Liput – 11 April 2026 | Jakarta – Puncak kompetisi Liga 2 musim ini menyuguhkan dua kisah kontras yang menegangkan. Di satu sisi, PSIM Yogyakarta menorehkan sejarah dengan mengangkat trofi juara setelah mengalahkan Bhayangkara FC 2-1 dalam perpanjangan waktu yang berlangsung hingga 120 menit. Di sisi lain, laga final antara Semen Padang dan PSBS Biak berubah menjadi kerusuhan yang memaksa pihak PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) menyiapkan langkah disiplin serius.
Pertandingan puncak antara PSIM Yogyakarta dan Bhayangkara FC digelar di Stadion Manahan, Yogyakarta, pada tanggal 30 November 2025. Babak pertama berlangsung cukup seimbang, kedua tim saling menyerang namun belum mampu memecah kebuntuan. Gol pertama muncul pada menit ke-58 lewat tendangan bebas yang dieksekusi dengan presisi oleh pemain tengah PSIM, Arif Setiawan. Gol tersebut memaksa Bhayangkara FC untuk meningkatkan intensitas serangan, namun pertahanan PSIM tetap kokoh.
Menjelang menit ke-85, Bhayangkara FC berhasil menyamakan kedudukan melalui serangan balik cepat yang dikoordinasikan oleh penyerang utamanya, Rudi Hartono. Skor 1-1 itu menambah ketegangan menjelang akhir waktu reguler. Kedua pelatih mengoptimalkan pergantian pemain, mencoba mencari celah yang dapat mengantarkan kemenangan.
Ketika peluit akhir waktu 90 menit berbunyi, kedua tim melanjutkan pertarungan dalam perpanjangan waktu. Di menit ke-108, PSIM menemukan celah pada lini belakang Bhayangkara FC. Penyerang sayap, Dimas Prasetyo, memanfaatkan umpan silang dari sisi kanan dan mengirimkan bola ke dalam kotak penalti, di mana striker utama PSIM, Fajar Mahendra, menyelesaikan dengan tembakan keras yang tak dapat dijangkau kiper lawan. Gol penentu itu menempatkan PSIM unggul 2-1, dan meskipun Bhayangkara FC berusaha keras di sisa menit, mereka tidak berhasil menyamakan kembali.
Selepas pertandingan, sorak sorai suporter PSIM menggema di seluruh kota Yogyakarta. Pemain kapten PSIM, Andi Wicaksono, mengangkat trofi di atas panggung dan menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pendukung yang setia mengikuti perjalanan klub sejak awal musim. “Ini bukan hanya kemenangan satu tim, tapi kemenangan semua pihak yang mendukung kami—pemain, pelatih, staf, dan suporter. Kami berjanji akan terus berjuang di level yang lebih tinggi,” ujar Andi dalam konferensi pers singkat.
Sementara itu, final lain yang berlangsung di Stadion Haji Agus Salim, Padang, antara Semen Padang dan PSBS Biak berakhir dengan suasana yang jauh berbeda. Pertandingan yang seharusnya menjadi penutup musim berakhir dengan keributan di tribun penonton. Pada menit ke-30, terjadi benturan fisik antara suporter kedua kubu yang berujung pada lemparan benda-benda keras ke lapangan. Keamanan stadion terpaksa menghentikan jalannya pertandingan selama lima menit untuk menenangkan situasi.
Setelah permainan dilanjutkan, kedua tim kembali bermain dengan semangat, namun ketegangan di luar lapangan tidak mereda. Di menit ke-78, insiden lain terjadi ketika sekelompok suporter menembakkan petasan ke arah tribun lawan, memicu kepanikan dan penurunan konsentrasi pemain. Wasit akhirnya memutuskan pertandingan pada menit ke-85 dengan skor imbang 0-0, mengingat kondisi keamanan yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan.
PT LIB segera mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan akan menindak tegas pihak-pihak yang terlibat dalam kerusuhan. “Kami sedang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap insiden ini. Jika terbukti ada pelanggaran kode etik dan keamanan, kami tidak akan segan memberikan sanksi berupa denda, penurunan poin, atau bahkan diskualifikasi,” ujar juru bicara PT LIB, Rudi Santoso. Ia menambahkan bahwa klub akan diminta menyusun rencana keamanan yang lebih ketat untuk kompetisi selanjutnya.
Kejadian ini menimbulkan perdebatan luas di kalangan pengamat sepakbola tanah air. Beberapa analis menilai bahwa kurangnya penegakan protokol keamanan sejak awal musim menjadi faktor pemicu. Selain itu, rivalitas historis antara pendukung Semen Padang dan PSBS Biak juga dianggap memperburuk situasi.
Di balik drama lapangan, Liga 2 musim ini berhasil menarik perhatian publik dengan kualitas permainan yang meningkat. Total 24 tim berkompetisi dalam fase grup, kemudian melanjutkan ke fase knockout. Promosi tiga tim ke Liga 1 menjadi hadiah utama, sementara tim yang berada di posisi terbawah harus bersiap menghadapi degradasi ke Liga 3.
Keberhasilan PSIM Yogyakarta mencatatkan rekor baru bagi klub yang sebelumnya belum pernah menembus final Liga 2. Ke depan, klub tersebut diprediksi akan memperkuat skuad dengan merekrut pemain berpengalaman guna bersaing di level tertinggi. Sementara Bhayangkara FC, meski harus menelan kekalahan, tetap optimis dapat bangkit kembali setelah meninjau taktik dan menambah kedalaman skuad.
Secara keseluruhan, musim Liga 2 tahun ini memperlihatkan dinamika yang menarik, mulai dari pertandingan yang menegangkan hingga tantangan manajerial dalam mengelola keamanan. Diharapkan pelajaran dari insiden Semen Padang vs PSBS Biak akan memperkuat regulasi keamanan, sehingga kompetisi selanjutnya dapat berlangsung lebih tertib dan mengutamakan sportivitas.
Dengan PSIM Yogyakarta kini mengibarkan bendera juara, dan PT LIB berkomitmen menegakkan disiplin, Liga 2 menatap masa depan yang lebih cerah, sambil terus mengasah talenta muda demi kemajuan sepakbola Indonesia.