Liput – 20 April 2026 | Para menteri keuangan negara anggota G7 menandatangani kesepakatan penting dalam pertemuan di Washington pada 19 April 2026. Kesepakatan tersebut menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis dengan melibatkan negara-negara kaya sumber daya seperti Indonesia, India, Australia, dan Argentina. Tujuan utama adalah mengurangi ketergantungan pada Tiongkok, yang saat ini menguasai mayoritas produksi logam tanah jarang dunia.
Dalam sambutan yang dipimpin bersama oleh perwakilan Prancis dan Jepang, Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menekankan pentingnya diversifikasi pasokan. “Kami membahas penguatan rantai pasok mineral kritis. Ini situasi yang saling menguntungkan karena pasokan dapat diamankan dari berbagai negara,” ujar Katayama. Ia menambahkan bahwa kerja sama ini membuka peluang bisnis baru bagi negara penghasil sumber daya, termasuk Indonesia, yang memiliki cadangan besar mineral strategis.
Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB), menandakan dukungan lembaga keuangan multilateral terhadap inisiatif G7. Kedua institusi tersebut akan menyediakan pembiayaan dan bantuan teknis untuk proyek-proyek penambangan, pemrosesan, dan pengembangan teknologi ramah lingkungan yang dapat meningkatkan kemandirian pasokan mineral kritis secara global.
Strategi G7 berlawanan dengan usulan Amerika Serikat yang mengusulkan pembentukan “zona perdagangan preferensial”. Pendekatan Prancis lebih menekankan kerja sama berbasis proyek bisnis yang konkret, seperti pengembangan pabrik pemurnian di negara mitra. Hal ini dianggap lebih realistis karena mengurangi risiko politisasi dan memungkinkan transfer teknologi secara langsung.
Dominasi Tiongkok dalam sektor mineral kritis menjadi faktor utama dorongan kebijakan ini. Menurut data terbaru, China menambang sekitar 70 persen logam tanah jarang dunia dan memproses hingga 90 persen produk akhir. Mineral tersebut menjadi komponen esensial dalam industri teknologi tinggi, termasuk pembuatan baterai listrik, perangkat elektronik, dan sistem pertahanan. Katayama menilai bahwa ketergantungan berlebihan pada satu negara dapat dijadikan “senjata” geopolitik.
- Negara G7 yang terlibat: Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Jepang.
- Negara produsen yang diundang: Indonesia, India, Australia, Argentina.
- Lembaga keuangan: Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia.
Indonesia diposisikan sebagai pemain kunci dalam strategi ini. Pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi beberapa lokasi potensial untuk pengembangan tambang mineral kritis, termasuk wilayah Papua dan Sulawesi. Dengan dukungan investasi G7, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pemurnian domestik, yang selama ini masih bergantung pada fasilitas di luar negeri, terutama di China.
Para analis ekonomi memperkirakan bahwa kolaborasi ini dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi signifikan bagi negara-negara peserta. Diversifikasi rantai pasok tidak hanya mengurangi risiko geopolitik, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan ekspor, dan memperkuat keamanan energi. Selain itu, standar lingkungan yang lebih ketat akan mendorong inovasi dalam teknologi penambangan berkelanjutan.
Kesepakatan G7 ini menandai perubahan paradigma dalam kebijakan mineral kritis global. Dengan mengintegrasikan negara produsen seperti Indonesia ke dalam jaringan pasokan, dunia bergerak menuju sistem yang lebih resilient dan adil. Meskipun tantangan teknis dan regulasi tetap ada, komitmen bersama dari G7 dan lembaga keuangan internasional memberikan harapan bahwa ketergantungan pada China dapat berkurang secara bertahap, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung ekonomi global.