Liput – 22 April 2026 | Setelah laga imbang Dewa United melawan Persib Bandung pada pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026, gelandang asal Papua, Ricky Kambuaya, menjadi sorotan bukan hanya karena penampilannya di lapangan, melainkan karena serangan rasis yang ia terima melalui media sosial. Pada menit ke-61, Kambuaya mencetak gol kedua Dewa United setelah menerima umpan dari Noah Sadaoui, namun dua menit kemudian rekan setimnya Alex Martins mendapatkan kartu merah, memaksa tim bermain dengan sepuluh pemain. Persib bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2, sementara Kambuaya harus digantikan oleh Nick Kuipers.
Usai pertandingan, Kambuaya mengunggah tangkapan layar komentar dan pesan langsung (DM) yang berisi hinaan berbau rasis, termasuk panggilan “monyet” yang ditujukan kepadanya. Di Instagram pribadi @richardo_r55, ia menuliskan balasan yang tajam: “Bagaimana bisa? Monyet bermain sepakbola di level profesional. Dan bahkan sampai perwakilan membela negara yang dihuni para manusia. Masih kurang rasisnya, ayo tambah lagi, sodaraku.” Ungkapan tersebut sekaligus menantang para pelaku untuk mengakui bahwa mereka tidak dapat mengubah profesionalitas dan kebanggaan seorang pemain yang mewakili negara.
Respons cepat datang dari rekan-rekan setim dan sesama pemain Timnas Indonesia. Rafael Struick menulis “Stay strong brother” dalam bahasa Inggris, sementara Kevin Diks menanggapi dengan satu kata “Unbelievable” yang mengekspresikan ketidakpercayaan atas kebencian yang muncul. Egy Maulana Vikri menambahkan “Katakan tidak pada rasial,” dan striker Persija, Mauro Zijlstra, menanggapi dengan emotikon tepuk jidat, menandakan keprihatinannya. Bek asal Brasil, Johnathan Carlos Pereira, juga mengirimkan doa melalui Instagram, “Semoga Tuhan memberkatimu.”
Klub Dewa United tidak tinggal diam. Akun resmi klub memposting pernyataan yang menegaskan tidak toleransi terhadap segala bentuk rasisme, sekaligus memberikan dukungan penuh kepada Kambuaya. Pihak klub menekankan pentingnya edukasi bagi suporter agar tidak menyebarkan ujaran kebencian secara anonim di dunia maya.
- Ricky Kambuaya mencetak satu gol dan mendapat serangan rasis pasca laga.
- Timnas Indonesia, termasuk Kevin Diks, Rafael Struick, Egy Maulana Vikri, dan Mauro Zijlstra, memberikan dukungan moral.
- Dewa United mengeluarkan pernyataan resmi menolak rasisme.
- Kasus ini menyoroti kebutuhan akan kedewasaan suporter dalam menggunakan media sosial.
Fenomena rasisme dalam sepak bola Indonesia bukan hal baru. Banyak insiden serupa muncul setiap musim, terutama ketika tim atau pemain mengalami kekalahan atau keputusan kontroversial. Anonimitas di platform digital mempermudah oknum untuk melontarkan kata-kata kebencian tanpa takut teridentifikasi. Namun, respons terbuka Kambuaya memperlihatkan perubahan paradigma: alih-alih terdiam, ia mengubah hinaan menjadi momentum untuk menegaskan identitas profesionalnya.
Menurut pengamat sepak bola, kejadian ini menjadi panggilan bagi federasi dan liga untuk meninjau kebijakan pengawasan komentar daring serta meningkatkan sanksi bagi pelaku. Lebih jauh, edukasi nilai sportivitas di kalangan suporter harus menjadi prioritas, mengingat dampak psikologis yang dirasakan pemain muda seperti Kambuaya.
Secara statistik, BRI Super League musim ini mencatat peningkatan interaksi digital antara klub dan fans, namun pula peningkatan laporan komentar negatif. Pada pekan ke-28 saja, lebih dari 120 laporan komentar rasis tercatat, menandakan perlunya mekanisme penanganan yang lebih cepat dan efektif.
Dengan dukungan penuh dari rekan setim, klub, dan komunitas sepak bola, Ricky Kambuaya menunjukkan bahwa mentalitas kuat dan keberanian bersuara dapat menjadi contoh bagi pemain lain. Kasus ini diharapkan menjadi titik balik dalam upaya menegakkan sportivitas serta menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi semua atlet.