Liput – 16 April 2026 | Menpora Malaysia, Datuk Seri Dr. Khairy Jamaluddin, pada konferensi pers di Kuala Lumpur pekan ini menegaskan bahwa kementeriannya belum memiliki hak siar resmi untuk Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan spekulasi internasional mengenai kemungkinan mundurnya Tim Nasional Iran dari turnamen dan dampaknya terhadap alokasi slot bagi tim Asia, termasuk Indonesia.
Khairy menyatakan, “Kami masih dalam proses negosiasi dengan badan penyiaran regional dan FIFA. Saat ini, hak siar belum dialokasikan kepada Malaysia, dan kami terus berupaya memastikan penonton di seluruh Asia dapat menonton kompetisi terbesar sepak bola ini secara legal dan berkualitas.” Ia menambahkan bahwa pemerintah Malaysia berkomitmen untuk mendukung pengembangan sepak bola di kawasan melalui kerjasama lintas batas, termasuk pembahasan hak siar bersama negara‑negara ASEAN.
Sementara itu, situasi geopolitik di Timur Tengah menambah ketidakpastian pada jadwal turnamen. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) telah mengajukan permohonan relokasi pertandingan grup mereka ke Meksiko karena kekhawatiran keamanan yang dipicu oleh ketegangan berkelanjutan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. FIFA menolak permohonan tersebut, menegaskan bahwa logistik dan integritas kompetisi tidak memungkinkan perubahan lokasi pada saat itu.
Jika Iran memutuskan untuk mundur, regulasi FIFA mengenai “force majeure” (Pasal 6.5) memungkinkan badan penyelenggara untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan penggantian tim. Pasal 6.7 secara eksplisit memberi wewenang FIFA untuk memilih tim pengganti tanpa harus mematuhi konfederasi asal tim yang keluar. Hal ini membuka peluang bagi tim‑tim lain, baik dari Asia maupun Eropa, untuk mengisi kekosongan slot.
Berbagai skenario telah dibahas oleh analis sepak bola internasional. Beberapa opsi yang paling sering disebutkan meliputi:
- Penggantian oleh tim Asia lain, misalnya Uni Emirat Arab atau Oman, yang berada di peringkat FIFA lebih tinggi dan memiliki catatan kompetitif yang stabil.
- Memasukkan tim dari zona UEFA, seperti Italia atau Denmark, yang secara historis menunjukkan performa kuat dalam playoff antarkonfederasi.
- Melaksanakan turnamen playoff tambahan yang melibatkan empat tim (dua dari Asia, dua dari Eropa) untuk menentukan pengganti slot yang hilang.
Keberadaan slot tambahan ini menjadi harapan bagi Timnas Indonesia, yang belum mengamankan hak siar maupun partisipasi langsung di Piala Dunia 2026. Meskipun peluang Indonesia untuk masuk melalui jalur playoff tambahan masih dipandang tipis karena hasil kualifikasi yang belum memuaskan, PSSI tetap optimis. Dalam sebuah pernyataan resmi, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menekankan pentingnya kesiapan mental dan taktis tim Garuda untuk memanfaatkan setiap peluang yang muncul, termasuk kemungkinan penambahan jalur play‑off yang diumumkan oleh FIFA.
Media Italia, Blog Sicilia, melaporkan bahwa mereka telah mencoret nama Indonesia dari daftar calon tim pengganti dalam skenario darurat, berargumen bahwa regulasi FIFA memberi hak penuh kepada otoritas untuk memilih tim tanpa harus mempertimbangkan konfederasi asal. Pendapat ini menuai kritik dari kalangan pengamat Asia yang menilai keputusan tersebut tidak adil dan mengabaikan upaya pengembangan sepak bola di kawasan.
Di sisi lain, laporan dari CNN Indonesia menyoroti bahwa jika Iran mundur, FIFA dapat memilih tim pengganti berdasarkan peringkat dunia atau performa terkini di kompetisi internasional. Ini berarti negara‑negara dengan peringkat FIFA tinggi, seperti Italia, bisa masuk, sementara negara‑negara Asia yang peringkatnya lebih rendah mungkin harus menunggu kesempatan di edisi selanjutnya.
Menpora Malaysia menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya kolaborasi regional. “Kami berharap ASEAN dapat bersinergi dalam menegosiasikan hak siar dan memastikan bahwa fans di seluruh Asia tidak kehilangan momen bersejarah ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meski Malaysia belum memiliki hak siar, upaya bersama antara negara‑negara ASEAN dapat memperkuat posisi tawar melawan jaringan penyiaran global.
Secara keseluruhan, dinamika politik, regulasi FIFA, serta negosiasi hak siar menambah lapisan kompleksitas pada persiapan Piala Dunia 2026. Keputusan akhir mengenai partisipasi Iran, kemungkinan tim pengganti, dan alokasi hak siar di Asia masih menjadi sorotan utama menjelang peluncuran turnamen pada musim panas 2026.
Dengan semua faktor tersebut, para pemangku kepentingan—termasuk Menpora Malaysia, PSSI, dan federasi‑federasi lain—harus terus memantau perkembangan dan menyiapkan strategi yang fleksibel untuk memastikan bahwa sepak bola Asia tetap mendapatkan panggung yang layak di kompetisi paling bergengsi dunia.