Mengapa Produsen Naikkan Harga? Menperin Bongkar Faktor Global, UMKM Gelisah, dan Harga Plastik Melambung di Surabaya

Liput – 04 April 2026 | Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkap penyebab utama banyak produsen menaikkan harga jual di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Menurut Menperin, lonjakan harga bahan baku serta gangguan rantai pasok menjadi pendorong utama penyesuaian harga di sektor industri. Inflasi bahan baku yang mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir memaksa pelaku industri menyesuaikan harga jual demi menjaga kelangsungan usaha.

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026 menunjukkan nilai 50,1, masih berada di zona ekspansi. Angka ini menandakan sektor manufaktur nasional masih memiliki ketahanan meski menghadapi tekanan biaya. Indonesia bahkan berada di antara negara ASEAN yang mencatat PMI ekspansif, bersaing dengan Thailand (54,1), Malaysia (50,7), Myanmar (51,5), dan Filipina (51,3). Menperin menekankan bahwa kemampuan Indonesia mempertahankan indeks di atas 50 mencerminkan resiliensi kuat sektor manufaktur tanah air.

Namun, tekanan tersebut tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga menghadapi dilema serupa. Kenaikan harga bahan baku seperti minyak goreng, cabai, tepung, dan kedelai menurunkan margin keuntungan mereka. Sebagai contoh, seorang penjual warung gorengan harus memilih antara menaikkan harga jual atau kehilangan pelanggan setia. Jika harga naik, konsumen yang sensitif terhadap harga dapat beralih ke kompetitor; jika harga tetap, profitabilitas usaha terancam.

Para ahli ekonomi menekankan pentingnya memahami elastisitas harga permintaan. Produk yang bersifat elastis – seperti camilan dan minuman ringan – cenderung mengalami penurunan penjualan signifikan bila harga naik. Sebaliknya, produk inelastis seperti kebutuhan pokok atau barang dengan nilai brand kuat dapat menahan kenaikan harga tanpa kehilangan banyak pelanggan. Oleh karena itu, strategi penyesuaian harga harus disesuaikan dengan karakteristik produk masing-masing.

Untuk membantu UMKM menghadapi kenaikan biaya, beberapa langkah praktis dapat diterapkan:

  • Menyesuaikan ukuran produk (shrinkflation) sehingga harga jual tetap sama namun berat atau volume sedikit berkurang.
  • Menggunakan bundling produk untuk meningkatkan nilai jual keseluruhan.
  • Mencari pemasok alternatif atau bergabung dalam koperasi untuk menurunkan biaya bahan baku.
  • Meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi limbah, dan mengoptimalkan penggunaan energi.

Sementara itu, lonjakan harga plastik di Surabaya menjadi contoh konkret dampak geopolitik terhadap biaya produksi domestik. Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan minyak bumi, bahan baku utama pembuatan plastik. Pedagang plastik di Pasar Pucang Anom melaporkan kenaikan harga hingga 40 persen, dari Rp9.000 menjadi Rp15.000 per satuan. Kenaikan ini memicu efek domino pada harga pangan, karena kemasan plastik menjadi komponen penting dalam distribusi makanan.

Pengusaha plastik seperti Mimin (65 tahun) dan Maksum (48 tahun) menyatakan bahwa peningkatan biaya bahan baku memaksa mereka menambah modal kulakan, sementara omset tidak naik seimbang. Hal ini menambah beban keuangan UMKM yang bergantung pada kemasan plastik untuk menjual produk mereka, dari makanan ringan hingga kebutuhan rumah tangga.

Menperin menegaskan komitmen kementerian untuk terus berkoordinasi dengan lembaga terkait guna menjaga keberlanjutan industri. “Kami akan memastikan industri dalam negeri tetap adaptif dan kompetitif,” ujar Agus dalam pernyataan resmi pada 4 April 2026. Upaya tersebut mencakup dukungan kebijakan pembiayaan, pemantauan rantai pasok, serta insentif bagi pelaku usaha yang berinovasi meningkatkan efisiensi.

Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan 73,7 persen responden menilai kegiatan usahanya membaik dan stabil, dengan optimisme terhadap enam bulan ke depan mencapai 71,8 persen. Angka ini menandakan keyakinan pelaku industri meski berada dalam tekanan biaya yang tinggi.

Secara keseluruhan, kenaikan harga jual produsen di Indonesia dipicu oleh kombinasi faktor eksternal – seperti inflasi bahan baku global, gangguan rantai pasok, dan dinamika geopolitik – serta tekanan internal pada UMKM yang harus menyeimbangkan antara menjaga margin dan mempertahankan pangsa pasar. Kebijakan yang mendukung stabilitas pasokan, akses modal, dan inovasi produksi menjadi kunci untuk menahan dampak kenaikan harga dan memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Dengan fondasi permintaan domestik yang masih kuat serta upaya koordinasi lintas kementerian, sektor industri Indonesia diharapkan dapat mengatasi tantangan harga dan tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan nasional.