Liput – 14 April 2026 | Bek Timnas Indonesia yang kini membela klub Eredivisie, Fortuna Sittard, kembali menjadi sorotan publik setelah aksi tekel kerasnya melukai pemain lawan dalam pertandingan melawan NAC Breda pada 12 April 2026. Penampilan agresif Hubner, yang dijuluki “El Preman” oleh suporter, memicu perdebatan tentang batasan fisik dalam sepak bola modern serta menimbulkan pertanyaan tentang sikap wasit dalam menilai kontak keras di lapangan.
Justin Hubner, yang sebelumnya meniti karier di timnas Belanda U-20 sebelum beralih menjadi naturalisasi Indonesia, dikenal memiliki gaya bermain yang tidak kompromi. Karakteristik ini membuatnya menjadi figur yang polarising: di satu sisi ia memiliki basis penggemar yang menghargai ketangguhan dan keberaniannya, sementara di sisi lain ia kerap dikritik karena menimbulkan cedera pada lawan.
Pada menit ke-34 pertandingan di Stadion Offermans Joosten, Lewis Holtby dari NAC Breda berada dalam posisi mengolah bola di dalam kotak penalti. Hubner berusaha merebut bola dengan kaki kirinya, namun kontak tersebut mengenai pergelangan kaki kiri Holtby sehingga menimbulkan luka robek pada kulit dan menimbulkan rasa sakit yang signifikan. Kamera menyiarkan Holtby memegangi bagian atas engkelnya, sementara wasit menghentikan permainan untuk memberi kesempatan tim medis. Meskipun cedera tampak serius, wasit tidak memberi kartu kepada Hubner dan melanjutkan pertandingan.
Insiden ini mendapat liputan internasional, termasuk dari media Italia Sportmediaset yang menyoroti “tulang kering robek” sebagai judul utama. Media tersebut mencatat bahwa Holtby tidak memakai shin guard, sehingga cedera menjadi lebih parah. Setelah pertandingan, Hubner mengirimkan permintaan maaf melalui Instagram pribadi, menyatakan bahwa tidak ada niat untuk melukai lawan dan berharap Holtby cepat pulih. Holtby menanggapi dengan sikap sportivitas, menyatakan bahwa kecelakaan di lapangan memang dapat terjadi.
Sebelum insiden NAC Breda, Hubner sempat mendapat sorotan keras setelah terpaksa keluar lewat kartu merah pada Desember 2025 saat Fortuna Sittard melawan Ajax Amsterdam. Pada pertandingan tersebut, Hubner melakukan tekel brutal terhadap wonderkid Ajax, Rayane Bounida, dengan mengayunkan kedua kakinya pada jarak 60 meter dari gawang. Pelatih Fortuna, Danny Buijs, kemudian mengkritik tindakan tersebut sebagai “bodoh” dan mengakui kerugian taktis akibat bermain dengan 10 pemain.
Musim 2025/2026 mencatat total tujuh kartu kuning dalam 21 penampilan Hubner bersama Fortuna Sittard, yang mengakibatkan absen beberapa kali karena akumulasi kartu. Selain itu, Hubner pernah menerima kartu merah saat memperkuat Cerezo Osaka di Jepang, memperkuat reputasinya sebagai pemain yang sering berada di tepi batas aturan.
- 12 April 2026 – Tekel keras melukai Lewis Holtby (NAC Breda), tidak mendapat kartu.
- Desember 2025 – Kartu merah melawan Ajax, tekel terhadap Rayane Bounida.
- 2025/2026 – Tujuh kartu kuning dalam 21 pertandingan Eredivisie.
- 2025 – Kartu merah saat bermain untuk Cerezo Osaka.
Di luar lapangan, Hubner dikenal vokal tentang isu-isu administratif yang memengaruhi pemain naturalisasi, terutama kasus “passportgate” yang melibatkan beberapa pemain Timnas Indonesia. Ia secara terbuka mengkritik manajemen NAC Breda yang dianggap memperburuk situasi paspor, sekaligus membela hak rekan setimnya seperti Nathan Tjoe‑A‑On untuk tetap dapat bermain tanpa hambatan birokrasi.
Karakter blak‑blakan Hubner juga tampak di media sosial, di mana ia sering mengeluarkan pernyataan kontroversial yang memicu perdebatan publik. Meskipun demikian, popularitasnya di kalangan suporter Indonesia tetap tinggi, terutama karena ia menegaskan rasa kebanggaannya pada identitas Indonesia. Dalam sebuah wawancara, Hubner menyebutkan bahwa tanah air terasa seperti rumah dan darah Makassar menjadi motivasi utama dalam setiap penampilannya.
Penilaian para pengamat menunjukkan bahwa meski gaya permainan Hubner mengundang risiko cedera, kehadirannya memberikan nilai tambah bagi lini pertahanan Fortuna Sittard. Kecepatan, keberanian dalam duel satu lawan satu, serta kemampuan mengintervensi serangan lawan menjadi aset yang tidak dapat diabaikan. Namun, agar kariernya tetap berkelanjutan, Hubner perlu menyeimbangkan agresi dengan kontrol teknik agar tidak kembali terkena sanksi disiplin yang dapat merugikan tim.
Kesimpulannya, Justin Hubner tetap menjadi figur yang memecah belah dalam dunia sepak bola. Ia berhasil mengumpulkan basis penggemar yang mengagumi keberaniannya, sekaligus menimbulkan kritik karena menimbulkan cedera pada lawan. Dengan sikap yang lebih terkontrol dan penyesuaian taktik, Hubner berpotensi menjadi bek andalan baik di level klub maupun timnas, sekaligus menjadi contoh bagi pemain naturalisasi Indonesia yang ingin menegaskan identitas sekaligus bersaing di kompetisi Eropa.
