam produksi ini menunjukkan betapa generasi muda Indonesia siap mengemban tugas budaya. Mereka tidak hanya menampilkan gerakan tari, tetapi juga terlibat dalam penulisan naskah, desain kostum, serta pengelolaan teknis pencahayaan. Upaya kolaboratif ini menjadi contoh nyata gotong royong, selaras dengan semangat Dharma Santi yang menekankan damai, kerja sama, dan kebersamaan.
Acara Dharma Santi Nasional 2026 sendiri merupakan bagian penting dalam rangkaian perayaan Nyepi, yang menekankan introspeksi, kebersihan, dan kedamaian. Dengan menampilkan “Nusantara Manunggal” sebagai penutup, penyelenggara berhasil mengaitkan makna spiritual Nyepi dengan pesan persatuan nasional. Penonton yang hadir, mulai dari tokoh pemerintah, budayawan, hingga warga umum, menyambut dengan tepuk tangan meriah, menandakan keberhasilan penyampaian pesan.
Secara keseluruhan, pementasan ini berhasil menyatukan unsur tradisional dan kontemporer, menegaskan bahwa budaya Indonesia tidak statis melainkan dinamis. Gajah Mada, dalam wujud spiritualnya, menjadi simbol pemersatu yang menginspirasi generasi masa kini untuk terus menjaga keragaman sebagai kekuatan utama bangsa.
Dengan keberhasilan acara ini, diharapkan momentum Dharma Santi dapat terus memperkuat rasa persaudaraan antarwarga, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta menjadikan Indonesia semakin maju dalam kerangka kebinekaan yang inklusif.