Liput – 07 April 2026 | Pekan ke-26 BRI Super League menjadi babak kelam bagi Persija Jakarta. Pada Minggu, 5 April 2026, Macan Kemayoran menurunkan kepala di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Lampung, setelah tersungkur 2-3 dari tuan rumah Bhayangkara Prersisi Lampung FC. Kekalahan ini menambah beban pada ambisi juara Persija yang kini terjepit di zona persaingan, sembilan poin di belakang pemuncak klasemen, Persib Bandung.
Sejak kembali berlatih di Gelora Bung Karno (GBK) menjelang laga krusial melawan Persebaya Surabaya, harapan tinggi menggelora di antara suporter. Namun, performa di lapangan Lampung justru menunjukkan retakan. Persija sempat menguasai alur permainan pada babak pertama, menciptakan beberapa peluang berbahaya melalui gerakan cepat sayap kanan dan sentuhan pendek di tengah. Sayangnya, ketajaman akhir tidak mampu mengkonversi dominasi menjadi gol.
Pelatih asal Brasil, Mauricio Souza, mengakui bahwa timnya melakukan kesalahan fatal yang seharusnya dapat dihindari. “Kami sebenarnya tidak boleh lagi kehilangan poin dengan cara seperti ini,” ujar Souza dalam konferensi pers pasca laga. Ia menyoroti momen-momen krusial di mana pertahanan Persija terlepas, terutama pada menit ke-58 ketika Bhayangkara memanfaatkan serangan balik cepat, menambah keunggulan 2-1. “Dalam beberapa laga terakhir, kami kecolongan di momen-momen penting, termasuk saat menghadapi tim pesaing,” tambahnya.
- Skor akhir: Persija 2 – 3 Bhayangkara Prersisi Lampung FC
- Klasemen: Persija kini berada di posisi ke-4 dengan 34 poin, tertinggal 9 poin dari Persib Bandung (pemuncak).
- Poin penting yang hilang: Tiga poin dari pertandingan yang seharusnya dapat dipertahankan.
Statistik pertandingan menunjukkan Persija mencatat 12 tembakan ke gawang, namun hanya dua di antaranya yang berhasil menembus gawang, berbanding tiga gol yang dicetak lawan. Persentase kepemilikan bola berada di angka 53%, menandakan dominasi wilayah tengah, namun kurangnya akurasi di depan gawang menjadi penyebab utama kegagalan.
Di sisi lain, Bhayangkara Prersisi Lampung FC memanfaatkan keunggulan kandang dan dukungan suporter lokal. Gol pembuka mereka datang dari tendangan sudut pada menit ke-22, diikuti oleh serangan balasan cepat pada menit ke-45 yang memperlebar keunggulan menjadi 2-0. Persija berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-67 lewat tendangan bebas yang dieksekusi dengan presisi oleh pemain sayap kiri, namun kegagalan mempertahankan keunggulan tersebut membuat mereka kembali tertinggal pada menit ke-78.
Keputusan taktik Mauricio Souza juga menjadi sorotan. Pergantian pemain pada menit ke-70, dengan menurunkan gelandang bertahan utama, dimaksudkan untuk menambah intensitas serangan, namun justru membuka celah di lini belakang. Kritikus berpendapat bahwa perubahan formasi terlalu agresif pada saat tim sedang mengejar poin penting.
Setelah pertandingan, Souza menegaskan tekad tim untuk bangkit. “Kami tidak akan membiarkan kekalahan ini merusak semangat. Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh dan kembali lebih kuat di laga berikutnya,” kata sang pelatih. Ia menambahkan bahwa persiapan mental dan taktik akan menjadi fokus utama menjelang pertemuan selanjutnya melawan Persebaya Surabaya, yang dijadwalkan di GBK pada pekan berikutnya.
Suporter Persija, yang dikenal dengan julukan “Jakmania”, mengekspresikan kekecewaan sekaligus harapan. Di media sosial, mereka menyemangati tim dengan slogan “Bangkit Persija!” dan menuntut perbaikan dalam konsistensi permainan. Tekanan dari suporter dan media menambah beban pada pemain, namun juga menjadi motivasi untuk memperbaiki performa.
Persija Jakarta kini berada di persimpangan jalan. Dengan jadwal yang padat, termasuk pertemuan melawan Persebaya Surabaya di GBK, tim harus segera menemukan formula kemenangan. Jika tidak, jarak dengan pemuncak klasemen akan terus melebar, mengancam harapan untuk mengangkat trofi BRI Super League musim ini.
Secara keseluruhan, kekalahan di Lampung menjadi pelajaran berharga bagi Persija. Kesalahan taktis, kurangnya penyelesaian akhir, dan ketidakharmonisan defensif menjadi faktor utama. Namun, dengan dukungan suporter yang tetap setia dan tekad kuat dari pelatih serta pemain, harapan untuk bangkit masih terbuka lebar. Perjalanan Persija ke puncak klasemen masih panjang, namun seruan bangkit yang tak terbendung menjadi energi baru yang dapat mengubah nasib tim dalam sisa kompetisi.