Liput – 07 April 2026 | SM Entertainment resmi mengumumkan pada 3 April 2026 bahwa kontrak Mark Lee akan berakhir pada 8 April 2026 dan tidak akan diperpanjang. Keputusan tersebut menandai keluarnya Mark dari semua unit NCT, termasuk NCT Dream, setelah lebih dari satu dekade berkiprah di bawah naungan agensi tersebut. Pengumuman ini langsung memicu gelombang kejut dan kesedihan yang luas di kalangan penggemar, terutama para Dreamers yang telah menyaksikan pertumbuhan grup sejak debut pada 25 Agustus 2016.
Mark bukan sekadar anggota biasa. Sebagai maknae sekaligus pemimpin tak resmi NCT Dream, ia berperan sebagai figur senior yang selalu menjadi jembatan antara anggota yang lebih muda dengan manajemen. Selama masa transisi dari konsep “remaja yang bermimpi” ke grup yang kini berstatus permanen, Mark selalu menjadi sosok yang menyeimbangkan dinamika kreatif, menulis lirik rap, dan memberikan arahan di panggung. Hubungan akrab yang terjalin antara Mark dan anggota lain—Jeno, Jaemin, Jisung, Renjun, Chenle, serta Haechan—telah menjadi bagian penting dari narasi pertumbuhan grup.
Berikut beberapa faktor utama yang menjadikan kepergian Mark sebagai pukulan besar bagi fans NCT Dream:
- Kepemimpinan dan Kedekatan Emosional: Meskipun SM Entertainment tidak secara resmi menobatkan Mark sebagai leader, anggota grup dan fanbase secara konsensus menganggapnya sebagai figur kepemimpinan. Ia sering menjadi “kakak tertua” yang memberi nasihat, mengatur jadwal latihan, dan menjadi pendengar setia bagi rekan-rekannya. Pesan emosional yang ia sampaikan lewat platform Bubble setelah kontrak berakhir menegaskan kedalaman ikatan tersebut.
- Kontribusi Musikal yang Ikonik: Mark menempati posisi main rapper pada banyak lagu NCT Dream, menciptakan pola rap yang menjadi ciri khas grup. Lirik‑liriknya pada “Saturday Drip” maupun “Tempo (0 to 100)” menunjukkan kemampuan menulis yang kuat, sekaligus menambah nilai estetika lagu. Kehilangan suara rapnya berarti rap line harus diisi ulang oleh Jeno, Jaemin, dan Jisung, yang belum memiliki jejak vokal sekuat Mark.
- Sejarah “Graduation” yang Menggugah: Pada 2018, Mark sempat “graduated” dari NCT Dream ketika usianya melampaui batas legal grup. Kembalinya ia setelah protes fans menjadi bukti betapa pentingnya kehadirannya bagi identitas grup. Sekarang, kepergian permanen ini mengingatkan kembali rasa kehilangan yang pernah dirasakan fans pada saat itu, namun kali ini tanpa harapan kembalinya.
- Peran sebagai Penghubung Unit: Mark aktif di berbagai unit NCT, termasuk NCT U, NCT 127, dan proyek kolaboratif lainnya. Perannya sebagai penghubung antar‑unit memberikan NCT Dream akses ke jaringan internasional yang lebih luas, baik dalam promosi maupun kolaborasi musik. Tanpa Mark, grup kehilangan salah satu titik strategis yang menguatkan eksposur global mereka.
- Keterikatan Fans yang Sudah Terbentuk Selama Dekade: NCT Dream dibentuk dengan konsep “remaja yang bermimpi”, dan sejak debut pada usia 15‑17 tahun, fans menyaksikan perubahan anggota menjadi dewasa bersama grup. Mark, sebagai anggota pertama yang melewati fase “graduation”, menjadi saksi utama perjalanan tersebut. Fans merasa bahwa menamatinya perjalanan bersama Mark adalah seperti kehilangan bagian penting dari cerita pribadi mereka.
Akibat kepergian Mark, SM Entertainment mengumumkan empat perubahan utama yang akan dihadapi NCT Dream:
- Formasi akan berkurang menjadi enam anggota aktif, dengan Jeno mengambil peran captain yang sebelumnya diemban oleh Mark.
- Rap line akan beralih sepenuhnya ke Jeno, Jaemin, dan Jisung, memaksa ketiganya untuk mengembangkan kemampuan rap yang lebih mendalam.
- Konsep musik grup diperkirakan akan beralih ke arah yang lebih dewasa, menyesuaikan dengan usia anggota yang kini semuanya melewati batas remaja.
- Proses kreatif, termasuk penulisan lirik dan produksi, akan lebih mengandalkan kontribusi internal anggota, mengurangi ketergantungan pada Mark sebagai penulis utama.
Reaksi di media sosial memperlihatkan spektrum emosional yang luas. Banyak fans mengekspresikan kesedihan mendalam, mengingat kembali momen-momen ikonik Mark bersama grup, sementara sebagian lainnya memberikan dukungan penuh terhadap keputusan karier pribadi Mark. Kritik juga muncul, menyangkut cara Mark menyampaikan pesan perpisahannya melalui platform Bubble yang dianggap kurang sensitif oleh sebagian netizen.
Secara keseluruhan, kepergian Mark Lee menandai akhir dari sebuah era dalam sejarah NCT Dream. Ia tidak hanya meninggalkan jejak musikal yang kuat, tetapi juga menorehkan nilai sentimental yang tak tergantikan bagi para fans yang telah tumbuh bersama grup selama sepuluh tahun. Meski tantangan baru menanti, NCT Dream kini berada pada posisi untuk mengeksplorasi identitas baru, sementara Mark akan melanjutkan perjalanan karier musiknya secara independen.
Dengan demikian, keputusan Mark bukan sekadar perubahan personil, melainkan sebuah momen refleksi bagi industri K‑Pop, agensi, dan terutama komunitas fanbase yang telah menginvestasikan emosi, waktu, dan dukungan mereka selama satu dekade terakhir.