Evan Peters Kembali ke Layar Kecil: Dari Kegelapan AHS hingga Istirahat Mental, Kini Siap Menyapa Penonton

Liput – 12 April 2026 | Evan Peters, aktor berusia tiga puluh sembilan tahun, kembali mengukir jejak di dunia televisi setelah menangguhkan kariernya selama beberapa bulan untuk memulihkan kesehatan mental. Selama lebih dari satu dekade, Peters dikenal sebagai sosok yang tidak takut menyelami karakter-karakter kelam, mulai dari peran pertamanya sebagai Tate Langdon di musim pertama American Horror Story (AHS) hingga menghidupkan sosok pembunuh berantai Jeffrey Dahmer dalam serial Netflix Monster: The Jeffrey Dahmer Story. Pengalaman intens ini, menurut sang aktor, menjerumuskan dirinya ke dalam kegelapan yang memaksa ia mengambil jeda panjang.

Peters memulai debutnya di AHS pada tahun 2011 dengan memerankan Tate Langdon, seorang remaja yang terganggu secara psikologis dan menyimpan rahasia gelap. Ia mengaku mengambil inspirasi dari rasa isolasi pribadi, terutama ketika ia tinggal sendirian di California sementara keluarganya berpisah di Missouri dan Michigan. Pengalaman tersebut menambah kedalaman emosi dalam penggambaran Tate, menjadikannya salah satu karakter ikonik dalam seri horor tersebut.

Setelah kesuksesan awal, Peters terus mengisi berbagai peran di AHS, termasuk Kit Walker, Kyle Spencer, dan Jimmy Darling. Namun, peran yang paling menantang muncul pada musim kelima, di mana ia memerankan James Patrick March, pemilik Hotel Cortez yang bersejarah. Karakter ini terinspirasi dari pembunuh berantai H.H. Holmes, dan Peters diberikan kebebasan kreatif oleh pencipta serial Ryan Murphy untuk mengembangkan persona unik sang antagonis. Dalam sebuah wawancara, Peters menjelaskan, “Saya suka memainkan peran villain, namun saya selalu mencari alasan di balik kejahatan mereka, mencoba memberi sedikit simpati agar tidak sekadar jahat tanpa sebab.”

Keberhasilan Peters tidak berhenti di situ. Pada musim ketujuh, ia beralih menjadi Kai Anderson, pemimpin kultus yang mengekspresikan pandangan ekstrem dan menimbulkan kontroversi politik. Peran ini menuntut Peters menembus batas moralitas, menjadikannya lelah secara mental. Ia mengakui kepada majalah GQ pada tahun 2018 bahwa menghidupkan karakter‑karakter mengerikan menjadi beban berat bagi kesejahteraannya.

Puncak tekanan muncul ketika Peters menerima tawaran memerankan Jeffrey Dahmer dalam serial Netflix yang mengangkat kisah nyata pembunuh berantai tersebut. Menyerap peran Dahmer menuntut Peters menelusuri kedalaman psikologi seorang monster, yang kemudian membuatnya merasa “traumatis”. Setelah menamatkan serial itu, ia memutuskan untuk menunda semua proyek akting, memprioritaskan pemulihan mental, dan mengumumkan jeda karier.

Kabar gembira datang ketika pihak produksi AHS mengumumkan musim ke-13 yang sangat dinanti. Peters dinyatakan kembali bergabung, menandai titik balik penting dalam perjalanan kariernya. Ia menyatakan kesiapan untuk “mengeksplorasi cahaya” setelah sekian lama berada di zona gelap. Kembalinya Peters ke AHS dipandang sebagai simbol keberanian melawan stigma kesehatan mental di industri hiburan.

Para pengamat industri menilai bahwa langkah Peters untuk mengambil jeda merupakan contoh penting bagi aktor lain yang sering terjebak dalam peran-peran berat. Mereka menyoroti pentingnya dukungan psikologis, terutama ketika peran menuntut penelusuran emosi ekstrem. Di samping itu, produksi AHS berjanji menyediakan lingkungan kerja yang lebih mendukung, termasuk sesi konseling bagi para pemain.

Selain kembali ke AHS, Peters juga menyiapkan proyek baru di layar lebar, meski detailnya masih dirahasiakan. Ia menegaskan bahwa ia tidak akan lagi terjebak dalam peran yang sepenuhnya menjerumuskan ke dalam kejahatan tanpa adanya konteks kemanusiaan. Dengan pendekatan yang lebih selektif, Peters berharap dapat menyeimbangkan antara tantangan akting dan kesejahteraan pribadi.

Kesimpulannya, perjalanan karier Evan Peters mencerminkan dinamika antara dedikasi seni dan pentingnya menjaga kesehatan mental. Kembalinya ia ke dunia hiburan, khususnya lewat AHS, menandai era baru dimana artis dapat menuntut ruang aman untuk mengekspresikan diri tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis. Penonton kini menantikan penampilan Peters yang lebih berimbang, menggabungkan intensitas akting dengan kesadaran diri yang lebih tinggi.