Liput – 12 April 2026 | Gianluigi Donnanrumma, kiper andalan Manchester City dan kapten timnas Italia, kembali menjadi sorotan media setelah kegagalan Italia meloloskan diri dari kualifikasi Piala Dunia 2026. Pada wawancara eksklusif dengan Sky Italia, Donnarumma mengungkapkan betapa beratnya ia memproses kekalahan tersebut dan menegaskan tidak ada permintaan bonus apapun dari federasi sepak bola Italia (FIGC).
“Dalam beberapa hari pertama, saya sangat sulit menerima kenyataan bahwa kita gagal,” ujar Donnarumma. “Namun kami harus bangkit, melangkah maju, dan mempersiapkan diri untuk kualifikasi 2030. Kami telah melewati banyak kekecewaan sebelumnya dan tetap mencetak prestasi penting. Sekarang saatnya kembali dengan kekuatan dan keyakinan bahwa Azzurri akan kembali ke puncak.”
Selain menguraikan kondisi mentalnya, Donnarumma menepis keras klaim bahwa pemain Italia menuntut bonus sebelum laga melawan Bosnia. “Sebagai kapten, saya tidak pernah meminta satu euro pun dari federasi. Hadiah yang biasanya diberikan adalah partisipasi di turnamen. Kami tidak mendapatkan itu, jadi tidak ada yang harus dikembalikan,” tegasnya.
Kepemimpinan Donnarumma di timnas semakin menonjol, terutama setelah ia menjadi juru bicara resmi mengenai krisis tim. Sikapnya yang tegas dan transparan menambah kepercayaan pelatih dan rekan setim, serta memberikan contoh positif bagi generasi muda.
Sementara itu, di Premier League, Donnarumma terus memperkuat posisi Manchester City sebagai kontender utama. Dalam laga pekan ini, City akan menghadapi Chelsea di Stamford Bridge pada 12 April 2026. Statistik pertandingan menampilkan perbandingan statistik kiper kedua tim:
- Gianluigi Donnarumma (Manchester City): 353 gol kebobolan, 956 penyelamatan, 1,03 gol per 90 menit, persentase penyelamatan 72,9%, 114 clean sheet, 1.312 tembakan dihadapi.
- Robert Sánchez (Chelsea): 194 gol kebobolan, 433 penyelamatan, 1,19 gol per 90 menit, persentase penyelamatan 69,2%, 49 clean sheet.
Statistik tim secara keseluruhan menunjukkan City berada di posisi kedua dalam hal pertahanan, dengan rata‑rata gol kebobolan 0,93 per 90 menit dan persentase clean sheet 33,4%. Keunggulan defensif ini sangat bergantung pada performa Donnarumma, yang telah mencatatkan 12 clean sheet musim ini.
Di sisi serangan, City mengandalkan Erling Haaland yang mencetak hampir satu gol per 90 menit, serta gelandang kreatif yang mendukung alur serangan. Chelsea, di sisi lain, mengandalkan João Pedro sebagai playmaker utama, dengan 38 assist dan 120 gol sepanjang kariernya.
Para pengamat menilai bahwa motivasi Donnarumma setelah kegagalan Italia dapat menjadi pendorong tambahan bagi City. “Dia kembali dengan semangat baru, ingin membuktikan bahwa dia tidak hanya menjadi andalan di level internasional, tetapi juga di level klub,” kata seorang analis sepak bola.
Di luar lapangan, Donnarumma juga menjadi sorotan karena peranannya dalam menjaga kebersamaan tim. Ia dikenal aktif dalam mengatur komunikasi di ruang ganti, serta membantu rekan-rekan dalam mengatasi tekanan mental menjelang pertandingan penting.
Kesimpulannya, Donnarumma kini berada di persimpangan penting dalam kariernya: memulihkan reputasi Italia di panggung internasional sekaligus memperkuat ambisi Manchester City di kompetisi domestik dan Eropa. Dengan mental yang lebih kuat dan komitmen tanpa kompromi, ia siap menatap tantangan berikutnya, baik di kualifikasi Piala Dunia 2030 maupun di laga krusial melawan Chelsea.