Liput – 04 April 2026 | Iran pada Rabu (4/4/2026) mengumumkan bahwa sebuah pesawat tempur Amerika Serikat tipe F-15E Strike Eagle telah ditembak jatuh di wilayah pegunungan tengah negara itu. Menurut juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pesawat tersebut dihancurkan secara total oleh sistem pertahanan udara canggih yang baru dioperasikan di atas wilayah Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad. Pada saat kejadian, pesawat membawa dua anggota awak, satu pilot dan satu kopilot, yang kemudian dilaporkan melontarkan diri dengan kursi ejek (ejection seat) ACES II.
Tim penyelamatan Amerika Serikat segera dikerahkan. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah menerima pengarahan khusus mengenai insiden ini, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut. Sumber yang dekat dengan Pentagon mengonfirmasi bahwa satu pilot berhasil ditemukan dan sedang berada dalam perawatan medis di fasilitas militer di luar wilayah konflik. Status pilot kedua masih belum jelas, namun operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung dengan dukungan helikopter HH-60 Pavehawk dan C-130 Hercules yang melakukan pemantauan wilayah.
Awal laporan Iran menyebutkan bahwa pesawat yang jatuh adalah jet siluman F-35, yang menimbulkan kebingungan karena F-35 hanya memiliki satu kokpit. Analisis ahli penerbangan, termasuk pakar dari Royal United Services Institute (RUSI), menunjukkan bahwa puing‑puing yang dipublikasikan, termasuk kursi pelontar, cocok dengan spesifikasi F-15E. Pemerintah Amerika kemudian mengonfirmasi secara tidak resmi bahwa memang F-15E yang terlibat, mengingat pesawat tersebut beroperasi dari pangkalan RAF Lakenheath, Inggris, dalam skadron ke‑494 USAF.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat setelah Presiden Trump sebelumnya mengeluarkan ancaman untuk membawa Iran kembali ke “zaman batu”. Sejak dimulainya operasi militer bersama sekutu, yang disebut “Operation Epic Fury” pada akhir Februari, lebih dari 13 anggota militer Amerika dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka. Namun, hingga kini tidak ada laporan resmi bahwa pasukan Amerika ditawan oleh Iran.
Iran memanfaatkan insiden ini untuk menggalang dukungan domestik dengan mengumumkan sayembara hadiah senilai satu miliar toman (sekitar Rp1 miliar) bagi siapa pun yang berhasil menemukan kedua pilot. Seorang presenter televisi Iran menekankan bahwa setiap warga yang menyerahkan pilot akan menerima hadiah, menambah unsur propaganda dalam konflik yang sudah memanas.
Berikut rangkuman fakta utama yang berhasil dikumpulkan:
- Jenis pesawat: F-15E Strike Eagle, dua kursi, kemampuan serang udara‑ke‑udara dan udara‑ke‑darat.
- Lokasi jatuh: Pegunungan tengah Iran, provinsi Kohgiluyeh dan Boyer‑Ahmad.
- Awak: Dua orang; satu pilot telah diselamatkan, status kopilot masih tidak pasti.
- Respons AS: Pengiriman helikopter HH-60 Pavehawk, C‑130 Hercules, dan dua helikopter Black Hawk untuk operasi SAR.
- Respons Iran: Klaim penembakan oleh sistem pertahanan udara IRGC, penyebaran gambar puing, dan sayembara hadiah.
- Kontroversi media: Awal penyebutan F-35 berubah menjadi F-15E setelah analisis teknis.
Para analis militer menilai kejadian ini sebagai bukti kemampuan pertahanan udara Iran yang semakin canggih, sekaligus menandai kegagalan pertama sistem pertahanan AS di wilayah tersebut sejak konflik dimulai. Sementara itu, Amerika Serikat menegaskan komitmen untuk melindungi personelnya, meski operasi penyelamatan di dalam wilayah Iran tetap berisiko tinggi.
Insiden ini kemungkinan akan menambah tekanan diplomatik antara Washington dan Teheran, serta memicu perdebatan lebih luas mengenai kebijakan militer Amerika di Timur Tengah. Kedua negara kini berada pada titik konfrontasi yang dapat bereskalasi, tergantung pada perkembangan pencarian pilot yang tersisa dan respons selanjutnya dari pihak‑pihak terkait.