Liput – 14 April 2026 | Jakarta, 14 April 2026 – Pada Sabtu, 11 April, kawasan bersejarah Kota Tua menjadi saksi bisu pertemuan lintas agama, budaya, dan ekonomi dalam rangkaian acara Halal Bihalal yang digelar sekaligus memperkuat jaringan silaturahmi di ibu kota. Acara ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan setelah Idulfitri, melainkan juga sebuah platform strategis untuk menumbuhkan kepedulian sosial, inklusivitas, serta memperkuat perekonomian lokal.
Acara utama, Halal Bihalal DWP DKI Jakarta, dilaksanakan di Hotel Tavia Heritage, Cempaka Putih, dengan kehadiran lebih dari 400 anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi DKI Jakarta. Ketua DWP Pusat, Ida Budi Gunadi Sadikin, bersama Pembina DWP DKI, Hani Pramono Anung, serta Ketua DWP DKI, Lisniawati Uus Kuswanto, menegaskan bahwa pertemuan ini berfungsi sebagai jembatan mempererat tali persaudaraan setelah Ramadan. Tema “Cahaya Idulfitri, Kuatkan Silaturahmi” menekankan nilai‑nilai moral yang terpatri selama bulan puasa, menjadikannya cahaya yang menerangi hati setiap anggota.
Dalam sambutannya, Lisniawati menuturkan, “Halal Bihalal bukan sekadar ritual, melainkan landasan membangun kebersamaan, kepedulian, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat serta organisasi.” Ia menambahkan komitmen DWP DKI untuk terus berkolaborasi dengan program Pemerintah Provinsi, khususnya dalam bidang kesejahteraan, edukasi anak usia dini, dan program DWP Mengajar.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memanfaatkan momentum yang sama untuk mengangkat acara Halalbihalal Jakarta 2026 menjadi puncak rangkaian Jakarta Festive Wonder. Acara yang diselenggarakan di area Kota Tua melibatkan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, serta menampilkan beragam budaya – dari Christmas Carol, Imlek Kolosal, hingga Festival Ogoh‑ogoh dan Jakarta Bedug Kolosal. Rano Karno menekankan pentingnya inklusivitas sosial, “Kota ini harus menjadi ruang yang merangkul, bukan memisahkan.”
Data ekonomi yang diungkapkan oleh Pemprov DKI menunjukkan perputaran uang mencapai Rp 67,5 triliun selama rangkaian Jakarta Festive Wonder, mencakup periode Natal hingga April 2026. Selain itu, program mudik ke Jakarta yang diinisiasi Gubernur mencatat transaksi senilai Rp 20 miliar, menegaskan peran Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi nasional.
Penguatan sektor UMKM menjadi sorotan khusus. PT Netzme Kreasi Indonesia, melalui kolaborasi dengan program Jakpreneur dan Perumda Pasar Jaya, meluncurkan inovasi QRIS Soundbox yang memudahkan pedagang pasar dalam transaksi digital. Bayu Wijanarto, Chief Commercial Officer Netzme, menyatakan, “Teknologi sederhana namun tepat guna ini memastikan pedagang pasar tidak tertinggal dalam transformasi digital.” Hingga April 2026, jaringan digitalisasi telah menyentuh 21 pasar tradisional, meningkatkan keamanan transaksi dan kepercayaan konsumen.
Tak kalah penting, Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII) turut menggelar Halalbihalal IKA UII 2026 di Auditorium Gedung F BPSDM Kemendagri RI, Jakarta Selatan. Mengusung tema “Bersatu dalam Iman, Bergerak dalam Pengabdian”, acara ini menampilkan tausiyah oleh Said Agil Husin Al Munawar, penampilan tari Melayu Lancang Kuning, serta video testimoni almarhum Drs. H. Syafaruddin Alwi. Ketua Umum DPP IKA UII, Ari Yusuf Amir, menegaskan bahwa pertemuan alumni ini bukan sekadar tradisi, melainkan sarana strategis untuk memperkuat jaringan sosial, akademik, dan kontribusi nyata bagi bangsa.
Berbagai elemen – DWP, pemerintah provinsi, serta komunitas alumni – berhasil menyatu dalam satu panggung yang sama, menegaskan bahwa silaturahmi di Kota Tua bukan sekadar agenda religius, melainkan ruang lintas agama dan budaya yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif. Semua pihak sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor, digitalisasi UMKM, serta semangat kebersamaan menjadi kunci utama menjadikan Jakarta kota yang ramah, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Keberhasilan acara ini memberikan contoh konkret bagi kota‑kota lain di Indonesia dalam mengintegrasikan tradisi keagamaan dengan agenda pembangunan ekonomi dan sosial. Diharapkan, momentum silaturahmi di bawah langit Jakarta ini dapat terus berlanjut, memperkuat jaringan solidaritas antar‑umat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.