Liput ā 21 April 2026 | Granada CF mengalami salah satu penampilan terburuknya musim ini pada pertandingan tandang melawan Albacete BalompiĆ© di stadion Carlos Belmonte, yang berakhir dengan skor 4-1 untuk kemenangan tuan rumah. Kekalahan ini menimbulkan pertanyaan tajam mengenai kesiapan tim dalam menjaga posisi aman di klasemen Segunda División.
Pukulan pertama datang pada menit ke-10 ketika Jonathan Gómez memanfaatkan kelambanan pertahanan Granada untuk mencetak gol. Lima menit kemudian, LluĆs López MĆ”rmol menambah keunggulan Albacete lewat tendangan bola mati, memperlihatkan kegagalan organisasi set-piece Granada yang seharusnya menjadi pertahanan terakhir.
Granada sempat memperkecil selisih pada menit ke-62 melalui gol Gonzalo Petit, namun kegembiraan itu bersifat sementara. Samuel Obeng mengembalikan keunggulan Albacete pada menit ke-71, dan Jose Carlos Lazo menutup skor pada menit ke-79, menegaskan dominasi tuan rumah. Statistik pertandingan menunjukkan bahwa Granada hanya menguasai 38% penguasaan bola, dengan tiga tembakan ke arah gawang yang berhasil dibendung oleh kiper Albacete.
Analisis taktik menunjukkan bahwa rencana permainan Pacheta tidak pernah terwujud. Dari menit awal, lini tengah Granada tampak pasif, dengan Rubén Alcaraz dan Pedro Alemañ gagal mengendalikan tempo. Dua bek tengah, Diego Hormigo dan Loïc Williams, tampak kebingungan saat dihadapkan pada gerakan cepat lawan, yang berujung pada gol pertama Albacete. Kelemahan defensif ini diperparah oleh kurangnya koordinasi antara lini belakang dan gelandang, menjadikan Granada rentan terhadap serangan balik.
Di tengah kerapuhan tim, satu nama tetap bersinar: Oscar Naasei. Pemain keturunan Ghana ini mendapat penilaian 7,5, menempati peringkat keempat tertinggi dalam pertandingan. Meskipun Granada kalah, Naasei menunjukkan ketangguhan defensif, intersepsi krusial, dan kontribusi dalam fase transisi. Penampilannya menjadi sorotan utama bagi para pengamat, yang menilai ia layak dipertimbangkan untuk panggilan ke tim nasional Black Stars menjelang kualifikasi Piala Dunia 2026.
Sementara itu, cedera serius Antonio Puertas milik Albacete menambah dimensi dramatis pada laga tersebut. Puertas mengalami robekan ligamen kranial anterior pada kaki kanan dan dipastikan akan menjalani operasi. Meskipun ia tidak berkontribusi pada hasil akhir, kepergiannya memperkuat narasi tentang betapa kerasnya kompetisi di level kedua Spanyol, di mana satu cedera dapat mengubah nasib tim.
Setelah kekalahan tersebut, Granada masih berada dalam zona aman, dengan selisih poin yang cukup dari zona degradasi. Namun, para pengamat menekankan bahwa posisi āvirtually safeā tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan usaha. Dalam kolom opini lokal, disebutkan bahwa “kekalahan di Albacete adalah cermin kegagalan mental dan taktik, bukan sekadar kebetulan.”
Faktor lain yang menambah tekanan adalah kebosanan dan kelelahan penonton lokal. Menurut laporan Onda Deportiva Granada, tingkat kehadiran di stadion menurun signifikan, mencerminkan kekecewaan publik terhadap performa tim. Pengurus klub diharapkan melakukan refleksi menyeluruh, tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada strategi pemasaran dan hubungan dengan suporter.
Dengan agenda pertandingan selanjutnya melawan AlmerĆa pada akhir pekan ini, harapan masih ada bagi Granada untuk memperbaiki citra. Pertandingan melawan tim yang sedang bersaing untuk posisi promosi ini menjadi ujian nyata bagi Pacheta dan skuadnya. Jika Granada dapat mengembalikan intensitas, disiplin, dan konsistensi, mereka dapat menutup musim dengan kepala tegak.
Berikut rangkuman statistik utama pertandingan:
- Skor akhir: Albacete 4 ā 1 Granada
- Penguasaan bola: Albacete 62% ā Granada 38%
- Tembakan ke arah gawang: Albacete 8 ā Granada 3
- Gol: Jonathan Gómez (10′), LluĆs López MĆ”rmol (15′), Gonzalo Petit (62′), Samuel Obeng (71′), JosĆ© Carlos Lazo (79′)
- Pemain terbaik: Oscar Naasei (Granada) ā Rating 7,5
Kesimpulannya, kekalahan Granada vs Albacete menyoroti kerentanan taktik dan mental tim, sekaligus menegaskan pentingnya perbaikan sebelum akhir musim. Tanpa perubahan signifikan, klub berisiko kehilangan dukungan fans dan menurunkan moral pemain, yang pada gilirannya dapat mengancam stabilitas klasemen mereka.