Liput – 12 April 2026 | Islam Makhachev, petarung asal Dagestan yang kini memegang sabuk juara kelas ringan UFC, kembali menjadi sorotan media. Kariernya yang dulu tergores oleh kekalahan KO pada 2015 kini bersinar dengan serangkaian kemenangan beruntun, namun di luar oktagon ia terlibat insiden yang memicu perdebatan di kalangan penggemar MMA.
Pada 3 Oktober 2015, Makhachev masih berusia 24 tahun dan bertanding melawan petarung Brasil, Adriano Martins, dalam UFC 192 di Houston. Pertarungan yang diprediksi menjadi batu loncatan bagi petarung muda itu berakhir tragis dalam kurang dari dua menit; pukulan keras Martins menurunkan Makhachev dan wasit menghentikan laga. Keputusan KO tersebut menuai kontroversi karena sebagian penonton menilai Makhachev tidak sepenuhnya pingsan, namun demi keselamatan, wasit tetap memutuskan penghentian. Kekalahan ini sempat menahan laju kariernya, namun Makhachev tidak menyerah.
Setelah episode itu, sang petarung memulai proses bangkit yang menakjubkan. Ia kembali ke ring dengan tekad kuat, memenangkan sepuluh pertarungan berturut-turut, enam di antaranya lewat penyelesaian spektakuler. Puncaknya tercapai ketika ia melawan Charles Oliveira dalam pertarungan untuk gelar kelas ringan yang kosong. Makhachev mendominasi Oliveira, merebut sabuk juara dan menegaskan dirinya sebagai salah satu petarung terkuat dunia. Hingga kini, ia telah mempertahankan gelar tersebut tiga kali, termasuk kemenangan atas Dustin Poirier, menegaskan statusnya sebagai juara tak terkalahkan.
Namun, di balik kesuksesan di dalam oktagon, Makhachev terjerat dalam kontroversi di luar arena. Pada Desember lalu, saat acara pengumuman UFC 311, ia terlibat adu cekcok dengan petarung legendaris Amerika, Nate Diaz. Insiden terjadi di belakang panggung, di mana kedua atlet saling melempar botol dan terlibat pertengkaran verbal. Diaz kemudian mengacungkan jari tengah kepada Makhachev dan timnya, memicu keributan yang hampir berujung pada perkelahian fisik. Kejadian tersebut berhasil dicegah oleh keamanan, namun terekam jelas oleh kamera media.
Setelah insiden, bos UFC, Dana White, langsung menanggapi dengan menuduh Makhachev sebagai “pembuat onar”. Makhachev menepis tuduhan tersebut dalam sebuah episode podcast bersama legenda MMA Demetrious Johnson. Ia menjelaskan bahwa provokasi berasal dari Diaz, yang pada awalnya menunjukkan rasa hormat namun berubah sikap saat sorotan kamera muncul. “Dia datang dengan hormat, lalu ketika kamera muncul, semuanya berubah. Saya tidak memulai keributan,” ujar Makhachev. Ia juga menambahkan bahwa petugas keamanan berusaha mengusir timnya, memaksa ia memilih antara melanjutkan wawancara atau menutup pintu bagi tim pendampingnya.
Menurut Makhachev, insiden ini tidak sekadar soal perseteruan pribadi, melainkan cerminan ketegangan yang masih tersisa sejak era Khabib Nurmagomedov, mantan juara kelas ringan dan ikon Dagestan. Diaz, yang pernah bersaing dengan Khabib, tampaknya memproyeksikan kemarahannya kepada Makhachev, yang dianggap sebagai penerus warisan Khabib. “Mungkin dia belum bisa melupakan persaingan dengan Khabib, lalu mengalihkan emosinya kepada saya,” kata Makhachev.
Meski demikian, insiden tersebut tidak mengurangi popularitas Makhachev. Sebaliknya, ia tetap menjadi sorotan utama menjelang UFC 311, di mana ia dijadwalkan melawan Arman Tsarukyan. Persiapan mental dan fisik Makhachev kini tidak hanya difokuskan pada pertarungan, tetapi juga pada menjaga citra profesional di luar arena.
Fenomena ini menyoroti dinamika unik dunia MMA, di mana tekanan media, ekspektasi penggemar, dan sejarah pribadi petarung dapat memicu konflik di luar octagon. Bagi Makhachev, tantangan selanjutnya adalah membuktikan bahwa ia dapat menavigasi kedua dunia tersebut dengan integritas, sekaligus mempertahankan gelar juara yang kini menjadi kebanggaan Rusia dan Dagestan.
Sejarah perjalanan Islam Makhachev dari kegagalan awal hingga puncak kejayaan menunjukkan betapa pentingnya ketangguhan mental dalam olahraga bela diri. Di sisi lain, insiden dengan Nate Diaz mengingatkan bahwa sikap saling menghormati di luar arena tetap menjadi landasan sportivitas yang harus dijaga. Penggemar MMA di seluruh dunia kini menantikan pertarungan berikutnya, berharap Makhachev dapat kembali menunjukkan kehebatan teknik Sambo‑nya tanpa gangguan eksternal.