Syawal 2026: Tanggal Mulai, Akhir, dan Perbedaan Penetapan Pemerintah vs Muhammadiyah

Liput – 11 April 2026 | Setelah berakhirnya bulan Ramadan, umat Islam Indonesia kini menantikan datangnya bulan Syawal 1447 H atau yang dikenal sebagai Idul Fitri 2026. Penetapan tanggal 1 Syawal menjadi sorotan utama karena memengaruhi jadwal libur nasional, cuti bersama, serta pelaksanaan ibadah puasa enam hari yang dianjurkan. Berdasarkan data resmi Kementerian Agama dan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terdapat perbedaan satu hari dalam penetapan awal bulan Syawal, yang berdampak pada tanggal akhir bulan bagi masing-masing otoritas.

Menurut hasil Sidang Isbat yang dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026, Kementerian Agama mengumumkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan ini didasarkan kombinasi metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan langsung). Pada saat pengamatan hilal, tidak ada satelit yang melaporkan tampilan bulan sabit muda di 117 titik pengamatan di seluruh Indonesia, sehingga Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Kriteria visibilitas yang dipakai mengikuti standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026, sebagaimana tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki dengan mengacu pada Parameter Kalender Global (PKG). Berdasarkan perhitungan PKG, wilayah dengan koordinat 64°59′57,47″ LU dan 42°03′3,47″ BT memenuhi kriteria tinggi bulan lebih dari 5 derajat serta elongasi minimal 8 derajat, sehingga Muhammadiyah mengumumkan tanggal tersebut satu hari lebih awal.

Perbedaan satu hari ini menyebabkan variasi pada tanggal akhir bulan Syawal. Pemerintah menghitung akhir Syawal pada hari 29 Syawal, yang jatuh pada 18 April 2026. Sedangkan Muhammadiyah menutup bulan Syawal pada 17 April 2026, juga hari ke-29 Hijriah. Kedua kalender menyatakan bahwa bulan Syawal terdiri dari 29 hari, sesuai dengan rentang umum bulan Hijriah yang berkisar antara 29‑30 hari.

Berikut rangkuman kalender Syawal 2026 versi pemerintah dan Muhammadiyah:

Versi 1 Syawal (Masehi) Akhir Syawal (29 Syawal)
Pemerintah 21 Maret 2026 (Sabtu) 18 April 2026 (Senin)
Muhammadiyah 20 Maret 2026 (Jumat) 17 April 2026 (Minggu)

Selain penetapan tanggal, kalender Syawal juga memuat jadwal cuti bersama. Pemerintah mengumumkan hari libur nasional pada 21 Maret 2026 serta cuti bersama yang meliputi 22‑24 Maret, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk merayakan Idul Fitri secara luas. Sedangkan Muhammadiyah, sebagai organisasi keagamaan, tidak mengeluarkan kebijakan cuti bersama, namun mengimbau anggota untuk melaksanakan sholat Idul Fitri secara berjamaah pada tanggal yang telah ditetapkan.

Syawal juga dikenal dengan amalan puasa enam hari setelah Idul Fitri. Menurut hadis sahih, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki pahala setara dengan puasa selama setahun penuh. Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan rentang waktu antara 22 Maret hingga awal April untuk melaksanakan puasa tersebut, baik pada hari-hari kerja maupun hari libur, sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan Ramadan yang telah selesai.

Hari 10 April 2026, yang merupakan hari ke‑10 Syawal versi pemerintah, juga tercatat dalam kalender hijriah sebagai tanggal 10 April 2026 Masehi. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah seperti membaca Al‑Qur’an, bersedekah, dan memperkuat silaturahmi, mengingat momentum pasca‑Idul Fitri biasanya diisi dengan kegiatan sosial.

Kesimpulannya, bulan Syawal 2026 dimulai pada 20 atau 21 Maret tergantung pada otoritas yang diikuti, dan berakhir pada 17 atau 18 April. Perbedaan satu hari ini penting untuk dicatat oleh pemerintah, lembaga pendidikan, serta perusahaan dalam penyusunan jadwal kerja dan cuti bersama. Masyarakat tetap dapat merayakan Idul Fitri secara serentak meski terdapat variasi penetapan, sementara puasa enam hari di bulan Syawal tetap menjadi kesempatan utama untuk menambah pahala di akhir tahun hijriah.