Liput – 10 April 2026 | Kejuaraan Asia 2026 yang digelar di Ningbo, China pada 7-12 April kemarin menyuguhkan kejutan pahit bagi tim bulu tangkis Indonesia, khususnya di sektor ganda campuran. Empat pasangan Indonesia yang dikirim untuk menguji diri melawan jajaran elit Asia berakhir dengan hasil yang jauh di bawah ekspektasi. Dua pasangan langsung tersingkir pada babak pertama, sementara dua lainnya terhenti di babak kedua, meninggalkan catatan tanpa medali bagi ganda campuran Indonesia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pasangan paling menonjol, Bobby Setiabudi dan Melati Daeva Oktavianti, harus menelan kekalahan telak melawan unggulan ketiga asal Thailand, Dechapol Puavaranukroh dan Supissara Paewsampran. Pertandingan yang berlangsung selama 28 menit berakhir dengan skor 9-21, 14-21. Sejak awal, Bobby/Melati kesulitan menahan serangan tajam dan pertahanan disiplin lawan. Kesalahan teknis dan kurangnya adaptasi terhadap tempo cepat Thailand membuat mereka tertekan sejak set pertama, dan tidak mampu mengubah dinamika pertandingan.

Pasangan lainnya, Adnan Maulana dan Indah Cahya Sari Jamil, juga harus menyerah di babak pembuka. Mereka berhadapan dengan pasangan Taiwan, Ye Hong Wei dan Nicole Gonzales Chan, dan kalah dengan skor 16-21, 14-21 dalam 31 menit. Lawan mereka menunjukkan pola permainan rapat dan kecepatan yang membuat duo Indonesia kesulitan menemukan celah.

Baca juga:

Sementara dua pasangan yang berhasil menembus babak kedua, Jafar Hidayatullah dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu serta Amri Syahnawi dan Nita Violina Marwah, tetap tak mampu melaju ke perempat final. Jafar/Felisha, yang masuk sebagai unggulan ketujuh, melawan pasangan Korea Selatan, Kim Jae Hyeon dan Jang Ha Jeong, berakhir dengan skor 21-23, 22-20, 10-21 setelah pertempuran yang berlangsung 1 jam 13 menit. Meskipun berhasil memaksa rubber game, mereka kehilangan konsistensi di gim penentu dan tertekan secara mental.

Amri/Nita, yang menghadap tim tuan rumah sekaligus unggulan pertama, Feng Yan Zhe dan Huang Dong Ping, mengalami kekalahan 10-21, 15-21 dalam 43 menit. Kekalahan ini menambah catatan head‑to‑head Indonesia melawan China menjadi 0‑4, menegaskan kesenjangan kualitas antara kedua negara di level ganda campuran.

Baca juga:

Secara keseluruhan, skuad Indonesia mengirimkan 16 wakil ke ajang ini, namun ganda campuran menjadi sektor yang paling mengecewakan. Data lengkap pertandingan menampilkan pola kegagalan yang konsisten: dua pasangan gugur di babak pertama, dua lainnya terhenti di babak kedua, tanpa satupun menembus semifinal.

  • Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti: 9‑21, 14‑21 vs Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran (Thailand)
  • Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil: 16‑21, 14‑21 vs Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan (Taiwan)
  • Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta: 21‑23, 22‑20, 10‑21 vs Kim Jae Hyeon/Jang Ha Jeong (Korea Selatan)
  • Amri Syahnawi/Nita Violina: 10‑21, 15‑21 vs Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (China)

Kegagalan ini memicu perdebatan di dalam PBBS tentang kebutuhan evaluasi menyeluruh terhadap program pembinaan ganda campuran. Para pengamat menilai bahwa kurangnya pengalaman internasional, persiapan taktik yang kurang matang, serta ketergantungan pada pola permainan yang belum cukup variatif menjadi faktor utama. Selain itu, perbedaan standar fisik dan kecepatan antara pemain Asia Timur (Korea, China, Jepang) dan pasangan Indonesia terlihat jelas dalam setiap laga.

Baca juga:

Melihat hasil ini, PBBS diperkirakan akan melakukan audit mendalam, mulai dari seleksi pemain, penempatan pelatih khusus ganda campuran, hingga peningkatan frekuensi turnamen persiapan internasional. Tujuannya adalah menutup kesenjangan dengan negara‑negara badminton kuat seperti Thailand, Korea Selatan, dan China, yang terus memperkuat kedalaman skuad mereka.

Kejuaraan Asia 2026 sekaligus menjadi panggung pembuktian bagi para pemain muda Indonesia. Meskipun hasilnya mengecewakan, pengalaman bertanding melawan unggulan dunia dapat menjadi modal penting untuk perbaikan di masa depan. Harapan kini beralih pada program pembinaan junior, serta penyesuaian strategi mental dan taktik, agar ganda campuran Indonesia kembali kompetitif pada edisi berikutnya.

Baca juga:

Dengan total hadiah US$550.000 dan sorotan media internasional, Kejuaraan Asia tetap menjadi ajang krusial bagi reputasi negara. Bagi Indonesia, kegagalan kali ini menjadi pelajaran berharga yang harus diubah menjadi langkah konkret untuk kembali menorehkan prestasi di level tertinggi bulu tangkis Asia.

Baca juga: