Liput – 14 April 2026 | Joko Anwar kembali menorehkan jejak kreatifnya di layar lebar setelah sukses menyajikan Pengepungan di Bukit Duri. Film terbarunya, Ghost in the Cell, mengusung genre horor komedi yang dibalut dengan kritik tajam terhadap sistem penjara Indonesia. Dirilis pada 16 April 2026, film ini menjanjikan pengalaman menegangkan sekaligus menggelitik, dengan latar penjara yang menjadi cerminan miniatur masyarakat.
Berbeda dari karya sebelumnya yang menyoroti dinamika di lingkungan sekolah, Anwar mengalihkan fokus pada Lapas Labuhan Angsana, sebuah fasilitas pemasyarakatan yang sarat dengan cerita kelam dan konflik internal. Narasi film mengisahkan kehidupan para narapidana yang harus bertahan di tengah penindasan pejabat lapas, perseteruan antar sel, serta kehadiran sosok narapidana baru yang merupakan mantan jurnalis terjerat kasus kriminal berat. Kedatangan tokoh ini memicu rangkaian peristiwa misterius yang melampaui logika manusia, dengan serangkaian kematian brutal yang diyakini berhubungan dengan kekuatan gaib yang menyasar energi negatif terbesar.
Elemen supernatural dalam Ghost in the Cell tidak hanya berfungsi sebagai alat horor, melainkan juga sebagai metafora bagi tekanan psikologis yang dialami tahanan. Film menekankan pentingnya menjaga aura positif sebagai strategi bertahan hidup, menampilkan upaya para narapidana yang beralih dari tindakan egois ke kerja sama kolektif. Dalam prosesnya, mereka harus menanggalkan konflik lama dan bersatu melawan dua musuh utama: sistem penindasan yang korup dan entitas tak kasat mata yang terus mengintai.
Selain menyoroti trauma kolektif bangsa, Anwar juga menyisipkan isu lingkungan, khususnya deforestasi, sebagai latar tambahan yang menambah kedalaman cerita. Meskipun tidak menjadi fokus utama, kehadiran tema ini memperkuat pesan film bahwa masalah sosial dan ekologis saling terkait. Joko Anwar mengaku tersentuh ketika melihat realitas yang diangkat dalam film terwujud di dunia nyata, menegaskan bahwa karyanya berfungsi sebagai cermin kritis bagi penonton.
Keberhasilan distribusi menjadi catatan penting lain bagi Ghost in the Cell. Diproduksi oleh Come and See Pictures, film ini dijadwalkan tayang di 86 negara, melampaui pencapaian Pengabdi Setan yang sebelumnya menembus 42 negara. Rute distribusi mencakup Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa (Jerman, Prancis, Spanyol, Italia), Rusia, Australia, India, serta berbagai negara di Asia, menandai langkah signifikan bagi perfilman Indonesia dalam pasar global.
Berikut daftar pemeran utama yang menghidupkan atmosfer kelam penjara dalam Ghost in the Cell:
- Abimana Aryasatya sebagai Anggoro
- Almanzo Konoralma sebagai Buki
- Aming Sugandhi sebagai Tokek
- Arswendy Bening Swara sebagai Prakasa
- Bront Palarae sebagai Jefry
- Dimas Danang Suryonegoro sebagai Irfan
- Dewa Dayana sebagai Prakasa muda
- Endy Arfian sebagai Dimas
- Faiz Vishal sebagai Vijay
- Haydar Salishz sebagai Donald
- Yuhang Ho sebagai Rendra
- Ical Tanjung sebagai Bambang
- Kiki Narendra sebagai Sapto
- Lukman Sardi sebagai Pendi
- Magistus Miftah sebagai Novilham
- Mike Lucock sebagai Wildan
- Morgan Oey sebagai Bimo
Penggabungan pemain dengan latar yang kuat menciptakan dinamika yang memikat, memungkinkan penonton merasakan ketegangan yang terus meningkat seiring alur cerita. Dari sudut pandang naratif, film menyajikan keseimbangan antara humor gelap dan elemen gore, menghindari penggunaan jumpscare berlebihan. Sebaliknya, atmosfer dibangun secara perlahan namun menekan, menjadikan setiap adegan terasa mengancam.
Reaksi penonton pada premier menunjukkan bahwa Ghost in the Cell berhasil menyajikan kombinasi unik antara tawa dan teror. Banyak yang mengapresiasi cara film ini mengangkat isu sosial—penindasan, korupsi, hingga kerusakan lingkungan—melalui lensa horor. Penonton juga mencatat bahwa keberanian Anwar menampilkan penjara sebagai microcosm masyarakat Indonesia memberikan ruang refleksi yang mendalam.
Secara keseluruhan, Ghost in the Cell bukan sekadar film horor biasa. Ia mengajak penonton menyelami realitas kelam yang tersembunyi di balik jeruji besi, sekaligus mengingatkan akan pentingnya solidaritas dan integritas moral di tengah sistem yang tidak berpihak. Bagi pecinta film yang mencari pengalaman menegangkan sekaligus berpikir kritis, karya Joko Anwar ini layak menjadi pilihan utama pada pekan pertama tayangnya.