Liput – 07 April 2026 | Teheran – Serangkaian serangan udara gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Selasa (7/4/2026) menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah. Operasi militer yang dilancarkan menjelang batas waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump memaksa Iran membuka Selat Hormuz mengakibatkan setidaknya tiga belas orang tewas, termasuk warga sipil yang berada di sekitar jembatan di wilayah Baharestan, provinsi Teheran.
Serangan pertama dilaporkan menargetkan Pulau Kharg, lokasi strategis yang menjadi pusat penyimpanan amunisi laut. Menurut pejabat militer AS, serangan tersebut tidak menyasar fasilitas minyak, namun menumpulkan pukulan pada lebih dari sembilan puluh target, termasuk bunker penyimpanan rudal dan fasilitas penyimpanan ranjau laut. Pada malam yang sama, Israel mengumumkan operasi serangannya terhadap jaringan transportasi Iran, menyebut bahwa jalur kereta api, jembatan, dan jalan raya utama digunakan untuk mengirimkan amunisi dan peluncur rudal.
Di dalam negeri, kantor berita semi‑resmi Mehr melaporkan dua orang tewas akibat serangan pada jembatan kereta api di kota Kashan. Sementara itu, Palang Merah Iran mengirimkan video perawatan korban luka di jalur kereta api Karaj. Laporan IRIB menyebut jembatan di provinsi Qom bagian barat menjadi sasaran proyektil, diikuti oleh jalan raya utama Tabriz‑Teheran yang juga terkena dampak tembakan.
Namun, titik paling mematikan terjadi di Baharestan. Gubernur Baharestan mengonfirmasi bahwa dua unit perumahan di kota Qaleh Mir dibom simultan oleh pesawat tempur yang melintas di langit Teheran. Ledakan yang mengguncang area tersebut menewaskan sebelas orang, sementara dua warga lain meninggal akibat luka-luka di rumah sakit terdekat, menjadikan total korban tewas tiga belas jiwa. Operasi pembersihan puing dan pencarian korban masih berlangsung, dengan tim SAR melaporkan masih adanya orang yang terperangkap di reruntuhan.
Selain kerusakan pada infrastruktur sipil, serangan juga menghantam fasilitas akademik. Universitas Teknologi Sharif, yang dikenal sebagai salah satu institusi ilmiah terkemuka di Iran, dilaporkan mengalami kerusakan parah pada laboratorium dan masjid kampusnya. Menurut wartawan Al Jazeera yang berada di lokasi, kerusakan tersebut menghambat proses pembelajaran dan riset yang sedang berlangsung.
Presiden Trump menegaskan bahwa tenggat waktu untuk Iran membuka Selat Hormuz berakhir pada malam Selasa, pukul 20.00 Eastern Time (03.30 waktu setempat). Jika tidak dipatuhi, Amerika Serikat siap melancarkan serangan lebih luas terhadap pembangkit listrik, jembatan, dan fasilitas penting lainnya. Kebijakan ini menuai kritik internasional, karena dianggap melanggar hukum humaniter internasional dengan menargetkan infrastruktur sipil.
Berikut rangkaian lokasi yang terdampak dalam serangan gabungan tersebut:
- Pulau Kharg – instalasi militer dan penyimpanan ranjau laut
- Kashan – jembatan kereta api (2 korban jiwa)
- Qom – jembatan barat provinsi (proyektil)
- Tabriz‑Teheran – jalan raya utama (proyektil)
- Baharestan (Qaleh Mir) – dua unit perumahan (13 korban jiwa)
- Teheran – Universitas Teknologi Sharif (kerusakan struktural)
Serangan ini menambah daftar panjang korban sipil sejak awal konflik. Organisasi kemanusiaan melaporkan peningkatan jumlah anak-anak dan wanita di antara korban, menegaskan dampak humaniter yang serius. Pemerintah Iran menyatakan akan meningkatkan kesiapan pertahanan udara dan menyiapkan balasan militer, sementara komunitas internasional menyerukan gencatan senjata dan dialog diplomatik.
Dengan situasi yang terus berkembang, tekanan pada kedua belah pihak semakin besar. Setiap langkah selanjutnya akan sangat menentukan arah konflik yang kini telah memasuki hari ke-39. Sementara itu, keluarga korban di Baharestan dan kota‑kota lain masih menunggu kejelasan mengenai nasib mereka, dan masyarakat Iran menanti kepastian apakah pemerintah akan dapat memenuhi ultimatum Trump atau mencari solusi alternatif melalui perundingan damai.
Ketegangan geopolitik ini menyoroti betapa rapuhnya stabilitas kawasan Teluk, serta mengingatkan dunia akan konsekuensi serius ketika konflik berskala besar melibatkan infrastruktur sipil yang menjadi tulang punggung kehidupan sehari-hari rakyat.