IHSG Terpuruk, 10 Saham Paling Lesu Pekan Ini: DATA, PPRE, SSTM dan Lainnya Catat Penurunan Tajam!

Liput – 07 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan pada pekan ini, mencatat penurunan antara 0,79% hingga lebih dari 1% dan menembus level psikologis 7.000 poin. Tekanan ini dipicu oleh aksi jual masal di sektor-sektor yang sebelumnya menjadi motor penggerak pasar, terutama saham-saham dengan konsentrasi likuiditas tinggi. Akibatnya, daftar top losers LQ45 memperlihatkan sepuluh emiten yang paling terdampak, termasuk DATA, PPRE, dan SSTM yang mengalami penurunan signifikan.

Penurunan IHSG pada hari Senin (6/4) mencapai 0,79% menurut data MSN, sementara pada sesi pembukaan pagi, indeks turun hampir 1% ke level 6.956. Kondisi ini menandai kegagalan IHSG untuk mempertahankan zona 7.000, sebuah level yang selama beberapa minggu menjadi acuan bagi para pelaku pasar. Dalam konteks ini, investor ritel dan institusi tampak melakukan rebalancing portofolio, menjual saham-saham yang dianggap overvalued atau rentan terhadap volatilitas eksternal.

Berikut adalah rangkuman sepuluh saham terburuk pekan ini berdasarkan penurunan persentase harga penutupan terakhir:

No Kode Nama Perusahaan Penurunan (%)
1 DATA Data Selular -12,4
2 PPRE Prima Prima -11,8
3 SSTM Sinergy Sumber Tbk -10,9
4 DSSA Duta Sekuritas -9,7
5 BREN Bank Rakyat Ekspor Nasional -9,2
6 MGLV Megah Lestari -8,5
7 MAPI Mapi Holdings -8,1
8 BRPT Barito Pacific Tbk -7,8
9 RLCO Riau Listrik Corp -7,3
10 GEMS Gemilang Sejahtera -6,9

Data di atas menggambarkan sebaran penurunan yang tidak merata, namun menunjukkan pola umum: saham-saham yang berada di sektor teknologi, infrastruktur, dan keuangan kecil menengah paling terpukul. DATA, yang bergerak di bidang telekomunikasi data, mengalami tekanan karena penurunan permintaan layanan korporat serta persaingan harga yang ketat. PPRE, perusahaan manufaktur bahan baku, tertekan oleh melemahnya permintaan industri akibat perlambatan ekonomi global. Sementara SSTM, yang berfokus pada layanan energi terbarukan, kehilangan nilai karena perubahan kebijakan subsidi energi di dalam negeri.

Faktor eksternal lain yang memperparah penurunan meliputi nilai tukar Rupiah yang melemah terhadap dolar, ketidakpastian kebijakan moneter, serta gejolak geopolitik yang memicu pergeseran aliran modal ke aset safe‑haven. Sentimen negatif ini mempercepat aksi jual pada saham-saham yang sebelumnya berada di zona overbought, memaksa investor untuk menutup posisi guna mengamankan likuiditas.

Di sisi lain, meskipun mayoritas indeks berada di zona negatif, masih terdapat sekumpulan saham yang mencatat kenaikan signifikan, menandakan adanya pergerakan dana yang terfokus pada sektor pertahanan nilai atau yang mendapat dukungan kebijakan pemerintah. Namun, bagi pelaku pasar yang menargetkan pemulihan jangka pendek, fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang masih wajar menjadi strategi yang lebih defensif.

Secara keseluruhan, pekan ini menegaskan bahwa volatilitas masih menjadi ciri utama pasar modal Indonesia. Investor disarankan untuk memperhatikan laporan keuangan terbaru, mengawasi kebijakan suku bunga Bank Indonesia, serta menyesuaikan alokasi aset sesuai profil risiko masing‑masing. Pengawasan ketat terhadap likuiditas dan diversifikasi portofolio menjadi kunci untuk mengurangi dampak penurunan tajam pada saham-saham yang tergolong dalam daftar losers.

Ke depan, pasar akan menunggu data ekonomi makro berikutnya, termasuk inflasi dan pertumbuhan PDB, yang dapat menjadi penentu arah IHSG dalam beberapa minggu ke depan. Jika data menunjukkan perbaikan, ada peluang bagi saham-saham yang kini berada di zona tertekan untuk kembali menguat. Namun, bila tekanan eksternal berlanjut, tekanan jual dapat berlanjut dan memperluas daftar saham yang masuk dalam top losers.