Liput – 21 April 2026 | Cafu, atau Marcos Evangelista de Morais, lahir di kawasan kumuh Sao Paulo pada 7 Juni 1970. Sejak kecil ia menancapkan kaki pada bola, bermimpi menembus panggung global. Perjalanan kariernya dimulai di tim lokal, namun bakat luar biasa mengantarkannya ke Eropa bersama Real Zaragoza, kemudian menancapkan namanya di Serie A bersama AS Roma dan AC Milan. Di klub Italia, ia menjadi salah satu bek kanan paling konsisten, mengukir reputasi sebagai full‑back ideal yang mampu menyerang dan bertahan secara bersamaan.
Debutnya di Piala Dunia terjadi pada edisi 1994 di Amerika Serikat. Di bawah asuhan Carlos Alberto Parreira, Cafu menjadi mesin serangan di sisi kanan pertahanan Brasil. Kecepatan, stamina, dan kemampuan mengirimkan umpan silang membuatnya menjadi ancaman konstan bagi lawan. Brasil menembus final dan mengalahkan Italia lewat adu penalti, mematahkan penantian 24 tahun tanpa gelar dunia. Cafu menjadi bagian tak terpisahkan dari skuad juara.
Empat tahun kemudian, di Piala Dunia Prancis 1998, Brasil kembali menjadi favorit. Dengan Ronaldo, Rivaldo, dan Cafu berusia 28 tahun, harapan tinggi menyertai tim. Namun final melawan tuan rumah berujung 0‑3, menorehkan catatan pahit dalam karier sang kapten muda. Kekalahan itu tidak menghentikannya; justru memupuk semangat untuk kembali ke puncak.
Puncak karier internasional Cafu tiba di Piala Dunia 2002 di Korea Selatan‑Jepang. Kini ia menjabat sebagai kapten, memimpin tim berisi trio “R” – Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho. Bersama Roberto Carlos di sisi kiri, pertahanan Brasil menjadi keseimbangan sempurna antara kecepatan dan ketangguhan. Brasil menjuarai turnamen itu, menandai gelar dunia ketiga dan mengukuhkan Cafu sebagai satu‑satunya pemain yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia sebagai kapten dan pemain.
Setelah pensiun, Cafu tidak menghilang dari sorotan sepak bola. Pada tahun 2026, ia kembali muncul sebagai suara berpengaruh, menilai peluang Brasil untuk kembali menjuarai dunia. Menurutnya, penunjukan Carlo Ancelotti sebagai pelatih kepala tim nasional menjadi faktor krusial. Ancelotti, dengan pengalaman dua gelar Piala Dunia bersama Italia, diyakini dapat memperkuat fondasi pertahanan Brasil, area yang menurut Cafu masih memerlukan penyempurnaan meski lini serang selalu produktif.
- Penekanan pada pertahanan: Ancelotti diharapkan menata lini belakang agar lebih solid.
- Dukungan pada Vinicius Junior: Cafu menilai pemain muda tersebut dapat menenangkan kritik dan menjadi penyerang andalan.
- Pujian untuk Endrick: Pemain berusia 19 tahun yang tampil menonjol dalam laga persahabatan melawan Kroasia.
Cafu menegaskan bahwa Piala Dunia adalah panggung terbaik untuk membuktikan kualitas. Ia menaruh kepercayaan pada Vinicius Junior, menyebut turnamen tersebut sebagai cara terbaik untuk menepis kontroversi. Begitu pula dengan Endrick, yang menurutnya telah menunjukkan kematangan luar biasa setelah masa pinjaman di Lyon.
Dengan dukungan Ancelotti, kekuatan serangan yang dimiliki Vinicius Jr, dan bakat muda Endrick, Cafu optimis Brasil akan kembali mengangkat trofi dunia setelah 24 tahun vakum. Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan kuat bahwa kombinasi taktik defensif Ancelotti dan kreativitas tradisional Brasil dapat menaklukkan kompetisi paling bergengsi.
Sejarah menorehkan nama Cafu sebagai legenda yang tidak hanya mengukir dua gelar dunia, tetapi juga menjadi panutan bagi generasi baru. Jika prediksi Cafu terbukti, Piala Dunia 2026 akan kembali menjadi babak bersejarah bagi Selecao, menambah lembaran kejayaan yang telah dimulai sejak gang‑gang sempit Sao Paulo.