Kasad Ungkap SOP Penugasan Satgas TNI di UNIFIL, Dua Medali PBB Hiasi Prestasi Garuda 2024-2025

Liput – 08 April 2026 | JAKARTA – Komandan Tentara Nasional Indonesia (Kasad) menegaskan bahwa penugasan pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon telah dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang komprehensif. Pernyataan itu disampaikan beriringan dengan pengumuman Satgas TNI Kontingen Garuda UNIFIL 2024-2025 yang berhasil memperoleh dua medali penghargaan tertinggi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam upacara Medal Parade di markas Satgas Indobatt XXIII‑R, Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada 27 Februari 2025.

Menurut Kasad, SOP yang diterapkan mencakup seluruh aspek operasional, mulai dari koordinasi lintas‑sektor, prosedur keamanan, hingga protokol interaksi dengan warga sipil dan pasukan multinasional. “SOP ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap prajurit TNI yang bertugas di UNIFIL dapat menjalankan misi perdamaian dengan profesionalisme tinggi, sekaligus meminimalkan risiko yang mungkin timbul di medan operasi yang dinamis,” ujar Kasad dalam konferensi pers yang diadakan di Markas Besar TNI pada 28 Februari 2025.

Sementara itu, Satgas TNI Kontingen Garuda yang dipimpin oleh Kolonel Infanteri Ragung Ismail Akbar, Dansatgas Indobatt XXIII‑R, menerima medali United Nations Medal secara langsung dari Mayor Jenderal Jean‑Jacques Fatinet, Chief of Staff UNIFIL dan Chief of the Military Pillar. Medali tersebut diberikan sebagai pengakuan atas kontribusi signifikan Indonesia dalam menjaga stabilitas Lebanon sejak penempatan pertama pada tahun 1958.

Upacara penghargaan yang berlangsung di lapangan Soekarno, Markas Satgas Indobatt, dihadiri oleh pejabat tinggi PBB, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut, serta perwakilan media lokal dan internasional. Mayor Jenderal Fatinet menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Kontingen Garuda, menekankan bahwa “profesionalisme, kerja keras, dan dedikasi yang tinggi” menjadi kunci keberhasilan misi perdamaian ini.

Selain penyerahan medali, acara tersebut menampilkan rangkaian budaya Indonesia yang dipersembahkan oleh Drumband Moroloka, serta pertunjukan seni tradisional seperti Tari Zapin, Tari Reog Ponorogo, Tari Papua, Tari Kecak, dan Flashmob yang menampilkan gerakan dinamis. Penampilan tersebut tidak hanya memperkuat ikatan persaudaraan antar pasukan multinasional, namun juga menjadi sarana diplomasi budaya, memperkenalkan kekayaan warisan Indonesia kepada masyarakat Lebanon.

Setelah upacara, Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari, secara resmi menyematkan medali duta budaya kepada perwakilan Satgas. Kegiatan tersebut menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak hanya berperan dalam keamanan, melainkan juga dalam mempromosikan nilai‑nilai budaya sebagai bagian integral dari misi perdamaian.

Kasad menambahkan bahwa SOP yang telah disusun meliputi prosedur penanggulangan situasi darurat, tata cara pelaporan intelijen, serta mekanisme koordinasi dengan otoritas lokal Lebanon. “Kami telah mengintegrasikan pengalaman dari operasi sebelumnya, termasuk di Haiti dan Timor Leste, untuk menyusun panduan yang adaptif. Setiap prajurit mendapat pelatihan intensif sebelum keberangkatan, mencakup simulasi kondisi lapangan yang realistis,” jelasnya.

Implementasi SOP ini juga mencakup aspek logistik, seperti pengelolaan pasokan medis, perbekalan makanan, serta pemeliharaan peralatan komunikasi. Seluruh unit satgas dilengkapi dengan sistem komunikasi satelit terbaru yang memungkinkan pertukaran data secara real‑time dengan pusat komando di Jakarta.

Prestasi dua medali PBB sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu kontributor terbesar bagi misi perdamaian PBB di Timur Tengah. Data resmi PBB mencatat bahwa Indonesia menempatkan lebih dari 2.000 personel di UNIFIL, menjadikannya salah satu negara dengan kehadiran pasukan terbesar di zona tersebut.

Di sela‑sela upacara, para prajurit juga menikmati hidangan khas Nusantara yang disajikan dalam acara ramah tamah. Penyajian makanan tradisional seperti nasi tumpeng, sate ayam, dan rendang menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan budaya Indonesia di tanah asing.

Dengan SOP yang telah terstruktur dan penghargaan bergengsi dari PBB, Satgas TNI Kontingen Garuda diharapkan dapat terus meningkatkan kinerja operasionalnya. Kasad menegaskan, “Kami akan terus memantau dan menilai efektivitas SOP, serta melakukan penyesuaian bila diperlukan, demi menjaga kualitas kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.”