Liput – 09 April 2026 | Ketua Umum Partai Kuomintang (KMT) Taiwan, Cheng Li-wun, tiba di daratan utama China pada Selasa 7 April 2026, menandai kunjungan pertama seorang pemimpin KMT dalam satu dekade terakhir. Delegasi oposisi yang dipimpinnya mengunjungi tiga kota utama: Shanghai, Nanjing, dan Beijing, dengan agenda utama menyuarakan rekonsiliasi lintas selat serta membangun rasa saling percaya antara Taipei dan Beijing.
Di Nanjing, Cheng menurunkan karangan bunga di Mausoleum Sun Yat-sen, pendiri Republik China, sambil menegaskan nilai-nilai kesetaraan, inklusivitas, dan persatuan yang diwariskan oleh sang revolusioner. “Semua di bawah langit adalah sama,” ujarnya, menekankan bahwa kedua belah pihak harus kembali ke prinsip dasar tersebut untuk menghindari konflik yang dapat menghancurkan Taiwan.
Pernyataan Cheng juga menyoroti kemajuan pesat pembangunan di China, sekaligus memuji demokratisasi Taiwan sejak era “white terror” berakhir pada 1987. Ia menekankan bahwa meskipun Taiwan telah berkembang menjadi masyarakat demokratis, dialog tetap diperlukan untuk mencegah konfrontasi militer.
Pihak otoritas China menyambut kedatangan Cheng dengan nada positif. Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara China mengklaim kunjungan ini dapat memperkuat perdamaian regional dan menciptakan stabilitas di kawasan Asia‑Pasifik. Sementara itu, rumor tentang pertemuan tingkat tinggi antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump pada bulan Mei menambah dimensi geopolitik pada lawatan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Taiwan yang dikuasai Partai Progresif Demokratik (DPP) mengecam langkah Cheng. Juru bicara DPP, Wu Cheng, menilai kunjungan ini dapat melemahkan keamanan nasional dan menyoroti bahwa Cheng tidak memiliki mandat resmi untuk bernegosiasi mewakili pemerintah. Pemerintah DPP menuntut agar oposisi segera menghentikan pemblokiran anggaran pertahanan khusus senilai 40 miliar dolar AS yang saat ini sedang dibahas di parlemen.
Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional Taiwan, Tsai Ming‑yen, menuduh China menggunakan strategi “carrot and stick”—mengombinasikan tekanan militer dengan pendekatan persuasif politik—untuk menciptakan tekanan psikologis di kalangan publik Taiwan. Ia menyebut latihan militer armada China di sekitar perairan dan wilayah udara Taiwan sebagai bukti nyata niat Beijing mengintensifkan ancaman.
Sementara Amerika Serikat terus menekan Taiwan untuk meningkatkan belanja pertahanan, KMT tetap menegaskan komitmennya untuk memanfaatkan setiap peluang dialog demi menghindari perang. Cheng menuturkan, “Kita harus bekerja sama mempromosikan rekonsiliasi dan persatuan lintas selat demi menciptakan kemakmuran regional dan perdamaian.”
Analisis para pakar politik menunjukkan bahwa kunjungan Cheng berada di persimpangan kepentingan strategis: di satu sisi, ada kebutuhan mendesak Taiwan untuk memperkuat kapasitas pertahanan secara mandiri; di sisi lain, ada tekanan domestik dari partai oposisi yang menolak anggaran militer besar. Kunjungan ini juga menjadi ajang uji coba kebijakan luar negeri China yang berusaha menurunkan ketegangan tanpa mengorbankan klaim kedaulatannya atas Taiwan.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi apakah Cheng akan bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping. Namun, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China menyatakan kesiapan untuk mengadakan dialog dengan semua pihak yang berkomitmen pada perdamaian. Di Taiwan, respons publik masih terpecah; sebagian menyambut harapan akan dialog, sementara yang lain menilai langkah ini sebagai tindakan politis yang dapat mengorbankan keamanan nasional.
Dengan dinamika yang semakin kompleks, masa depan hubungan Taipei‑Beijing tampak masih dipenuhi ketidakpastian. Kunjungan Cheng Li-wun membuka ruang baru bagi diskusi, namun juga menimbulkan tantangan signifikan bagi DPP dalam mempertahankan kebijakan pertahanan yang kuat sekaligus mengelola tekanan politik domestik.
