Liput – 14 April 2026 | Gramedia.com mengangkat sorotan pada novel terbaru Christy Carlyle, The Scoundrel and the Siren, yang memadukan unsur petualangan pencarian harta karun dengan dinamika romantis enemies-to-lovers. Berlatar di wilayah pesisir Norfolk, cerita ini menampilkan dua protagonis dengan motivasi berbeda namun berujung pada pengungkapan perasaan yang tak terduga.

Tokoh utama pertama, Tess Hawthorne, digambarkan sebagai perempuan lokal yang cerdas, tangguh, dan memiliki pengetahuan mendalam tentang wilayah tersebut. Ia tidak sekadar menjadi pemandu, melainkan memiliki agenda pribadi dalam pencarian harta karun legendaris Viking Horde yang selama ini hanya menjadi mitos rakyat. Di sisi lain, Dominic Prince muncul sebagai pemburu harta karun berpengalaman, dikenal karena reputasinya yang mengesankan namun masih dipertanyakan keandalannya. Bagi Dominic, harta tersebut bukan sekadar benda berharga, melainkan peluang untuk menegaskan diri di mata ayahnya yang juga seorang pemburu legendaris.

Pertemuan keduanya awalnya terkesan kebetulan, namun seiring waktu terungkap bahwa keduanya berada di jalur yang sama—mengejar harta yang sama dengan cara yang kontras. Konflik kepentingan ini memicu tarik‑ulur yang intens, memperlihatkan bagaimana rasa curiga dapat berubah menjadi ketertarikan ketika keduanya dipaksa bekerja sama. Dinamika ini mengingatkan pembaca pada trope klasik “musuh menjadi kekasih” yang populer dalam serial Bridgerton, namun kali ini dibalut nuansa petualangan arkeologi.

Baca juga:

Berikut beberapa elemen yang membuat The Scoundrel and the Siren menonjol di antara karya sejenis:

Baca juga:
  • Bagian dari seri Princes of London: Sebagai buku kedua dalam seri, novel ini tetap dapat dinikmati secara mandiri tanpa keharusan membaca judul pertama, The Duke and Lady Scandal.
  • Perpaduan genre: Menggabungkan romansa historis, petualangan, misteri, serta kompetisi, sehingga pembaca disuguhkan variasi emosional yang kaya.
  • Trope enemies‑to‑lovers: Kedua tokoh utama awalnya saling berseteru, namun perlahan membuka lapisan kepribadian masing‑masing, menciptakan momen baper yang konsisten.
  • Setting historis yang ringan: Walaupun berlatar era Victoria, narasi tetap mudah dicerna, memberi nuansa atmosfir yang terasa otentik tanpa menjadi beban.
  • Rating solid: Dengan 304 halaman, buku ini memperoleh skor 3,62 di Goodreads, menandakan respons positif pembaca.

Penulis, Christy Carlyle, merupakan penulis asal Amerika Serikat yang telah meraih predikat USA Bestselling Author. Latar belakangnya sebagai mantan guru dengan ketertarikan kuat pada sejarah menjadikan karya‑karyanya sarat detail historis namun tetap mengalir dengan natural. Carlyle dikenal menonjolkan karakter perempuan mandiri yang menantang batas zaman, serta tokoh pria dengan kompleksitas moral yang tidak selalu sempurna. Serial Princes of London menegaskan konsistensi gaya tersebut, menampilkan rangkaian cerita yang saling terhubung namun fokus pada karakter yang berbeda.

Baca juga:

Lebih jauh, novel ini menyentuh tema kepercayaan—bagaimana dua individu yang pada awalnya tidak dapat saling mempercayai justru dipaksa membuka diri demi tujuan bersama. Konflik internal ini menimbulkan pertanyaan filosofis: apa yang lebih sulit ditemukan, harta berkilau di tanah atau keberanian untuk mempercayai orang lain? Pembaca diajak merenungkan bahwa kadang‑kadang, pencarian materi berujung pada penemuan emosional yang jauh lebih berharga.

Baca juga:

Untuk pembaca yang menggemari dinamika serupa, ada beberapa judul rekomendasi lain yang mengusung trope “musuh menjadi kekasih” dengan latar historis:

Baca juga:
  1. Married by Morning karya Lisa Kleypas: Mengisahkan Leo Hathaway yang santai bertemu Catherine Marks, seorang governess tegas, dengan hubungan yang berawal dari ketidaksukaan.
  2. The Viscount Who Loved Me karya Julia Quinn: Menampilkan Anthony Bridgerton yang berhadapan dengan Kate Sheffield, keduanya terlibat pertarungan verbal yang memunculkan rasa tertarik tak terduga.
  3. The Duke and Lady Scandal karya Christy Carlyle: Mengangkat inspektur bernama Benedict Drake dan Alexandra Prince, dua karakter dengan kepribadian berlawanan yang terjerat dalam konspirasi kerajaan.
  4. Devil In Winter karya Lisa Kleypas: Memperkenalkan Sebastian St. Vincent dan Evangeline Jenner dalam perjanjian pernikahan yang bertransformasi menjadi kisah cinta sejati.
  5. The Duke and The Lady in Red karya Lorraine Heath: Mengisahkan Rosalind Sharpe dan Duke of Avendale dalam pertarungan identitas dan kepercayaan diri.

Keseluruhan, The Scoundrel and the Siren tidak hanya menawarkan hiburan lewat aksi pencarian harta, tetapi juga mengajak pembaca mengeksplorasi kedalaman hubungan manusia di tengah ketidakpastian. Bagi yang mencari bacaan ringan namun penuh makna, novel ini layak menjadi pilihan utama.

Dengan promosi khusus yang tersedia di Gramedia.com, pembaca dapat memperoleh buku ini dengan harga bersaing serta menikmati penawaran lain yang relevan dengan genre literatur historis dan romantis.