Liput – 04 April 2026 | Film Dilan ITB 1997 kembali menggebrak jagat perfilman Indonesia dengan mengangkat kisah Dilan setelah masa SMA, menelusuri jejaknya di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1997. Adaptasi terbaru ini didasarkan pada novel berjudul sama karya Pidi Baiq, yang memperluas perjalanan tokoh ikonik itu ke dunia perkuliahan, politik, dan asmara yang lebih kompleks. Dengan latar era Reformasi, film ini tidak hanya menampilkan kisah cinta, tetapi juga mengusung nuansa sosial‑politik yang memengaruhi karakter serta alur cerita.
Pengumuman resmi trailer pada 3 April 2026 oleh Falcon Pictures menampilkan durasi dua menit tiga puluh delapan detik yang memukau. Trailer tersebut menonjolkan visual kampus ITB yang dibalut dengan estetika hangat dan nostalgia tahun 1997, lengkap dengan pakaian, kendaraan, dan poster‑poster era itu. Dua versi poster yang dirilis secara bersamaan menegaskan strategi pemasaran unik: satu menampilkan Dilan bersama Ancika (Niken Anjani) yang memberi kesan segar dan energik, sementara versi kedua menonjolkan Dilan bersama Milea (Raline Shah) yang menekankan kedewasaan hubungan mereka.
Penampilan Ariel Noah sebagai Dilan versi dewasa menjadi sorotan utama. Sebagai penyanyi yang dikenal dengan suara khas, Ariel membawa aura baru pada karakter Dilan, yang kini berprofesi sebagai mahasiswa seni rupa. Reaksi publik terbagi; sebagian memuji keberanian casting, sementara yang lain menilai penampilan Ariel terlalu jauh dari citra Dilan SMA. Meskipun demikian, kehadiran Ariel berhasil menambah daya tarik film ini, terutama bagi penggemar musik Indonesia.
Kontroversi muncul ketika trailer menampilkan dialog “Terima kasih, Soeharto” di menit keempat belas. Kalimat tersebut ditafsirkan sebagian penonton sebagai penghormatan kepada Presiden kedua Indonesia, namun pembuat film menjelaskan bahwa ungkapan itu bersifat sarkastik, mencerminkan sikap kritis generasi muda terhadap rezim Soeharto pada masa itu. Perdebatan ini menambah buzz di media sosial, memperkuat ekspektasi penonton terhadap kedalaman tema politik yang diusung film.
- Latar Era Reformasi 1997: Film menempatkan Dilan dan kawan‑kawan dalam situasi demonstrasi dan perubahan sosial yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an. Konflik pribadi mereka terjalin dengan dinamika politik, memberikan dimensi baru pada alur cerita.
- Romansa Tiga Segitiga Cinta: Selain Dilan‑Milea, film memperkenalkan hubungan Dilan‑Ancika yang memberi warna segar. Kedua hubungan ini dipertaruhkan pada keputusan hidup, studi, dan aspirasi karier masing‑masing.
- Elemen Visual dan Musik: Soundtrack film menggabungkan lagu-lagu era 90‑an dengan sentuhan modern, sementara sinematografi menonjolkan detail kampus ITB, jalanan Bandung, serta mode pakaian tahun 1997.
Strategi promosi Falcon Pictures mencakup rilis dua teaser pada 15 dan 16 Maret 2026, masing‑masing berdurasi 32 detik, yang menyoroti aspek emosional yang berbeda. Kedua teaser berhasil menarik perhatian netizen, memperlihatkan keseimbangan antara drama romantis dan kritik sosial. Selain itu, penggunaan media sosial Instagram dan YouTube menjadi kanal utama distribusi teaser, memperluas jangkauan penonton muda yang menjadi target utama.
Jadwal penayangan film ditetapkan pada 30 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Prediksi analis industri memperkirakan Dilan ITB 1997 akan menjadi salah satu film terlaris tahun ini, mengingat basis penggemar yang kuat dari film‑film Dilan sebelumnya serta rasa ingin tahu publik terhadap penggambaran era reformasi.
Secara keseluruhan, Dilan ITB 1997 berhasil menggabungkan elemen nostalgia, konflik politik, dan dinamika asmara yang lebih dewasa. Film ini tidak hanya melanjutkan saga cinta Dilan, tetapi juga menawarkan cermin sosial yang mengajak penonton merenungkan masa lalu Indonesia sekaligus menikmati kisah romantis yang segar. Dengan kombinasi casting yang berani, visual yang memikat, serta dialog yang provokatif, film ini siap menjadi perbincangan hangat di kalangan penonton dan kritikus.
Penonton yang menantikan penayangan film ini disarankan untuk menyiapkan diri menyelami atmosfer tahun 1997, mengingat detail kostum, musik, serta referensi politik yang dibawa secara autentik. Dilan ITB 1997 menjanjikan pengalaman sinematik yang menggabungkan kenangan pribadi generasi 90‑an dengan perspektif modern, menjadikannya tontonan wajib bagi pecinta drama remaja, sejarah Indonesia, dan sinema lokal.