Liput – 11 April 2026 | Israel hari ini mengumumkan total pengeluaran militer selama 40 hari operasi gabungan dengan Amerika Serikat melawan Iran, mencapai angka US$17,5 miliar. Angka tersebut mencakup biaya operasional, amunisi, logistik, serta kompensasi bagi personel yang terluka. Pengumuman ini menambah intensitas perdebatan internasional tentang efektivitas serangan udara besar‑besar dalam meredam kemampuan militer Iran.
Data biaya dirinci oleh Kementerian Pertahanan Israel dalam sebuah briefing tertutup. Secara garis besar, US$9,2 miliar dialokasikan untuk operasi udara, US$4,3 miliar untuk dukungan logistik di pangkalan Timur Tengah, dan sisanya US$3,9 miliar menutupi biaya pemeliharaan sistem pertahanan siber serta ganti rugi kepada keluarga korban. Meskipun investasi finansial ini signifikan, hasilnya belum menunjukkan penurunan substantif pada kekuatan militer Tehran.
Media Israel berbahasa Ibrani, Yedioth Ahronoth, melaporkan bahwa meskipun Iran telah dibombardir selama 40 hari, negara tersebut masih menyimpan ribuan rudal balistik dalam fasilitas bawah tanah yang terproteksi. Sistem peluncur tersembunyi memungkinkan Iran untuk menyiapkan serangan balasan dengan cepat, sehingga serangan udara konvensional belum berhasil menonaktifkan infrastruktur kunci tersebut. Laporan tersebut menyoroti bahwa intelijen Amerika Serikat mengonfirmasi kemampuan militer Iran tetap kuat, meski telah menghadapi tekanan berkelanjutan.
Di sisi lain, upaya diplomasi tampak mulai muncul. Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tiba di Islamabad pada 11 April 2026 untuk bertemu dengan perwakilan Amerika Serikat, termasuk Wakil Presiden JD Vance serta utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Pertemuan itu menandai langkah pertama dalam diskusi kemungkinan gencatan senjata setelah lebih dari sebulan konflik bersenjata.
Selama pertemuan, Vance menyatakan kesiapan Washington membuka jalur diplomasi bila Iran menunjukkan itikad baik. Ghalibaf menanggapi dengan menuntut pengakuan hak‑hak Iran dan menyoroti ketidakpercayaan total Iran terhadap Amerika Serikat. Sementara itu, wakil presiden pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menekankan bahwa kesepakatan hanya dapat tercapai bila kepentingan nasional AS menjadi prioritas, bukan agenda Israel.
Kombinasi antara tekanan militer dan diplomasi ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi jangka panjang kedua belah pihak. Beberapa analis memperkirakan bahwa Iran dapat memanfaatkan jeda gencatan senjata untuk memperbaiki dan memperkuat kembali sistem persenjataan rudalnya, sementara Israel dan sekutunya berupaya mencari alternatif selain serangan udara masif.
Berikut ini ringkasan biaya operasional selama 40 hari:
- Operasi udara: US$9,2 miliar
- Dukungan logistik & pangkalan: US$4,3 miliar
- Sistem pertahanan siber & kompensasi: US$3,9 miliar
Selain aspek finansial, dampak manusiawi juga menjadi sorotan. Ribuan tentara Israel dan Amerika Serikat dilaporkan mengalami cedera, termasuk kasus traumatis otak yang mengakibatkan perubahan perilaku. Keluarga korban mengungkapkan keprihatinan mendalam atas konsekuensi jangka panjang konflik.
Secara geopolitik, konflik ini memperkuat peran Pakistan sebagai mediator antara Tehran dan Washington, dengan Islamabad berupaya menyeimbangkan hubungan dengan kedua kekuatan. Keberhasilan diplomasi ini masih sangat bergantung pada kemampuan masing‑masing pihak untuk mengesampingkan kepentingan sekutu dan fokus pada penyelesaian damai.
Kesimpulannya, meskipun Israel mengklaim telah menghabiskan US$17,5 miliar untuk 40 hari perang melawan Iran, hasil strategis masih dipertanyakan. Iran tetap menunjukkan ketahanan militer yang signifikan, sementara tekanan finansial dan manusiawi menggerakkan kedua belah pihak ke meja perundingan. Bagaimana perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan.