Liput – 05 April 2026 | Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, kembali menjadi sorotan dunia setelah Iran mengizinkan sejumlah kapal asing melintasinya pada awal April 2026. Keputusan ini menandai perubahan signifikan sejak penutupan selat pada akhir Februari setelah serangan udara bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Tiga negara — Prancis, Oman, dan Jepang — berhasil menembus blokade tersebut, menandai pertama kalinya kapal-kapal Barat dan Asia dapat menggunakan rute strategis itu dalam kondisi konflik yang masih berlanjut.
Kapal kontainer milik perusahaan logistik Prancis CMA CGM menjadi contoh paling menonjol. Berlayar dengan nama Kribi dan berbendera Malta, kapal ini tercatat melintasi Selat Hormuz pada 2 April 2026. Sebelum memasuki perairan Iran, Kribi mengubah status kepemilikan menjadi milik Prancis, sebuah langkah yang dipandang sebagai sinyal diplomatik kepada otoritas Teheran untuk memperjelas kebangsaan kapal. Pemerintah Prancis, melalui Presiden Emmanuel Macron, menekankan bahwa pembukaan kembali jalur tersebut harus dicapai melalui diplomasi, bukan aksi militer.
Sementara itu, Oman Shipping Management mengoperasikan tiga kapal — dua Very Large Crude Carrier (VLCC) dan satu tanker LNG — yang berhasil keluar dari Selat Hormuz pada 4 April. Oman, yang selama ini berperan sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat, berhasil menavigasi perairan dengan menampilkan identitas kapal secara jelas, memperlihatkan koordinasi yang baik dengan pihak Iran yang memberikan izin transit terbatas bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat atau Israel.
Di pihak Asia, Mitsui OSK Lines mengonfirmasi keberhasilan kapal tanker LNG bernama Sohar LNG melintasi selat. Kapal tersebut menjadi yang pertama dari Jepang yang berhasil menembus jalur itu sejak pecahnya konflik. Juru bicara Mitsui menyatakan bahwa awak kapal berada dalam keadaan aman, meskipun perusahaan tidak mengungkapkan detail waktu atau negosiasi yang terjadi sebelum lintasan tersebut. Sebanyak 45 kapal milik perusahaan Jepang masih tertahan di kawasan tersebut, menunggu kepastian keamanan sebelum dapat melanjutkan pelayaran.
Data pelayaran yang dihimpun oleh Lloyd’s List Intelligence menunjukkan bahwa sejak 1 Maret 2026, hanya sekitar 150 kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz. Mayoritas kapal tersebut berasal dari China, India, dan Pakistan. Namun, kehadiran kapal-kapal Prancis, Oman, dan Jepang menandakan adanya pelonggaran kebijakan Iran yang kini hanya memperbolehkan transit bagi negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik dengan Tehran.
- 1 kapal kontainer Prancis (CMA CGM – Kribi)
- 3 kapal Oman (2 VLCC + 1 tanker LNG)
- 1 kapal LNG Jepang (Mitsui OSK Lines – Sohar LNG)
Perubahan kebijakan Iran dipicu oleh tekanan ekonomi dan kebutuhan untuk menjaga aliran minyak serta gas dunia, mengingat Selat Hormuz menyumbang sekitar satu per lima perdagangan minyak dan LNG global. Dalam sebuah tulisan di jurnal Foreign Affairs, mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menyarankan Tehran untuk mengambil inisiatif perdamaian, termasuk membuka kembali selat sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Pernyataan ini menambah dimensi diplomatik pada keputusan terbaru yang tampak lebih pragmatis.
Di sisi lain, komentar dari tokoh politik Amerika Serikat menunjukkan dinamika yang berbeda. Mantan Presiden Donald Trump mengklaim militernya dapat dengan mudah membuka kembali Selat Hormuz, namun mengekspresikan kekecewaan atas kurangnya dukungan sekutu. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan pentingnya dialog dan penegakan hukum internasional untuk memastikan keamanan jalur pelayaran.
Keberhasilan tiga negara ini menandai titik balik dalam dinamika geopolitik Teluk Persia. Meskipun ketegangan masih tetap tinggi, pelonggaran akses bagi kapal-kapal tertentu dapat menjadi langkah awal menuju stabilitas yang lebih luas, terutama jika diikuti dengan upaya diplomatik yang melibatkan semua pihak terkait.