Liput – 16 April 2026 | Fenomena El Nino yang pada akhir-akhir ini dijuluki “Godzilla” kembali menjadi sorotan publik setelah BMKG, Kementerian Kesehatan, serta sejumlah pakar klimatologi memberikan penjelasan lengkap mengenai mekanisme, prediksi hingga dampak yang mungkin dirasakan masyarakat Indonesia hingga Oktober 2026.
El Nino‑Southern Oscillation (ENSO) adalah siklus iklim alami yang dipicu oleh interaksi antara suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis dan tekanan atmosfer di wilayah tersebut. Pada fase El Nino, suhu permukaan laut di zona tengah‑timur Pasifik meningkat secara signifikan, menghasilkan anomali suhu (+0,5 °C sampai +2,0 °C) yang dapat memengaruhi pola hujan global. Istilah “Godzilla” tidak memiliki dasar ilmiah; istilah ini muncul dalam media sebagai cara menarik perhatian publik terhadap potensi dampak ekstrim yang lebih besar dari biasanya.
Menurut pernyataan Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG, Teguh Wardoyo, sepanjang tahun 2026 Indonesia masih berada dalam fase netral ENSO. Namun, pada semester kedua tahun ini terdapat peluang sekitar 55 % untuk beralih ke fase El Nino lemah‑moderate, terutama antara bulan Juni hingga Agustus. BMKG menegaskan tidak ada indikasi munculnya “El Nino Godzilla” yang ekstrem, namun tetap mengingatkan bahwa perubahan suhu laut yang sedikit pun dapat memperparah kondisi kemarau di wilayah tertentu.
Di Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan DKI, Ani Ruspitawati, memperingatkan bahwa kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan penurunan kualitas udara dapat menimbulkan ancaman kesehatan serius. Risiko heatstroke, dehidrasi, serta eksaserbasi penyakit kronis seperti hipertensi dan asma diproyeksikan meningkat. Selain itu, polusi udara yang terakumulasi pada hari‑hari panas dapat memperparah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan memicu lonjakan kasus asma, terutama pada anak‑anak dan lansia.
Dokter spesialis anak dan konselor laktasi, Lucky Yogasatria, menambahkan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak kesehatan akibat cuaca ekstrem. Ia menekankan pentingnya istirahat cukup, asupan nutrisi seimbang, serta mikronutrisi seperti vitamin D, vitamin C, dan zinc untuk memperkuat sistem imun. Berikut rangkaian langkah praktis yang disarankan untuk melindungi anak selama periode El Nino:
- Pastikan anak mendapatkan tidur minimal 8‑10 jam per hari.
- Berikan makanan kaya protein, buah‑buah segar, serta sayuran berwarna.
- Lengkapi pola makan dengan suplemen vitamin D, vitamin C, dan zinc bila diperlukan.
- Jaga kecukupan cairan, terutama pada siang hari yang panas.
- Kurangi paparan langsung ke sinar matahari pada jam 10.00‑15.00; gunakan pakaian longgar dan topi.
- Periksa kondisi lingkungan rumah, pastikan ventilasi cukup dan minimalkan debu serta alergen.
Selain dampak kesehatan, El Nino juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, perikanan, dan ekonomi secara umum. Pada siklus El Nino kuat sebelumnya (1997/1998, 2015/2016), Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang signifikan, mengakibatkan kekeringan pada lahan pertanian dan menurunnya produksi padi. Di sisi lain, suhu laut yang lebih hangat dapat meningkatkan produktivitas perikanan di beberapa zona, namun juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit ikan.
Para peneliti dari STMKG menekankan pentingnya pemahaman data ilmiah dalam menyikapi istilah “Godzilla”. Mereka mengingatkan bahwa klasifikasi intensitas El Nino didasarkan pada nilai anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Niño 3.4, bukan pada julukan populer. Dengan nilai SST yang masih berada di bawah ambang +0,5 °C, Indonesia diperkirakan tidak akan mengalami dampak ekstrem yang mengancam ketahanan pangan secara luas.
Meski demikian, pemerintah daerah dan lembaga kesehatan tetap diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Dinas Kesehatan DKI telah menyiapkan protokol darurat untuk meningkatkan kapasitas rumah sakit, memperbanyak titik penangangan air bersih, serta melakukan kampanye edukasi publik tentang bahaya dehidrasi dan polusi udara. BMKG juga berkomitmen untuk terus memantau anomali suhu laut dan memberikan peringatan dini melalui aplikasi Cuaca BMKG.
Secara keseluruhan, El Nino 2026 diproyeksikan berada pada fase lemah‑moderate dengan potensi kemarau terbatas pada wilayah tertentu. Masyarakat diharapkan tetap waspada, memperkuat kebiasaan hidup sehat, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan Kementerian Kesehatan. Dengan langkah preventif yang tepat, dampak kesehatan dan ekonomi dapat diminimalkan meski fenomena iklim ini tetap menjadi tantangan global.