Liput – 10 April 2026 | NASA kembali menorehkan sejarah dengan misi Artemis II yang kini berada dalam fase akhir perjalanan kembali ke Bumi. Setelah menempuh sekitar 10 hari di sekitar Bulan, kapsul Orion yang mengangkut empat astronot siap melakukan re‑entry dan splashdown di Samudra Pasifik. Berbagai platform pelacakan daring telah disediakan untuk publik, memungkinkan jutaan mata memantau setiap detik perjalanan menegangkan ini.
Artemis II, misi berawak pertama dalam program Artemis, diluncurkan pada 26 November 2024 menggunakan roket Space Launch System (SLS) dari Kompleks Peluncuran 39B, Kennedy Space Center, Florida. Empat kru – Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch, dan Spesialis Misi Jeremy Hansen – mengorbit Bulan dan melakukan serangkaian manuver orbit lunar sebelum memulai perjalanan kembali ke Bumi pada hari ke‑9 misi.
Untuk memudahkan pemantauan, NASA menyiapkan “live tracker” yang terintegrasi dalam situs resmi mereka serta portal berita teknologi seperti MSN. Pada platform tersebut, pengguna dapat melihat posisi Orion secara real‑time, kecepatan, serta perkiraan titik masuk kembali (re‑entry) ke atmosfer. Selain situs resmi, beberapa situs berita lain seperti Edge menampilkan peta interaktif yang menandai lintasan orbit, meski terkadang mengalami kendala akses karena tingginya permintaan.
Hari ke‑9 menandai tahap kritis di mana kru melakukan persiapan akhir sebelum Orion memasuki atmosfer Bumi. Para astronot memeriksa sistem termal, menyesuaikan orientasi modul layanan, dan memastikan semua prosedur keamanan telah dipenuhi. Proses ini juga disiarkan secara langsung melalui feed video NASA, memberikan gambaran detail tentang bagaimana tim mengontrol suhu eksternal yang mencapai lebih dari 2.500 °C saat re‑entry.
Pelacakan bukan hanya mengandalkan data satelit; jaringan teleskop robotik di seluruh dunia turut berperan. Beberapa observatorium otomatis, yang dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi, diarahkan khusus untuk menangkap citra Orion selama fase masuk kembali. Data visual ini kemudian diproses dan diunggah ke portal pelacakan, memperkaya pengalaman pemirsa dengan gambar real‑time yang menakjubkan.
NASA memperkirakan splashdown akan terjadi di zona penjemputan di Samudra Pasifik, sekitar 200 km lepas pantai selatan California. Tim penyelamat kapal laut dan helikopter sudah berada dalam posisi siaga, siap mengevakuasi kru segera setelah kapsul mengapung. Lokasi tersebut dipilih karena infrastruktur penanggulangan darurat yang sudah teruji serta kedalaman air yang aman untuk meminimalkan risiko kerusakan pada modul.
Selain situs resmi, masyarakat dapat mengikuti perkembangan melalui aplikasi seluler NASA, feed Twitter resmi, serta kanal YouTube. Semua platform menampilkan data telemetry, grafik kecepatan, dan estimasi waktu tiba (ETA) yang diperbarui setiap beberapa menit. Interaksi publik juga didorong dengan sesi tanya jawab daring bersama para ilmuwan NASA, meningkatkan rasa memiliki terhadap pencapaian luar angkasa ini.
Secara keseluruhan, pelacakan Artemis II memperlihatkan sinergi teknologi modern – dari sistem telemetry satelit, jaringan teleskop robotik, hingga platform digital interaktif. Keberhasilan misi ini tidak hanya menandai kembali langkah manusia ke luar angkasa setelah dua dekade, tetapi juga membuka jalur transparansi yang lebih besar bagi publik dalam mengikuti setiap fase perjalanan luar angkasa. Dengan data yang terbuka dan visual yang memukau, Artemis II menjadi contoh bagaimana eksplorasi ruang angkasa dapat menjadi pengalaman bersama, menyiapkan panggung bagi misi Artemis berikutnya yang menargetkan pendaratan manusia di Bulan.