Liput – 04 April 2026 | SELESAI PERTEMPURAN MELALUI SELAT HORMUZ, sebuah kapal kontainer milik perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM berhasil melintasi selat strategis tersebut pada 2 April 2026, menjadi kapal pertama dari Eropa Barat yang menembus jalur yang selama lebih dari sebulan ditutup akibat ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kapal tersebut, bernama Kribi dan berlayar di bawah bendera Malta, mengaktifkan transpondernya di perairan lepas pantai Dubai pada 28 Maret sebelum memasuki jalur alternatif yang mengelilingi Pulau Larak di lepas pantai Iran.
Rute baru yang dipilih menghindari lintasan utama selat, melainkan menelusuri perairan di dekat pantai Oman sebelum menyeberang ke perairan Iran. Data pelacakan dari MarineTraffic dan konfirmasi BFM TV, jaringan media milik CMA CGM, menunjukkan bahwa kapal tersebut berhasil melewati wilayah yang secara resmi dibatasi oleh Iran namun masih terbuka bagi “kapal-kapal yang tidak bermusuhan”. Selama pelayaran tidak ada laporan serangan atau gangguan, menandakan adanya toleransi atau kesepakatan tacit antara otoritas Iran dan pihak pengelola pelayaran.
Keberhasilan Kribi menandai momen penting bagi industri maritim internasional. Menurut analis Lloyd’s List Intelligence, sebelum penutupan pada akhir Februari lalu, sekitar 200 kapal tertahan di sekitar Selat Hormuz, mengakibatkan penurunan lalu lintas hingga 95 persen dibandingkan sebelum konflik. Dampak penurunan ini dirasakan di pasar energi global; sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya mengalir melalui selat tersebut. Penurunan drastis tersebut memicu lonjakan harga minyak, yang selanjutnya menambah tekanan inflasi di banyak negara.
- Kapal: CMA CGM Kribi
- Bendera: Malta
- Tanggal lintas: 2 April 2026
- Rute alternatif: Pulau Larak, dekat pantai Iran, dan perairan Oman
- Muatan: Belum diungkap secara resmi
Di balik operasional pelayaran, keputusan politik turut berperan. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan penolakannya untuk terlibat dalam operasi militer membuka kembali Selat Hormuz, menyatakan bahwa solusi diplomatik lebih realistis. Sikap ini kontras dengan retorika Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang pada awal Maret mengkritik sekutu-sekutunya karena tidak memberikan dukungan militer, bahkan mengungkapkan keinginan membuka selat “dengan sedikit waktu lagi”.
Meski demikian, Iran tampak tidak memperlakukan kapal Prancis sebagai ancaman. Pihak otoritas Iran secara terbuka menyatakan bahwa kapal non‑musuh dapat menggunakan selat, dan laporan media lokal menunjukkan bahwa setidaknya dua kapal telah membayar biaya penggunaan koridor di sekitar Pulau Larak, yang dijuluki “Tehran Toll Booth”. Hal ini mengindikasikan upaya Iran untuk mengendalikan arus lalu lintas maritim sambil tetap mempertahankan aliran energi penting bagi perekonomian global.
Keberhasilan pelayaran Kribi juga menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme izin yang memungkinkan kapal tersebut menyeberang. Sebelum memasuki perairan teritorial Iran, sistem identifikasi otomatis kapal (AIS) diubah untuk menampilkan “Owner France”, sebuah sinyal yang biasanya dipakai untuk menunjukkan kebangsaan pemilik kapal kepada otoritas pelabuhan. Langkah ini kemungkinan membantu memperjelas status netral kapal di mata Iran.
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa, termasuk Spanyol dan Italia, mengkritik kebijakan penggunaan pangkalan udara mereka bagi pesawat militer AS yang terlibat dalam operasi di wilayah tersebut. Prancis bahkan menolak resolusi Bahrain di Dewan Keamanan PBB yang mengusulkan penggunaan kekuatan militer untuk membuka kembali selat, dengan menekankan hak vetonya sebagai anggota tetap.
Secara ekonomi, pelayaran kembali melalui Selat Hormuz diharapkan dapat menurunkan biaya transportasi energi dan bahan kimia. Menurut data LSEG, biaya transpor melalui selat dapat mencapai hingga Rp 33 miliar per perjalanan bagi kapal berukuran besar. Kembalinya lalu lintas normal akan menstabilkan pasokan, mengurangi volatilitas harga minyak, dan memberi dorongan bagi sektor industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Secara keseluruhan, pelayaran Kribi menjadi simbol harapan bagi dunia maritim bahwa jalur perdagangan penting dapat dipulihkan meski dalam kondisi geopolitik yang tegang. Keberhasilan ini sekaligus menjadi ujian bagi diplomasi internasional dalam mengelola konflik regional tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi global.